Wednesday, April 25, 2012

Manusia dan Setan ?


Pada awalnya manusia butuh makan. Setelah makan terpenuhi , dia butuh pendidikan dan pengetahuan. Kemudian butuh pekerjaan yang layak. Bila pekerjaan sudah didapat, penghasilan mengalir maka rasa keamanan financial tercapai. Pada moment ini orang ingin berumah tangga. Kebutuhan pendamping hidup dengan orang yang dicintai datang maka menikah adalah kebutuhan berikutnya. Setelah menikah, orang inginkan tempat tinggal.  Bila rumah sudah dimiliki maka selesailah proses kebutuhan itu dalam diri manusia. Maka selanjutnya yang terjadi , inilah yang paling bahaya. Apa itu ? Keinginan. Keinginan inilah yang menjadi musuh dahsyat dalam diri manusia. Ia merusak moral dan menelan jiwa, juga berpengaruh kepada kesehatan phisik manusia.  Banyak orang sehat tapi sebetulnya jiwanya sakit. Banyak orang nampak sehat wajah berminyak namun menyimpan penyakit raga dan terancam serangan jantung setiap saat. Semakin besar keinginan semakin besar resiko hidup dilaluinya. Inilah yang banyak orang tak menyadari.

Menurut saya  keinginan yang merusak itu adalah berupa aktualisasi diri. Atau lebih tegasnya menunjukan kepada siapapun bahwa akulah yang terbaik dan patut dihormati dengan segala apa yang aku dapatkan. Ya keinginan aktualisasi diri. Keinginan tidak hanya makan untuk kenyang tapi makan untuk suasana berkelas. Tidak hanya rumah untuk tempat tinggal tapi juga untuk lambang status. Tidak hanya pakaian bersih dan pantas dilihat tapi pakaian bermerek yang hanya dijangkau segelintir orang mempunyainya. Tidak hanya kendaraan yang nyaman untuk mobil tapi kendaraan yang ekslusif yang tak banyak orang memilikinya. Tidak hanya pekerjaan sebagai ibadah tapi pekerjaan yang memberikan kekuasaan dan kepuasaan diatas hak orang lain. Tidak hanya nama untuk dikenal orang tapi nama yang bisa membuat orang hormat. Semuanya bermuara karena sikap sombong.

Keinginan itu diawali ketika mata kita melihat dan menyaksikan etalage kepongahan hidup yang dipertontonkan setiap hari, setiap tempat.  Bukan hanya mata tapi juga telinga kita mendengar tentang segala hal yang membuat keinginan kita semakin membuncah. Ketika tidur terbawa mimpi dan ketika bangun meradang melakukan apa saja agar impian menjadi kenyataan. Bila keinginan terpenuhi maka keinginan baru akan datang dan datang lagi. Benarlah kata orang bijak bahwa tak akan bisa melawan keinginan bila sudah menguasai jiwa. Teori kejiwaan , terapi mental dari para ahli psikis tidak akan mampu melawan dorongan keinginan ini. Sebelum jatuhnya Lehman Brother , era kejayaan wallstreet, para ahli berhasil merekam otak manusia untuk mengetahui arti keinginan itu. Tertanyata , ketika orang mengkonsumsi candu  ( kokain/morfin ) pengaruh otaknya sama ketika orang berhasil mendapatkan laba / uang.  Benarlah, bahwa keinginan itu adalah candu. Tak bisa dilawan dengan pengetahuan manusia yang terbatas.

Lantas bagaimana caranya menghadapi dan akhirnya mampu mengendalikan dorongan keinginan ini? Ketika perang Badar usai.  Kaum muslimin berpesta akan kemenangan itu walau korban tidak sedikit dengan menghadapi jumlah kekuatan kafir juga tidak sedikit. Kemenangan datang berkat pertolongan Allah. Tapi bagi Rasul, perang Badar bukan perang besar. Perang besar adalah perang melawan hawa nafsu yang ada dalam diri manusia. Ini perang akbar yang tak ada habisnya selagi hayat dikandung badan. Karena Nafsu itulah yang menjadi pemicu akan keinginan yang tak terpuaskan. Nafsu itulah yang menjadi tunggangan setan untuk merusak kesempurnan iman manusia. Ini sudah dibuktikan oleh Setan kepada Bapak Adam, yang tergoda memakan buah terlarang walau telah diberi kebutuhan kemewahan melimpah didalam sorga. Lewat analogi keinginan itulah setan menggiring akal Adam untuk melawan larangan Allah.

