Posts

Showing posts from May, 2021

Philosopi 5 jari

Image
  Ketika oma sedang setir kendaraan. Jemari kirinya saya genggam.” Ada apa sih pah. Aneh? Kata oma. “ Telapak tangan ini waktu awal menikah, sangat halus. Tetapi kini terasa kasar. Kasarnya telapak tangan itu adalah bukti bahwa perjalanan hidup mama sangat berat mendampingi papa. Kalaulah mama tidak keras hati menjaga papa, entah jadi apa papa ini. Kini kita menua bersama” Kata saya terus meremas jemari oma. “ Tapi tahu engga philosopi lima jari ini ? Kata saya. “ Apa? “ Jempol. Itu artinya kita harus terus berbuat baik. Tidak penting berbalas tidak baik. Tidak penting tidak ada terimakasih. Tidak penting orang suka atau tidak suka. Berbuat baik karena Tuhan saja. Jari telunjuk. Itu artinya kita harus punya kebiasaan memberikan petunjuk kepada orang lain tanpa ada kesan menggurui. Orang terima atau tidak, engga penting amat. Dibayar atau tidak, engga penting.  Jari tengah? adalah bersikap adilah selalu. Baik dalam pikiran maupun dalam perbuatan. Soal orang suka tidak suka. Tidak pentin

Bangkrut spiritual

Image
Hari ini saya sebelum meeting di Hotel yang ada di selatan Jakarta, saya bertemu dengan relasi saya di Pulman Hotel central Park. Oma setelah antar saya dia terus ke Citraland.  Relasi saya sempat marah besar kepada pemerintah. Kekecewaannya ditumpahkan kepada Jokowi karena bisnisnya semakin terpuruk. Dia merasa apa yang sudah dibangun berpuluh tahun akan hilang begitu saja. Rasanya dia tidak bisa bernapas lagi. Takut bangun pagi, membayangkan masa depan yang buruk.  Saya senyum saja.  Benarlah. Saya menolak proposal dia. Karena engga masuk akal. Demikian cerita ringkas tentang relasi saya ini. Kalau saya simpulkan cerita itu hanya ada 5 saja. Pertama, hawa nafsu berlebihan.  Kedua, sifat amarah. Ketiga, terlalu cinta dunia. Keempat, Tamak. Kelima, pride atau ego. Saya tidak akan uraikan lebih jauh tentang apa yang sedang dialami relasi saya itu. Saya akan uraikan nilai spiritual terhadap lima hal itu. Pertama. Yang mendorong kita mau bekerja keras mengarungi samudera luas dan tinggin

Sombong dan tamak.

Image
  Kemarin malam saya bicara via facetime dengan teman. Dia menaging Director salah satu konglomerat bisnis di Indonesia. Dia juga staf ahli pemerintah. Pendidikanya? S3 dari Amerika. Saya kenal dia sudah lama. Namun tidak begitu inten ketemu. Sebetulnya hal sederhana yang dia diskusikan kepada saya. Yaitu masalah penyelesaian hutang korporat yang akan dialihkan ke entity di luar negeri. Namun cara yang akan ditempuhnya jelas melanggar hukum. Karena sistem perbankan kita tidak mengenal SWAP settlement berkaitan dengan hutang.  Artinya kalau ingin selesaikan hutang, ya bayar dulu. Soal nanti mau gadaikan lagi neraca perusahaan dalam bentuk senior bond, itu urusan lain. Tapi yang membuat saya sempat terkejut adalah dia bilang ” Ah mana ada di Indonesia yang tidak bisa diatur. “ Kalau  dia sebagai orang yang well educated, managing director holding big company dan juga staf ahli pemerintah punya mental seperti ni, entah apa jadinya negeri ini. Ada direksi konglomerat yang cerita kesaya, ba

Agama jadi berhala.

Image
  Di sebuah distrik saya sedang berjalan bersama anggota dewan kota China. Kami menuju restoran untuk makan siang. Dari dalam kendaraan kami melihat wanita menggendong Balita sedang berusaha mendorong kereta  barang rongsokan. Nampak kesulitan. Jalan mendaki. Kalau di Indonesai, itu adalah pemulung. Dia hentikan kendaraan. Dia tersenyum kepada wanita itu. Bicara sebentar.  Dia ikut membantu wanita itu mendorong kereta. Setelah itu dia kembali kedalam kendaraan. “ Itu masalah sudah terjadi sejak tahun lalu. Sejak ada pembangunan kota. Terjadi urbanisasi yang tidak terkontrol. “ Katanya. Dia seperti sedang berpikir. Entah apa yang dia pikirkan. Tiga tahun kemudian saya datang lagi ke distrik itu untuk urusan bisnis. Sahabat saya yang anggota dewan kota itu saya undang makan malam. Dia senang sekali. “ Saya tidak melihat lagi ada pemulung di jalanan. Kemana mereka ? Tanya saya disela sela makan malam itu. Dia bilang bahwa Pemda membangun pembangkit listrik dari sampah.  Kemudian sosial en

Cerdaslah hidup.

