Monday, November 12, 2012

Pahlawan..


Seorang teman yang berprofesi sebagai konsultan SDM bercerita kepada saya bahwa dia sangat terkejut ketika dia mengajukan nama yang pantas mendapatkan penghargaan dari perusahaan tetapi Pemimpin perusahaan menolak nama nama yang dia ajukan. Padahal dalam daftar tersebut adalah nama  para pemimpin perusahaan dan kemudian para manager yang berprestasi dibidang pemasaran dan produksi. Lantas siapa yang pantas mendapatkan penghargaan ? tanya saya. Teman itu tersenyum. Yang berhak adalah cleaning service. Dalam acara gala dinner  pemberian penghargaan, pemimpin perusahaan mengatakan bahwa begitu banyak pretasi yang dicapai perusahaan dari tahun ketahun namun itu hanya prestasi yang dapat naik dan dapat juga turun. Tapi ada nilai nilai perusahaan yang juga nilai kepemimpinan organisasi yang tak pernah turun yaitu menghargai peran kecil orang lain. Dapatkah dibayangkan bila salah satu mitra strategis perusahaan tergelincir di toilet hanya karena cleaning service tidak bekerja dengan benar. Ini akan berdampak buruk bagi perusahaan. Tapi peran kecil yang strategis itu tidak pernah kita lihat. Kita sibuk menepuk dada dengan segala keberhasilan kita dan pada waktu bersamaan kita merendahkan diri kita sendiri. Cleaning service itu pantas disebut sebagai pahlawan bagi perusahaan.

Walau penghormatan diberikan kepada clearning service secara seremonial namun pahlawan sesungguhnya adalah pemimpin itu sendiri. Karena dia bisa mengalahkan dirinya sendiri untuk tidak ingin dipuji dan dihormati. Pemimpin itu telah memberikan teladan kepada semua bawahannya bahwa ketika prestasi dicapai maka yang pertama dilakukan adalah mengingat siapa yang terlupakan dan pantas mendapatkan penghargaan. Bukannya berlomba tampil didepan untuk dipuji dan membanggakan diri. Kebanggaan diri hanya akan membuat orang sombong. Kadang karena kesombongan itulah potensi terpendam orang menjadi hilang begitu saja. Prestasi hanya mungkin terukir oleh motivasi tanpa harap punjian tapi berbuat untuk kepentingan orang lain. Ketika kepentingan orang lain dibela maka pada waktu waktu bersamaan seseorang menjadi bernilai. Inilah yang disebut dengan dedikasi atau pengabdian terhadap tugas. Tak semua orang menjadi pemimpin, harus ada yang jadi bawahan atau yang bekerja di toilet namun dimanapun berada ia seharusnya menjadi sebaik baiknya dirinya untuk orang lain.Menurut teman saya , budaya seperti inilah  yang harus dibangun dalam setiap organisasi atau masyarakat. Semua orang bisa menjadi pahlawan.

Bagaimana membangun budaya pengabdian ini sehingga pantas disebut sebagai pahlawan? Tanya saya. Teman ini mengatakan bahwa seseorang harus mampu mengalahkan dirinya sendiri. Apa yang harus dikalahkan? Sifat sombong dan Sifat tidak pernah puas.  Kedua sifat inilah yang merusak moral manusia. Sehebat apapun dia akan hancur karena kedua sifat tersebut. Sifat sombong pertama kali dipertontonkan oleh Iblis ketika menolak untuk sujud kepada Adam hanya karena merasa penciptaannya lebih baik dibandingkan dengan Adam. Sifat tidak puas dengan apa yang dimiliki dipertontonkan pertama kali oleh Adam ketika memakan buah Qalbi. Padahal nabi Adam telah mendapatkan segala galanya di sorga. Hanya satu yang Allah tidak berikan atau dilarang untuk dinikmati yaitu buah Qalbi tapi karena sifat merasa tidak puas membuat Adam mudah di provokasi oleh Iblis untuk melanggar larangan Allah.  Setiap manusia tidak bisa lepas dari kedua sifat tersebut. Mengapa ? karena kedua sifat itulah letak keistimewaan manusia dibandingkan makhluk lainnya.

Menurut teman saya bahwa rasa percaya diri harus dikelola dengan baik tanpa menimbulkan perasaan paling benar, paling tahu , paling baik, paling mampu. Ini ada pada perasaan. Mengapa ? sikap yang melatar belakangi perbuatan lebih diakibatkan oleh perasaan. Perasaan adalah manifestasi dari keberadaan jiwa pada diri kita. Jiwa memang sesuatu yang imaginer namun keberadaannya dapat dilihat dari perbuatan manusia. Bila manusia dikendalikan oleh perasaannya maka sifat percaya diri menimbulkan perbuatan arogan, takabur, individualis. Sifat ini akan menghancurkan pribadi manusia karena dan dia akan sulit bersosialisasi untuk mendapatkan dukungan dari orang lain. Begitu juga perasaan tidak pernah puas harus dikendalikan. Ketika upaya telah dilakukan dengan sebaik baiknya maka ada saatnya kita menghargai effort itu apapun hasilnya. Menerima bukan berarti berpuas diri hingga lupa untuk berusaha lagi. Tapi menerima kenyataan bahwa manusia serba terbatas. Usia terbatas, tenaga terbatas, perut terbatas, semuanya serba terbatas. Yang ada harus disyukuri. Jadi tidak perlu karena kepuasaan yang tak ada habisnya maka segala cara dilakukan walau karena itu merugikan orang lain, menggunting dalam lipatan, korupsi, manipulasi dan perbuatan amoral lainnya.