Ketika kemarin Jumat ,saya ikut sholat di Mesjid Kow Loon, ada pesan dari penceramah yang membuat saya tercerahkan seketika akan sesuatu yang selama ini tak bisa saya dapatkan jawaban. Bahwa secara akal dan materi kita tidak akan mampu melawan Setan. Tidak akan mampu!. Karena secara materi dan pengetahuan , setan lebih sempurna penciptaannya dibandingkan manusia. Mengapa ? setan bisa melewati ruang waktu untuk mendapat pengetahun sementara manusia terkungkung dengan ruang waktu. Setan diberi hak sangat luas oleh Allah untuk mempermainkan eksistensi manusia. Sementara , Manusia diberi keterbatasan untuk melawan setan secara langsung. Jadi bagaimana cara menghadapinya ? Satu satunya yang ditakuti oleh Setan adalah Allah. Maka dekatlah kepada Allah. Karena bila kita dekat kepada Allah maka Setan akan menjauh dengan sendirinya.. Dengan demikian tentu kita terlepas dari permainan setan yang menunggangi nafsu kita yang  membuat kita kecanduan dunia.

Segala larangan Allah dan segala perintah Allah yang termuat didalam Al Quran , diteladankan oleh Rasul tak lain bentuk kasih sayang Allah kepada manusia agar manusia mampu menghadapi setan. Semakin bertaqwa seseorang semakin dekat dia kepada Allah dan tentu semakin menjauh setan dari dirinya (An Nahl : 99, 100]. Maka ketika nikmat datang berlebih yang dia lakukan adalah berbagi kepada mereka yang kurang. Ketika keinginannya mendesak dia istighfar zikir siang dan malam. Ketika dia dalam kekurangan , sabar dan sholat adalah penolongnya. Baik dan buruk disikapinya dengan ikhlas hanya untuk beribadah kepada Allah. Dan  selamatlah manusia itu dalam melewati drama kehidupannya di dunia ini untuk kembali dalam keadaan sempurna sebagaimana esensi penciptaannya, sebagai bayang bayang Allah…

Thursday, April 19, 2012

Kodok dan Manusia


Kemarin waktu makan malam dengan teman , dia mengutarakan sebuah kisah dan menurut saya tepatnya adalah sebuah analogi tentang kearifan. Anda tahu apa itu kodok ? tanyanya. Saya hanya tersenyum. Menurutnya kodok itu jenis binatang yang sangat sombong. Bila mereka berkumpul maka masing masing akan mengeluarkan suara. Mereka akan berlomba lomba berteriak paling keras. Terkesan bertautan. Mungkin yang dikatakan masing masing kodok itu adalah dialah yang terbaik dan terbesar diatara lainnya. Saya tertawa. Menurutnya benar adanya begitu. Buktinya lambat laun kodok yang berukuran kecil akan pergi berlalu dari kerumunan itu. Suaranya tak terdengar lagi. Yang tersisa hanyalah kodok yang berukuran besar. Bila tersisa hanya dua kodok maka kodok itu akan bertarung untuk menentukan siapa yang paling kuat.  Anehnya setiap pertarungan terjadi, tidak pernah ada yang menang. Dua duanya kalah. Karena keduanya saling memakan kaki lawannya. Bayangin aja kalau kodok tak ada kaki maka dia tidak bisa melompat dan tak bisa mencari mangsa dan mudah dimangsa predator.

Begitulah Tuhan menciptakan binatang sebagai contoh dan pembelajaran kepada manusia. Sejarah memang mencatat buram tentang manusia yang tak ubahnya sepeti kodok. Ribuan  tahun manusia selalu bertikai untuk menjadi penguasa terhadap lainnya Setiap pertikaian memakan korban mati tak terbilang. Setiap kemenangan yang didapat dari kesombongan selalu dibangun diatas ilusi, keserakahan, fitnah, penindasan dan kemunafikan. Segala sifat buruk dengan iblis sebagai mentor terbentuk begitu saja. Sehingga manusia tak ubahnya binatang dan menjauh dari sifat ilahiah yang mengutamakan kasih sayang dan cinta. Kedamaian menjadi mahal. Kehidupan menjadi kelam. Yang miskin meradang dendam kepada sikaya. Sikaya ketakutan jatuh miskin. Penguasa kawatir jatuh dari singgasana. Rasa malu terhalau dan kemanusiaan menjadi komoditi. Tidak ada lagi keiklasan.

