Saturday, October 27, 2007

Ashaff

Seandainya beton itu tidak bercampur pasir, semen , batu, kerikil , besi maka tidak akan bernama beton. Tidak akan mungkin menjadi sesuatu yang kokoh menopang beban berat dan menjadi penyangga bangunan. Juga, Garam laut (NaCL) atau natrium clorida. Terdiri dari dua unsure Natrium dan Clorida. Bila dua unsur ini dipisahkan maka Natrium dan clor akan menjadi gas mulia yang berbahaya bagi manusia. Tapi bila mereka bergabung maka tidak nikmat makanan tanpa garam. Yang menarik adalah bagaimana dua unsure gas mulia ini bersatu. Kedua duanya saling membatu atom agar ikatan mereka menjadi stabil dan kokoh. Natrium (2,8,1) memiliki satu elektron lebih banyak dibandingkan struktur gas mulia (2,8). Jika natrium tersebut memberikan kelebihan elektron tersebut maka natrium akan menjadi lebih stabil. Klor (2,8,7) memiliki satu elektron lebih sedikit dibandingkan struktur gas mulia (2,8,8). Jika klor tersebut memperoleh satu elektron dari tempat yang lain maka klor juga akan menjadi lebih stabil. Jadi jika atom natrium memberikan satu electron ke atom klor , maka keduanya akan menjadi stabil. Disnilah indahnya allah menciptakan tatanan kehidupan dimana perbedaan itu untuk saling melengkapi dan kokoh.

Makna diatas adalah hokum alam dari sang pencipta. Bagaimana Allah mengatur kesatuan dan persatuan unsur atom agar tercipta keseimbangan sehingga dapat berfungsi dialam semesta. Secara fitrah kehidupan ini memang mengharuskan setiap makhluk untuk bersatu padu walau berbeda untuk mencapai tujuannya. Persatuan dan kesatuan ini hanya mungkin dapat dilaksanakan apabila ada disiplin didalamnya. Seperti Lebah yang mempunyai system komando yang jelas antara lebah pekerja, lebah pejantan dan lebah ratu ( pemimpin ). Sementara untuk manusia ALlah tidak memberikan system melekat didalam diri secara otomatis untuk bersatu. Namun Allah memberikan Akal dan Alquran serta Rasul sebagai manual operation dan tutor untuk kita dapat bersatu dan menjadi pemimpin di Bumi.

Dalam islam ditegaskan oleh firman Allah tentang pentingnya kekuatan dalam persatuan dan kesatuan ini dalam istilah barisan yang kokoh ( As shaff). Pada suatu hari seorang sahabat bertanya kepada Rasul tentang perbuatan yang paling bernilai dihadapan Allah. Kemudian Allah menurunkan surat Al- Ashaff (61):4 “ Sesungguhnya Allah SWT menyukai orang orang yang berperang dijalan Nya dalam barisan yang teratur seakan akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh. Penjelasan lebih lanjut tentang barisan yang rapat dan kuat itu dapat dibaca dalam permulaan surat Al Shaff 37:1-3): “Demi ( rombongan) yang bershaf-shaf dengan sebenar benarnya,. Demi (rombongan) yang melarang dengan sebenar benarnya perbuatan dosa. Dan demi ( rombongan) yang membacakan pelajaran “.

Kekuatan barisan ini dapat terjelma apabila didukung oleh tiga unsur yaitu pertama kekompakan yang membuat kita sangat solid. Kedua , oritentasi ketuhanan( tauhid) yang membuat kita hanya tunduk dan patuh kepada Allah dan ketiga , komitment kepada kebenaran yang membuat kita selalu menyeru dan berpihak kepada kebaikan dan kemaslahatan umat. Ketiga unsur ini hanya mungkin berjalan apabila ada sikap disiplin. Islam mengajarkan latihan disiplin dalam ritual sholat berjamaah dan tepat waktu. Syekh Mushthafa Al-Maraghi seorang ahli tafsir mengatakan bahwa pengertian Shaff itu sendiri bermakna disiplin yang tertuang dalam sikap istiqamah ( konsisten ) dalam visi dan misinya..