Image
  Waktu saya kecil. Setiap habis sholat maghrib, guru mengaji saya berdongeng tentang kehidupan para Nabi. Itu caranya memberikan pelajaran keteladanan tentang akhlak. Tetapi yang jadi masalah, setelah sholat isya. Dia akan izinkan pulang kalau kami para muridnya  bisa menjawab pertanyaan atas cerita kemarin. Nah saya selalu pulang paling belakang. Itupun setelah saya telapak tangan saya dipecut pakai rotan. Apa pasal? Karena saya gagal menjawab pertanyaannya. Saya pahami hakikat cerita. Tetapi menghapal detail cerita, jelas saya engga bisa. Saya ada penyakit disleksi. Saya tidak mau terus dihukum. Lantas bagaimana caranya agar saya tidak terus kena hukuman.? Satu satunya cara adalah diam diam saya ambil buku sejarah islam yang ada dilemari masjid. Buku itu saya sembunyikan di lipatan sarung saya. Setelah itu saya baca di rumah dan saya hapalkan. Dari itu saya bisa lolos setiap ada pertanyaan dari guru mengaji. Tapi lambat laun. Guru mengaji saya heran.  “ Mengapa kamu bisa terus jawab

Niat baik...

Image
Kalau anda tanya kepada orang China. Apakah kalian mencintai Partai ? 10 yang ditanya, 11 pasti tidak mau menjawab” Kata teman saya di China. Itu yang saya pahami bagaimana sikap mereka terhadap partai komunis China. Bagi mereka partai itu hanya elite pekerja. “ Mereka hidup menumpang makan dari rakyat. Dan wajar sajalah mereka bekerja keras. Itu cara mereka berterimakasih. Kalau saya diposisi mereka. Saya akan melakukan hal yang sama. “ Lanjut teman saya.  Makanya di China, mereka tidak pernah manggil pemimpin dengan sebutan Nama. Tetapi nomor. Misal Presiden Xi, itu mereka sebut nomor 1. Itupun urutan angka hanya sampai 9. Tidak lebih. Mengapa ? apalah arti nama? Jabatan hanyalah urutan angka dalam sistem kekuasaan. Mereka bisa pergi dan datang karena waktu. Kehidupan tidak boleh berhenti karenanya. Lantas apa makna dari sikap mereka terhadap pemerintah dan pemimpin? tidak ada kultus individu.  Yang hebat  hanya Tuhan. Itulah karya agung dari revolusi kebudayaan. Mereka percaya bahwa

Sengketa Tanah Palestina

Image
Tadi saya dampingi Yuni meeting dengan relasi di Hotel di bilangan Sudirman. Usai relasi pergi, kami   duduk santai di cafe yang ada di hotel itu. TV menayangkan kericuhan demo bela Palestina. Polisi hendak membubarkan massa. Karena sudah lewat waktu yang ditentukan. Namun demontran berkeras tidak mau dibubarkan. “ Apa benar bela Palestina sama dengan bela Islam? Tanya Yuni. “ Tepatnya bela kemanusiaan. Karena di Palestina bukan hanya islam, ada juga yang lain seperti Yahudi, Druze, Samarita, Ahmadiyah, Sunni, Syiah, Katolik, Protestan, Koptik, Anglikan, Bahai dan lain lain. “  “ Terus kenapa umat islam baper ? “ Ya itu politik dibungkus agama. Apalagi dikaitkan dengan sejarah kuno. Masing masing merasa paling berhak atas tanah Palestina.” “ Emang yang berhak itu siapa atas tanah Palestina ? “ Yang beli tanah. “ “ Yang serius lah uda. Yuni mau tahu. “ “ Loh emang saya becanda.? “ Gimana ceritanya?  “ Ketika Palestina itu dikuasai oleh Turki Ottoman belum ada bangsa Palestina. Waktu itu

Selalu bersama.

Image
  Dalam perang Candu ( 1839-1842), China ada di pihak yang kalah.  Inggris menjadi pemenang. Tahun 1860 Pulau Hong Kong dan Semenanjung Kowloon di sewa oleh inggris selama 99 tahun. Perang Dunia kedua, China jatuh ke Jepang. Inggris hengkang. Itu berlangsung selama 3 tahun. Setelah Jepang kalah. Tahun 1947 berdiri Republik Rakyat China. Apakah China membatalkan komitmen ke inggris menyewa  Hong Kong dan Kowloon? Tidak. China persilahkan inggris melanjutkan kontrak sewa itu. “ Apa dasar pemerintah China melanjutkan kotrak sewa itu. Padahal  logikanya dengan masuknya Jepang di China sebagai penakluk, dan kemudian Dinasti China tumbang digantikan denga Republik China,  seharusnya komitment dengan inggris tidak ada lagi. “ Kata saya kepada Wenny.  “ Kolonialisasi itu salah. Lebih salah lagi adalah ingkar dengan janji. Kata Wenny tersenyum. “ Tapi bagaimanapun kolonialisasi itu salah. Kenapa berdamai dengan pihak penjajah? Kata saya. “ Benar, kamu. Kolonialis itu salah. Tetapi kesalahan buk