Teman saya mengulang ungkapan kearifan bahwa bila kita menghadapi kesombongan maka jangan dilawan. Karena tidak ada gunanya. Tanpa dilawanpun mereka akan mati dengan sendirinya. Lebih baik menghindar dan menonton proses kehancuran dirinya. Lihatlah sejarah,para pemimpin dan penguasa yang sombong hancur dengan sendirinya. Lihatlah AS, tidak ada tentara berlapis dan pesawat tempur menghantam AS tapi karena kesombongan mereka sendiri membuat mereka menjadi manusia terendah didunia, seperti layak Negara kalah perang. Apakah ada yang lebih rendah dibanding penerima hutang? Kata teman saya. Saya maklum adanya karena dalam Islam orang terlilit hutang memang pantas di zakati karena dia lemah. Begitulah kenyataannya kini bagi AS yang tadinya begitu sombong namun akhirnya menjadi pengemis kepada Negara lain dan dibicarakan oleh setiap lembaga keuangan international sambil mencibir betapa brengseknya Negara itu dikelola.

BIla kerumunan manusia bertarung untuk mengatakan dialah yang paling hebat dan dapat dipercaya, maka yang merasa kecil dan orang baik akan pergi menjauh dari kerumunan itu. Kalau dia tidak pergi menjauh maka dia lebih bodoh dari Kodok.  Kata teman saya itu. Saya tertawa mendengar analogi ini.  Bagaimana dengan sytem demokrasi yang menang yang berkuasa ? Tanya saya. Menurutnya itulah yang konyol dari system demokrasi yang kini banyak  digandrungi oleh masyarakat modern. Bila Pemilu digelar maka satu sama lain bertarung untuk mengatakan dialah yang paling baik dan yang lain jelek. BIla ternyata menang dalam Pemilu , pertarungan tidak selesai begitu saja. Akan ada putaran berikutnya pertarungan di Parlemen. Satu sama lain terus bertikai sehingga tida ada yang menang. Yang memimpin tak bisa bergerak karena terus diganggu oleh yang kalah. Yang kalah tidak pernah aman karena terus terancam oleh rekayasa pengadilan ala penguasa.

Siapapun dia, akan hancur dengan sendirinya bila membuka diri dengan kesombongannya untuk menjatuhkan pihak lain.  Itu sebabnya Nabi dengan wanti wanti mengingatkan bahwa mencari kekuasaan itu adalah penderitaan diakhirat kelak. BIla niat untuk tampil sebagai pemenang maka pada waktu bersamaan niat mengalahkan orang lain juga ada. Pada momen itulah segala cara dihalalkan atau dalam kata lain disebut  strategi dan taktik untuk meraih kemenangan. Padahal yang dimaksud taktik dan strategi itu tak lain bermain main dengan Allah, seakan Allah itu mudah dipermainkan. Padahal Allah itu tidak tidur dan Allah maha mengetahui atas apa yang tersembunyi. Pada akhirnya sebuah perjuangan bukanlah diukur dari hasil yang dicapai tapi proses mencapai kemenangan itulah yang jadi ukuran , walaupun hasilnya tidak sesuai dengan keinginan. Bila prosesnya benar menurut Allah maka rahmat Allah akan sampai: Semuanya akan menjadi mudah dan lapang dalam situasi apapun. 

Saturday, April 14, 2012

Manusia kuat...