Displin menjaga persatuan dan kesatuan adalah kunci sukses menjadi pemenang. Itulah sebabnya Rasul pernah mengingatkan kaum muslimin agar disiplin “ Sebaik bainya amalan ( ibadah ) adalah amal yang dilakukan dengan disiplin tinggi meskipun itu kecil” makanya kita dianjurkan untuk belajar dari lebah dan barisan malaikat sebagaimana hadith nai “ rapat dan kuat” Tanpa disiplin yang tinggi mempertahan barisan yang kuat maka selama itupula kita tidak akan pernah menjadi subject ( fa’ih) tetapi selamanya akan menjadi object penderita ( maf’ah) seperti yang sekarang terjadi setelah era reformasi . Dimana kekuatan dalam kesatuan melalui system multi partai sangat renta dipecah belah oleh kekuatan luar dan sikap disiplin terkikis oleh budaya luar melalui kebebasan media massa yang meracuni semangat kerja keras dan kebersamaan.. Makanya tidak aneh bila kita menjadi bulan bulanan oleh kekuatan asing. Kitapun menangis lapar ditengah pesta pora pihak asing yang berdansa dirumah kita sendiri. wallahualam.

Monday, October 22, 2007

Kebijakan Ekonomi ?

Dipesawat saya bertemu dengan orang asing yang hendak ke Hong Kong. Orang asing ini berasal dari Eropa. Punya business di Indonesia yang dirintisnya sejak 5 tahun lalu. Ketika saya tanya pendapatnya tentang perkembangan usahanya, dia menjawab bahwa business di Indonesia sangat menguntungkan. Indonesia merupakan pasar empuk untuk produk impor. Daya konsumsi masyarakat Indonesia diatas rata rata bangsa manapun. Saya tidak tanya apa usahanya di Indonesia. Namun saya dapat menyimpulkan bahwa yang dimaksudnya dengan “masyakarakat Indonesia “ itu adalah kelompok orang kaya baru yang umumnya berada di Kota kota besar di Indonesia.

Hampir semua merek terkenal didunia ada dietalage di Mall Mall yang tumbuh bagai jamur dimusin hujan. Juga hampir semua makanan cepat saja saji dari luar negeri bertebaran dibanyak Mal dan selalu ramai dikunjungi oleh pembeli. Juga apartement mewah terus dibangun seakan tidak pernah kehabisan konsumen. Itulah mungkin gambaran potensi business yang dimanfaatkan oleh orang asing. Ya, memang orang asing lebih pandai memanfaatkan peluang daripada pemain local. Globalisasi mendulang untung bagi orang asing yang mampu memanfaatkan setiap kesempatan yang ada walau itu didapat dinegeri kita yang 90% dijerat oleh kemiskinan..

Hal tersebut memang merupakan penomena dalam system ekonomi negara kita. Karena laju pertumbuhan ekonomi memang dipacu melalui konsumsi. Sementara daya pemicu pertumbuhan dari ekport dan sector riel memang tidak bisa diandalkan. Banyak industri local yang tumbang karena alasan kalah bersaing dengan product dari china , lemahnya dukungan pembiayaan dari perbankan. Keliatannya department keuangan dan BI ikut mendorong terjadi pertumbuhan melalui konsumsi ini. Berdasarkan data bahwa konsumsi 10 persen rumah tangga terkaya (yang umumnya lebih banyak bermotifkan gaya hidup) terhadap total konsumsi nasional mencapai sekitar 30 persen. Ini menunjukkan perilaku konsumtif kelompok kaya juga menjadi penyumbang penting pertumbuhan. Sebagai perbandingan, kontribusi konsumsi 10 persen penduduk termiskin hanya 3,6 persen dari total konsumsi nasional

Bila ini dikemukakan kepada pemerintah maka jawabannya tidak akan memuaskan karena sebetulnya ekonomi kita terjebak dalam system neoliberal. Konsep ekonomi neoliberal , suka tidak suka sudah menjadi bagian yang tak bisa dihindari oleh pemerintah. Dimana ketimpangan redistribusi pendapatan memang harus diciptakan agar dapat menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang berkesinambungan. Dan ini pada gilirannya akan memberikan multiflier effect untuk mengurangi kesenjangan dan sekaligus menciptakan pemerataan. Atau istilah ekstrimnya kebijakan ini tidak mempercayai masyarakat miskin memperoleh redirstrinbusi pendapatan negara ( via subsidi barang/jasa ) yang dinilai hanyalah pemborosan. Pendapatan seperti suku bunga tabungan tinggi, facilitas pasar uang ,konsesi business , reduce tax policy itu harus diredistribusikan kepada orang kaya agar mereka mau melakukan kegiatan menabung dan investasi.