Setiap manusia harus menanamkan dalam dirinya bahwa dia harus menaklukan dirinya sendiri. Ini perang yang tidak mudah. Harus ditanamkan dalam diri kita bahwa kita tidak lebih baik dibandingkan orang lain dan tidak lebih terhormat dibandingkan orang lain, tidak lebih pantas masuk sorga dibandingkan orang lain. Lebih daripada itu bahwa kita tidak pantas sombong terhadap apa yang kita punya karena pemilik sesungguhnya adalah Allah dan Allah lah yang pantas sombong. Bukan kita. Harus ditanamkan dalam diri kita bahwa apa yang kita punya karena cinta Allah kepada kita. Syukuri apa yang ada dan berpuas dirilah hanya karena kita merasa dekat kepada Allah melalui sifat rendah hati dan ikhlas . Ini harus teraktualkan dalam bentuk cinta dan kasih sayang kepada semua melalui semangat berbagi dan berkorban. Inilah nilai kepahlawanan sesungguhnya, demikian uraian singkat dari teman itu. Saya mendapatkan pencerahan karenanya.

Saturday, November 03, 2012

Pesan untuk Putraku..


Dua puluh delapan tahun yang lalu saya bersanding dipelaminan dengan istri saya. Ketika itu usia saya 22 tahun dan masih berstatus sebagai mahasiswa. Istri saya nampak tersenyum bahagia. Tak nampak gamang sedikitpun ia bersanding dengan pria miskin seperti saya. Iapun tak menempatkan banyak kriteria untuk pria yang pantas dijadikannya sebagai penghulu kecuali agama. Hanya berbekal keimanan kepada Allah membuat ia tak ragu saya persunting. Baginya menikah adalah ibadah yang harus dilaksanakannya. Baginya menikah adalah menuruti nasehat orang tuanya untuk menerima saya sebagai suami. Baginya menikah adalah pengabdian kepada suaminya. Baginya menikah adalah sebagai caranya menerima takdir. Ketika menikah saya sudah bekerja sebagai penata buku diperusahaan swasta dan dari itulah saya menanggung biaya hidup rumah tangga dan biaya kuliah.  Diawali dirumah mungil yang kami sewa bulanan, kami lewati hari hari dengan keceriaan sebagai keluarga muda. Setahun setelah itu putra kami lahir. Maka semakin lengkaplah kebahagiaa kami.

Tanggal 28 oktober kemarin atau tepatnya hari ulang tahun saya yang ke 50, kami kembali bersanding dipelaminan. Tapi tidak untuk menikah kembali tapi mendampingi putra kami bersanding dengan istri pilihannya. Istri saya sempat berkata kepada saya bahwa dulu waktu kami bersanding dipelaminan , saya kuliah belum selesai. Kini ketika putra kami dipalaminan bersanding dengan istrinya, ia sudah sarjana Stratra dua dan jabatannya sebagai direktur perusahaan. Istri saya nampak sedikit bermurung. Ada kekawatiran diwajahnya. Padahal dulu ketika kami menikah tak nampak sedikitpun diwajahnya kekawatiran. Tapi mengapa kini dia kawatir? Saya tak ingin bertanya banyak. Namun seusai pesta perkawinan istri saya berkata dengan suara lirih “ Akankah dia mendapatkan hikmah dari kasih sayang kita selama ini. Bahwa apa yang kita lakukan selama ini bukanlah untuk memanjakannya. Bukanlah untuk menjadikan dia sebagai kebanggaan. Bukan pula menjadikannya sebagai reward masa tua kita. Bukan.! Tapi tak lebih sebagai ujud rasa cinta kita kepada Allah untuk mengemban amanah dengan sebaik baiknya yang kita mampu perbuat sebagai orang tua.

Saya genggam jemari istri saya sambil berkata bahwa dia tidak perlu terlalu banyak kawatir. Tugas kami sudah selesai mengantarkannya memasuki mahligai rumah tangga. Setiap anak punya takdir sendiri sendiri. Tugas kami selanjutnya adalah mendoakannya dan memberi kepercayaan kepadanya untuk mengembang amanah dari Allah.Kepada Putra saya dan istrinya saya berpesan bahwa jadikanlah rumah tangga sebagai ladang ibadah untuk bertakwa kepada Allah. Rumah tangga bukanlah tempat untuk bermegah megah untuk aktualisasi diri dihadapan manusia. Tapi rumah tangga adalah wahana aktualisasi dihadapan Allah dengan ditandai hadirnya suasana keluarga sakinah, ma waddah wa rahmah. Visi rumah tangga sebagai ibadah haruslah menyatu sebagai ujud kecintaan kepada Allah. Bila visi ini menjadi pegangan dalam berumah tangga maka apabila ada yang kurang akan bersama sama dicukupkan, bila sempit akan bersama sama dilapangkan, bila  ada yang berlebih akan bersama sama disyukuri. Baik buruk akan terus bersanding dan ini harus dilewati untuk mencapai kesempurnaan dihadapan Allah.