Saya teringat dengan kakek saya almarhum. Dulu ketika saya masih kecil acap diajak oleh kakek saya pergi berdagang. Kakek saya pedagang yang ulet namun sekeras itu dia berusaha mendapatkan rezeki Allah namun harta berlebih tak kunjung dia dapat. Kadang usahanya mulai bangkit namun entah kenapa ada saja penyebab hingga usahanya bangkrut. Kakek saya tak pernah sungkan bila harus memulai dari nol. Walau dia harus berdagang kaki lima dengan modal ala kadarnya. Wajahnya tetap cerah. Semangatnya tetap menyala nyala. Tak pernah sedikitpun dia mengeluh dengan keadaannya dan juga tak pernah terdengar sedikitpun dia menyalahkan orang lain yang membuat dia bangkrut. Pernah kakek kena penyakit paru paru yang akut. Badannya mulai kurus dan kalau batuk sampai mengeluarkan darah tapi tak nampak sedikitpun diwajahnya resah atau mengeluh karena penyakitnya. Tak pernah. Tak berharta, penyakit datang, kakek tetaplah pribadi yang tegar.

Ketika saya SMA,saya sempat tanyakan hal ini kepada kakek, dan ini tak pernah hilang dari ingatan saya. Kakek berkata kepada saya bahwa selemah lemahnya manusia bila dia berkeluh kesah. Dan lebih lemah lagi apabila dengan keadaannya yang tak susuai dengan keinginannya dia mulai menyalahkan siapapun. Bila sakit mendera, kadang dia minta agar ajalnya segera dijemput oleh Allah. Bila usahanya tak pernah kunjung berhasil maka dia bersegera mengentikan langkahnya. Manusia seperti ini sangat lemah dan teramat lamah. Mereka harus disayangi. Bila mereka datang padamu berkeluh kesah , ingatkan kepada mereka makna sabar agar mereka sadar untuk menjadi manusia kuat. Mengapa begitu ? karena memang sudah fitrah manusia yang gemar berkeluh kesah ini. Ingatlah firman Allah. Sesungguhynya manusia diciptakan bersifat keluh-kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah. Dan apabila ia mendapat kebaikan (keuntungan) ia amat kikir. (QS. Al-Ma’aarij:19-21).

Lantas bagaimana agar hidup tidak berkeluh kesah dan tampil menjadi manusia yang kuat ? yang pertama adalah bersikaplah sabar. Makna sabar dalam hal ini sebagai ujud keimanan kepada Allah bahwa segala sesuatu itu datang dari Allah dan tidak ada yang sia sia. Tentu Allah lebih tahu mengapa usaha belum berhasil. Tentu Allah lebih tahu mengapa penyakit datang dan tak sembuh sembuh. Kesabaran kita menerima itu adalah puncak keimanan kita yang tak pernah henti berprasangka baik kepada Allah. Bahwa Allah selalu berniat baik dibalik prahara yang menimpa kita. Dengan keimanan dalam bentuk sabar maka akan melahirkan kesadaran pada diri kita bahwa pada akhirnya kita hidup hanyalah menjalankan scenario Allah. Untuk sampai pada titik puncak keimanan tak tertandingi yaitu Ikhlas.

Yang kedua adalah Istiqamah. Ditanamkan didalam kalbu dan dilaksanakan dalam langkah dan perbuatan bahwa keimanan kita tak akan goyah untuk hanya mencari ridho Allah. Biarkan baik dan buruk bersanding. Biarkan badai dan gelombang datang silih berganti. Biarkan orang lain menghina kita. Biarkan orang lain mengucilkan kita. Biarkan semua terjadi. Asalkan kehadiran Allah tak pernah surut didalam kalbu. Langkah tetap diayunkan. Sehingga gelombag akan menjadi ayunan yang mentramkan. Badai akan menjadi irama kehidupan. Kegagalan dirasa bagaikan bait bait cinta Allah. Penyakit datang , terasa bisikan cinta dari Allah. Kita tak tergoyahkan oleh situasi dan kondisi apapun. Karena pada akhirnya kehidupan ini bukanlah apa yang kita dapat tapi apa yang kita berikan kepada Allah , yang memang kita tidak berhak apapun terhadap kehidupan ini kecuali Allah. Ketika Allah meminta sabar kepada kita maka pada waktu bersamaan Allah akan memberikan rasa syukur.