Tapi kenyataannya , keberhasilan makro ekonomi kita yang berpatokan dengan indicator pertumbuhan ekonomi yang tinggi, index pasar modal yang tinggi, konsolidasi fiscal yang mantap, tidak diikuti oleh keberhasilan disisi mikro seperti ; perbaikan indicator angka pengangguran dan tingkat kemiskinan. Perkembangan sector meneter tidak secara otomatis mencerminkan perkembangan sector riil. Bahkan tidak ada kaitan langsung antara sector riel dengan sector moneter. Pertumbuhan yang digambarkan hanya menghasilkan inflasi, penggelembungan nilai asset, semakin menyebarkan kemiskinan, semakin luasnya kesenjangan, serta menyerahkan natural resource kepada pemilik modal asing.

Dalam Islam , dimana produksi adalah menghasilkan manfaat guna tanpa ada nilai virtual /life style /branded menyertainya, yang akan dibayar oleh masyarakat sesuai dengan asas manfaat pula. Uang bukan alat komoditi tapi alat tukar yang adil. Asset bukan alat untuk meningkatkan nilai investasi tapi lebih kepada nilai manfaat. Pemupukan asset tanpa didasarkan nilai manfaat adalah mubazir atau haram. Bank tidak dibenarkan mendapatkan laba dari memanfaatkan kelemahan orang lain atas ketidak pastian masa depan. Masa depan harus menjadi beban bersama untuk dikelola dengan ikhlas atas segala ketidak pastian yang muncul. Penghasilan yang tidak bersumber dari proses beriktiar /bersyariat /kerja seperti bunga, judi/spekulasi adalah tidak dibenarkan. Akibatnya memaksa dana masuk dalam kegiatan investari riil yang akan memberikan kesempatan lapangan kerja serta usaha.. Pendapatan negara tidak melalui pajak tapi melalui zakat yang merupakan unsur penilaian yang adil terhadap nilai kekayaan ( bukan penghasilan ) dan suka rela melalui impaq, sadaqah atas dasar kasih sayang terhadap sesama.

Singkatnya dalam konsep ekonomi Islam, manusia bukan hanya sebagai objek social tapi dia juga sebagai object religius yang dinyatakan sebagai rahmatan lilamin. Inilah yang tidak pernah ada dalam system ekonomi social, kapitalis, komunis.. Yang pasti tidak ada satupun konsep ekonomi pemikiran manusia yang dapat mengalahkan konsep ekonomi yang dianjurkan oleh kitab mulia – AL Quran. Semoga kita termasuk orang yang mau berpikir dari rangkaian peristiwa yang sekarang dialami bangsa kita.

Wednesday, October 10, 2007

Mudik

Tidak pernah terbayangkan bila budaya mudik lebaran ini dapat terjadi dinegera lain. Apa yang kita lihat adalah suatu peristiwa yang sulit dicerna dalam kacamata individualisme . Dimana jutaan orang bergerak serentak meniggalkan kota tempat mereka mengadu nasip untuk kembali kekampung halamannya. Kampung dimana mereka dilahirkan. Kampung dimana menyimpan banyak nostalgia. Dimanapun mereka bermigrasi ,entah didalam negeri maupun luar negeri untuk mengadu nasip, selalu mereka bertekad untuk harus kembali pulang kempung halaman menjelang lebaran. Walau untuk kegiatan ini , mereka harus menyisihkan sebagian pengdapatan harian/bulanannya hanya untuk bekal kembali kekampung halamannya ketika lebaran datang. Andai ada survey tentang jumlah dana yang mengalir kedaerah akibat budaya mudik ini, tentu kita akan mengetahui betapa dahsyat kekuatan financial komunitas Islam ini dalam menciptakan capital flow ke daerah.