Hanya dua syarat itulah yang membuat kita kokoh. Kata kakek saya. Namun kedua hal itu mungkin mudah dipahami. Mudah. Tapi menjadi sebuah keyakinan dan dilaksanakan, tidaklah mudah. Bagaimana agar mudah ? Al Quran ada solusinya " Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) salat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk. (Al Baqarah [2] : 45). Sholat adalah bentuk dialogh agung antara manusia dengan Ciptaanya. Bentuk tali kasih yang tak bertepi antara makhluk dengan Allah. Pada sholat itulah getaran keimanan mengalir kedalam tubuh kita dan merasuk kedalam jiwa kita untuk kita menjadi sabar dan sadar. Tentu pula tak akan pernah terdengar berkeluh kesah menyalahkan nasip dan orang lain, apalagi berhenti melangkah melewati proses sunatullah mengasah keimanan untuk mencapai kesempurnaan. 
***
Nasehat kakek saya itu sampai kini menjadi pencerah saya ditengah kehidupan yang kadang tak bersahabat antara keinginan dan kebutuhan.

Friday, April 06, 2012

Inflasi?...


Yang paling ditakuti namun tak bisa dihindari adalah inflasi. Demikian konsep ekonomi secular berbicara diatas tesis ekonomi untuk pertumbuhan. Itulah yang dikatakan teman saya ketika adanya isu akan ada kenaikan harga BBM bersubdisi dalam waktu dekat ini. Berapa naiknya? Tidak tahu pasti. Karena berdasarkan pasal 7 ayat 6a APBN-P 2012, pemerintah memang berhak menaikan harga minyak berdasarkan kondisi pasar minyak. Sebagian besar elite politik yang mendukung kenaikan harga BBM selalu beralasan bahwa subsidi hanya dinikmati oleh orang kaya saja. Dan lagi subsidi yang sekian triliun itu hanya dibakar tanpa ada value sama sekali bagi kesejahteraan rakyat. Sesuai Iklan Menko Perekonomian di Televisi, alangkah baiknya bila subsidi itu digunakan oleh menambah pos pembiayaan pro rakyat.  Lantas apa hubungannya dengan teori tentang inflasi ? tanya saya.

Tahukah kamu, kata teman saya,bahwa apapun dalihnya , bagaimanapun inflasi itu adalah perampokan uang publik secara system lewat kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah. Tanpa disadari oleh siapapun uang dikantongnya dicopet oleh tuyul bernama pemerintah. Ini disadari oleh pengambil kebijakan dan mereka menyebut pengorbanan untuk sebuah pertumbuhan ekonomi untuk tomorrow but tomorrow never come .Yang ada adalah uang semakin terpenggal seiring semakin menuanya umur republic ini. Inilah faktanya. Hitunglah berapa persen kenaikan harga sejak era Soeharto sampai Era SBY. Anda tidak akan percaya bahwa semakin tahun kantong kita semakin terkuras yang ditandai harga bergerak lebih cepat ketimbang penghasilan tetap kita. Pemerintah boleh saja bicara tentang angka statistik tapi itu semua dusta diatas angka yang njelimet untuk meyakinkan kita agar menerima kenyataan dan jangan marah kalau dicopet..

Harap diketahui bahwa inflasi itu bagaikan tamu yang tanpa disengaja memang diundang datang namun kehadirannya membuat pemilik rumah resah. Betapa tidak ? ketika harga naik, inflasi terhitung sekian persen dan setelah itu tak pernah lagi terkoreksi kebawah. Dia akan menjadi bagian dari harga yang melekat erat. Mungkin beberapa periode pemerintah bisa mengelola inflasi tapi tidak pernah bisa membuat harga turun. Mana ada harga barang jatuh dipasar bebas?. Sekali naik lupa turun. Sama dengan kelakuan pejabat, sekali naik lupa turun dan lupa janji. Makanya perlu administration price (subsidi) agar harga bisa diatur. Itu sebabnya  perlunya kearifan dalam menyusun APBN yang tidak hanya melihat angka asumsi economic growth  tapi juga melihat kedalam mikro socio masyarakat.Bukankah masyarakat tidak semua sama kemampuannya dan masing masing punya variable untuk mereka berkembang dan juga terjatuh.

Inflasi itu bagian dari siasat pemerintah untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi agar terciptanya lapangan pekerjaan melalui produksi. Tidak mungkin ada pertumbuhan ekonomi tanpa inflasi, katanya. Tapi deplasi seperti di Jepang memang lebih sulit diatasi ketimbang inflasi, kata saya menimpali. Ya itulah dilema dalam system ekonomi sekular yang tumbuh karena rekayasa bukan alamiah. Lantas kalau memang begitu siasat perlunya inflasi, mengapa menjadi hal yang menakutkan ? Menurutnya karena pembangunan itu tidak seperti orang makan cabe, yang langsung bisa dirasakan pedasnya. Menurut saya yang awam, kebijakan inflasi hanyalah teori yang menjanjikan kebaikan tapi prakteknya tidak semudah itu. Masyarakat tidak semuanya mampu mengikuti trend inflasi, apalagi mendapatkan manfaat dari peluang adanya inflasi.Yang pintar dan kuat tentu akan menjadikan inflasi sebagai stimulate  berproduksi namun yang lainnya malah terjebak dalam lingkaran ekonomi yang hanya mampu berkonsumsi. Kalau ini yang terjadi maka inflasi memang hantu dan setan yang hanya memberikan kesengsaraan bagi yang lemah berproduksi. Kata saya menyimpulkan.

Inflasi tidak perlu ditakuti ,kata teman saya, asalkan APBN dirancang untuk memberikan kanal seluas mungkin masyarakat untuk ber produksi. Kunci produksi adalah pertama, tersedianya infrastruktur ekonomi yang solid dan efisien disemua sector secara meluas dan kedua, kepastian hukum yang menjamin keadilan berkompetisi dan akses untuk berproduksi. Kedua hal inilah yang paling sulit di provide oleh pemerintah kita.Karena APBN kita terjebak dengan hutang (Riba ) yang tak bisa ditunda dan dikurangi. Hukum yang amburadul dengan maraknya  korupsi sistematis yang menggrogoti APBN dan melemahkan fundamental APBN untuk fungsi sosialnya bagi kesejateraan rakyat. Siapapun yang jadi pemimpin kelak tetap akan menghadapi masalah yang sama kecuali ada keberanian untuk me-restruktur APBN lewat perubahan system. Mungkinkah ?

Sunday, April 01, 2012

Free to choose


Milton Friedman tahu précis bagaimana melahirkan pemikiran yang langsung menjadi kitab mulia terbaik diplanet bumi, dipuja oleh orang. Karena dia memberikan analogi précis seperti iblis meyakinkan Adam untuk memakan buah terlarang. Konsep free to choose memang ampuh membuat manusia lupa penciptanya. Kalau Kitab Mulia yang diturunkan oleh Allah melalui para Nabi masih banyak diperdebatkan tafsirnya, hingga menimbulkan berbagai mahzab namun Free to choose menjadi inpirasi para intelektual sekular untuk sepakat dalam isme baru itu. Para orang  pinter terdidik di kampus terbaik di AS, merasa sangat bangga untuk menyebut diri mereka sebagai creator dunia baru. Mereka tampil sebagai pencerah para pemimpin di lima benua. Advice mereka menjadi sami’na waatakna bagi Budiono ketika dia menjadi Menteri Keuangan untuk mengganti LOI IMF dalam bentuk Structure Adjustment Program (SAP). Dengan demikian, program penghapusan subsidi, privatisasi layananan publik harus terlaksana secara efektif. Target SAP semua itu harus selesai pada tahun 2015. Negara harus keluar dari fungsi sosialnya melindungi rakyat yang lemah dari kekuatan pasar.

Milton Friedman, memang dikenal seorang orator yang baik dan negosiator yang handal. Ketika China membuka diri di Era Deng, Friedman tampil memukau dihadapan elite yang kelak menjadi mentor dan creator  tampilnya china sebagai kekuatan ekonomi nomor dua didunia. Pada China , Friedman berhasil mengiring Negara komunis yang otoriter , kaku, sok paling benar , menjadi emansipasif terhadap rakyat yang berjumlah diatas 1 miliar itu. Mungkin china suka akan Friedman dalam kerangka teoritis bagaimana membangun emansipasi aktif rakyat dalam berproduksi tapi tidak menjadikan free to choose sebagai isme Negara. Yang pasti disatu sisi Free to chose memang berhasil memberikan inspirasi bagi elite partai komunis bagaimana membangkitkan potensi terpendam rakyat China untuk menjadi locomotive pertumbuhan ekonomi lewat produksi dan pasar. Untuk itu Friedman, boleh berbangga sebagaimana bangganya sebagai peraih hadiah nobel bidang ekonomi science.