Mereka adalah komunitas yang terdiri dari berbagai suku di Indonesia dan mempunyai latar belakang berbeda namun mereka bergerak serentak tanpa ada yang mengomandoi kecuali oleh satu keyakinan agama dan penguatan paham budaya tentang silahturahmi terhadap sesame keluarga, kerabat dan handai tolan. Di hari yang fitri ini, kekuatan komunitas umat islam menunjukan kepada dunia bahwa mereka adalah komunitas yang teroganisir dengan baik walau tanpa peraturan, komando apapun. Biaya yang tidak sedikit, tenaga berlelahan didalam perjalanan dan waktu tempuh yang lama mereka abaikan untuk hanya dan hanya ingin mempertautkan kembali silahturahmi yang lama hampir setahun terputus.

Itulah komunitas Islam yang sesungguhnya , yang didalamnya terdapat rahmat Allah yang menanamkan rasa cinta kasih sayang kepada sesama. Mereka mampu mengorganisir dirinya sendiri dengan baik untuk satu tujuan yang mulia. Fakta membuktikan bahwa kemerdekaan bangsa ini didapat berkat kekuatan komunitas islam yang berbaris rapat dengan gagah berani ketika berhadapan dengan penjajah asing. Padahal mereka bukanlah militer terlatih untuk disandingkan dengan keuatan militer penjajah. Tapi ruh islam sebagai rahmatanlilalamin membuat mereka menjadi kumpulan manusia yang terorganisir dengan baik. Ba lebah mereka ikhlas berkorban tanpa berharap balasan apapun.

Lantas mengapa kini kenyataannya komunitas Islam yang 80% di Indonesia tidak mampu membuat bangsa ini besar dan makmur. Mengapa semua pemimpin yang beragama muslim di negeri ini gagal memanfaatkan kekuatan komunitas islam ? Padahal mengelola komunitas islam tidaklah membutuhkan konsep management modern atau juklak yang ruwet. Jawabannya ternyata terletak pada system yang membuat komunitas Islam itu hidup dalam atmosfir yang membuat mereka gagal menjadi rahmatan lilalamin. System kita begitu mengagungkan nasionalisme, demokratisasi, neoliberalisme dan mengabaikan peran agama sebagai komando menggiring komunitas Islam dalam satu barisan yang kuat. Agama sebagai spirit hanya hidup dalam ruang kotbah dan ritual agama. Namun terpinggirkan dalam system pengelolaan berbangsa dan bernegara.

Aturan hukum dibidang sosial, ekonomi , budaya, politik di create berdasarkan spirit sekular yang diambil dari pemahaman sosialis kapitalis yang mengharamkan keihlasan kecuali laba atau kepentingan golongan/pribadi adalah segala galanya. Lambat namun pasti system ini mengikis semangat kebersamaan , gotong royong, senasip sepenanggungan yang merupakan ruh dari islam sebagai rahmatan lilalamin. Sampai kini kita masih terus percaya bahwa system yang bukan Islam lah satu satunya yang akan membuat kita makmur dan menjadi bangsa yang besar. Entah sampai kapan ini akan terus berlangsung dan entah sampai berapa korban dari system ini yang menyebabkan kemiskinan , ketidak adilan terus ditanggung oleh komunitas islam yang notabene adalah populasi terbesar di negeri ini.

Yang pasti budaya mudik adalah sepotong budaya Islami ala Indonesia yang masih tersisa di negeri ini. Mungkinkan besok budaya ini juga akan terkikis dalam ruang sosial budaya komunitas Islam dinegeri ini ? Entahlah.

Selamat Hari Raya Idul Fitri.
Taqobballahu minna wa minkum Taqobbal ya karim

Thursday, October 04, 2007

Sikap santun

Ketika yang kalah kecewa maka rasa tidak suka pada yang menangpun terbentuk. Biasanya rasa kecewa itu semakin membukit dan menimbulkan amarah. Inilah sifat dasar kekanak kanakan, yang lebih mengedepankan emosi kepentingan bukan kesadaran. Budaya politik kita memang tidak lebih sama seperti itu. Makanya tidak aneh bila Gus Dur sempat melontar kata kata jenakanya dengan menyebut anggota DPR adalah taman kanak. Dalam konteks budaya kepemimpinan , yang kalah selalu membenci yang menang. Sulit sekali melihat ada tergur sapa antara president yang baru terpilih dengan yang mantan president. Lihatlah, Soekarno tidak bertegur sapa dengan Soeharto, Soeharto tidak bertegur sapa dengan Habibie, Habibie tidak bertegur sapa dengan Gus Dur, Gus Dur tidak bertegus sapa dengan Megawati, Megawati tidak bertegur sapa dengan SBY.

Dari sikap ini jelas sekali kita bertanya, mengapa kekalahan adalah kekecewaan? Apakah mungkin menganggap “ sayalah yang terbaik dan pantas memimpin , bukan orang lain”. Atau karena kekuasaan adalah sumber nafkah yang aman dan mudah sehingga harus dipertahankan. Sama seperti para petualang yang berebut memburu harta karun. Yang kuat ,yang menang. Yang kalah tentu kecewa. Kita tidak tahu sebetulnya ada apa dibalik kecewa dan marah sehingga terputusnya silahturahmi. Padahal senyatanya ketika mereka berkuasa tidak ada satupun prestasi yang patut dicatat tinta emas oleh sejarah, kecuali deretan kekecewaan rakyat karena janji yang tak kunjung terbayar.

Dari budaya inilah yang mewarnai kehidupan social politik kita. Mencapai puncaknya arogansi kekuatan kelompok dan golongan ketika masuk era multi partai. Demokrasi liberal bergerak dengan berbagai bendera, tentu dengan berbagai jargon. Tidak jelas apa yang mereka perjuangkan. Yang pasti ukhuah islamiah menjadi kabur. “Kita berbeda dan kita saling berhadapan untuk menentukan siapa yang kuat.” Kita membayangkan suatu sikap kejujuran berpolitik yang dapat berbicara dengan nurani dan kemudian melihat orang lain dengan objective. Sehingga kalau ada yang lebih mampu dan berkualitas, maka tidak ada salahnya untuk didukung. Keliatannya bayangin ini jauh panggang dari api.

Ketahuilah bahwa kehidupan negeri ini tidak akan selesai bila budaya politik tidak dirubah. Kita merindukan suatu budaya dimana kepentingan golongan dan pribadi sudah tidak ada lagi maka kebersamaan menjadi sacral untuk dibela sampai mati. Maka masyarakat sejahtera bukan lagi illusi. Ini sudah dibuktikan dalam sejarah rasul. Betapa kelompok Ansyar dan Muhajirin berangkulan satu sama lain. Mereka menyattu karena Allah dan berbuat karena mengejar keridhoan Allah. Seperti Firman Allah “ ..dan mereka mengutamakan kepentingan orang lain atas diri mereka sendiri sekalipun pada waktu bersamaan mereka sangat memerlukannya. ( QS, AL –Hasyr ( 59): 9). Sifat seperti inilah yang membuat sifat iri dengki dan kecewa tergantikan dengan kasih sayang dan ketulusan. Diantara mereka saling berbagi dan mengasihi. Apalagi Rasullah bersabda “ sebaik baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain”

Lihatlah bila kebersamaan menjadi ruh dalam kehidupan bermasyarakat , maka soerang Hakim bernama Umar Bin Khaththab menganggap kedudukan hakim tidak diperlukan lagi untuk menciptakan keadilan. Mengapa ? inilah alasan yang disampaikannya kepada Khalifah Abu Bakar “ Rakyat sudah tahu haknya masing masing sehingga tidak ada yang menuntut lebih dari haknnya. Mereka juga sudah tahu kewajbannya sehingga tidak seorang pun yang merasa perlu menguranginya. Mereka satu sama lain saling mencitai seperti mereka mencintai dirinya sendiri. Saling menjenguk kepada sisakit, Saling membantu kepada yang lemah. Saling berduka bila ada yang terkena musibah. Agama mereka adalah nasihat. Akhlak mereka adalah amar ma’ruf nahi munkar. Karena itulah tidak ada alasan mereka untuk saling bertengkar, kecewa dan tak bertegur sapa.

Benarlah , bahwa semua yang salah karena lahir dari masyarakat yang sakit. Tidak akan mungkin dapat dilahirkan pemimpin yang sehat ditengah masyarakat yang sakit. Hanya masyarakat agamais yang dapat memilih pemimpin yang jujur dan berkualitas amanah untuk kejayaan bangsa. Bukan masyarakat materialistis dan individualis.

Persahabatan …?

  Sejak  minggu lalu, sejak saya membuat keputusan perubahan susunan Komisaris perusahaan, setiap hari email datang dari Yuni dengan nada pr...