Tapi tidak begitu yang dialami Eropa, dan para Negara follower Friedman. Bahkan juga di AS dimana Friedman dibesarkan dan berkiprah bak celebratis dipanggung kampus terbaik. Kebebasan pasar yang tak boleh disentuh oleh Negara, telah membuat AS, Eropa dan lainnya meradang dalam berbagai krisis ekonomi. Namun tak ada satupun para ekonom berani menyalahkan Friedman. Mereka mulai berdalih dengan berbagai tesis yang tetap membenarkan Friedman. George Soros menyebut Friedman sebagai bapak  fundamentalisme pasar; Paul Krugman menamakannya absolutisme laissez faire. Namun Amartya Sen dalam tulisannya di The New York Review of Books bertanggal 26 Maret 2009 tak memberi nama apa pun. Tapi ia menyebut kesalahan Friedman yang tak bisa dengan jelas membedakan keniscayaan (necessity) pasar dari keserbacukupan (sufficiency) pasar. Sen, berani berbeda pendapat karena dia melihat pasar tak selalu ada bandrol dan di etalage.

Bagi Sen, di tiap pasar selalu ada yang bukan-pasar dan itu dibutuhkan. Sen menunjukkan bahwa para penerus Adam Smith, pemikir yang sering disebut sebagai bapak paham kapitalisme itu, telah keliru bukan karena sang bapak salah. Mereka keliru karena Smith, dalam bukunya yang pertama, The Theory of Moral Sentiment, bukan orang yang menganggap kehidupan bersama adalah sesuatu yang hanya dibentuk oleh Pasar, oleh kepentingan diri dan motif mencari untung. Smith, sebagaimana dikutip Sen, juga berbicara tentang perlunya perikemanusiaan, keadilan, kedermawanan, dan semangat kebersamaan. Dan itu adalah sifat-sifat yang tak menentang Pasar. Mereka justru diperlukan Pasar agar berjalan beres. Sebagaimana dicatat oleh sejarah, menurut Sen, kapitalisme tak muncul sebelum ada sistem hukum dan praktek ekonomi yang menjaga hak milik dan memungkinkan berjalannya perekonomian yang berdasarkan kepemilikan.

Albert Hirschman mengatakan hal itu dalam esainya, Against Parsimony: Three Easy Ways of Complicating Some Categories of Economic Discours: ketika kapitalisme bisa meyakinkan setiap orang bahwa ia dapat mengabaikan moralitas dan semangat bermasyarakat, public spirit, dan hanya mengandalkan gairah mengejar kepentingan diri, sistem itu akan menggerogoti vitalitasnya sendiri. Sebab vitalitas itu berangkat dari sikap menghormati norma-norma moral tertentu, sikap yang katanya tak diakui dan dianggap penting oleh ideologi resmi kapitalisme. Kini memang terbukti: Pasar yang hanya mengakui bahwa rakus itu bagus seperti yang dikumandangkan oleh risalah macam The Virtue of Greed dan In Defense of Greed pada akhirnya terguncang oleh skandal Enron, Madoff, Lehman Brothers. Kepercayaan runtuh, orang ramai kembali datang ke Lembaga Negara , bahwa tidak ada free of choose tanpa kearifan!.

Benar bahwa keberadaan institutional bernama Negara tidak sepenuhnya bisa mengendalikan prinsip moral itu tapi bukan berarti Negara dan rakyat terpisah. Ada perekat antara Negara disana dan rakyat disini. Yaitu agama. Makanya kebutuhan agama dalam  lembaga Negara sangat penting untuk mengatur apa yang tersembunyi dalam diri manusia , agar fitrah manusia yang free to choose bisa diarahkan kepada kebenaran, kebaikan dan keadilan…Ya dalam bahasa romantis bahwa agama berkata, Negara memakai. Sami’na waatakna hanya kepada Agama, karena disitulah Allah bertitah untuk cinta dan kasih sayang , untuk lahirnya kesejahteraan bagi semua, ya kan Pak Budiono...

Wahyu dan Zaman

  Wahyu yang selama ini dikenal dan dipahami oleh umat Islam berbeda dengan fakta dan klaim sejarah. Karena wahyu yang absolute hanya saat w...