Nak, kamu tidak harus merasa berhutang terhadap kami. Apa yang selama ini kami lakukan untukmu, berkorban siang dan malam , bukan untuk mengharapkan apapun darimu. Bukan. Kami berkorban karena Allah dan berharap karena itu engkaupun akan melakukan hal yang sama kepada keluargamu. Lakukanlah apapun yang pantas kamu lakukan sebagai kepala keluarga, sebagai suami, sebagai ayah kelak dengan dasar kecintaanmu kepada Allah. CIntailah istrimu sepantasnya agar Allah tetap yang utama. Cintailah anak anakmu sepantasnya agar Allah tetaplah yang utama. Cintailah semua yang dekat denganmu namun tetaplah Allah yang utama. Mengapa? Karena istri, anak , jabatan, juga apapun didunia ini yang kita sukai tak lebih adalah cobaan dari Allah untuk menguji keimanan kita. Ini ujian teramat berat karena ia berhubungan dengan kecondonganmu kepada dunia. Allah membentangkan kesenangan dunia ini sebagai cara agar kita bersyukur kepadaNya namun pada waktu bersamaan Iblis mencondongkan hati kita untuk tidak mensyukuriNya.Setiap detik, setiap waktu selagi engkau masih hidup, engkau ada ditengah tengah itu. Tak usah gamang, Bila engkau perbaiki batinmu , Allah tentu akan memperbaiki lahirmu. Bila engkau memperbaiki akhiratmu , Allah tentu akan memperbaiki urusan duniamu. Bila engkau memperbaiki hubunganmu dengan Allah, maka Allah akan memperbaiki hubunganmu dengan manusia.

Tetaplah istiqamah. Karena bila engkau menempuh jalan kebenaran tentu engkau akan sampai ketujuan yang sebenarnya. Untuk itu sepanjang hidup ibumu akan terus mengkawatirkanmu dan akan terus mendoakanmu agar engkau tak pernah jauh dari Allah dan selalu mendekat kepada Allah. Hanya itulah keyakinanya agar engkau selamat. Karena pemilik dirimu sesunguhnya adalah Allah, dan ibumu inginkan Allah menjagamu siang malam sebagaimana ibumu menjagamu siang dan malam ketika kau masih dekapannya. Selamat menempuh hidup baru, putraku..Pesan papa, jadilah sebaik baiknya dirimu saja yang bermanfaat bagi orang lain.

Tuesday, October 30, 2012

Berkorban dalam kemiskinan


Pengurus Masjid itu tidak bisa menahan rasa harunya ketika melihat Kambing yang dibawa oleh  Mak Yati dan suaminya Maman untuk diserahkan sebagai Qurban. Kambing itu berukuran paling gemuk diatara kambing yang lainnya. Apa penyebab pengurus Masjid itu terharu ? karena Mak Yati dan suaminya bukan tergolong nasabah prioritas bank. Mak Yati bukan pegawai PNS yang  minim produktifitasnya namun dapat gaji lebih dari 13 kali dalam setahun. Bukan pula orang kebanyakan yang aman dari resiko tidak makan karena penghasilan tidak pasti dan tabungan tidak ada. Bukan!. Mak Yati dan suaminya Maman adalah pemulung yang hidup melata dari mengais sampah dijalanan.  Dari hasil mengais sampah ini , dia bisa mendapatkan penghasilan Rp.25.000 per hari atau seharga secangkir kopi ukuran terkecil di Starbucks. Bila secangkir kopi dapat habis sekali minum namun Mak Yati mendapatkan uang sebesar itu membutuhkan tenaga dan waktu yang tidak sebentar. Iapun harus mau menyusuri jalanan dalam keadaan panas maupun hujan. Ia lelah namun jiwanya tidak pernah lelah. Ia ikhlas dengan takdirnya tanpa berkeluh kesah dalam mengemis.

Dari penghasilan sebesar 25 ribu rupiah itu dia gunakan untuk mengganjal perutnya sedikit dan sisanya dia tabung. Bukan untuk persiapan pergi haji. Tidak pula untuk persiapan pension masa tuanya karena dia memang sudah tua dalam keadaan miskin tanpa jaminan social. Uang itu ditabungnya untuk berkorban di jalan Allah. Seperti dikatakanya “Saya ingin sekali saja, seumur hidup bisa memberikan daging qurban. Di dada rasanya tebal sekali, ada kepuasaan. Saya harap, semoga ini bukan yang terakhir”. Dari peristiwa ini Allah mempertontonkan kepada kita orang beriman yang merasa lebih dibandingkan Mak Yati. Bahwa tidak ada alasan untuk tidak berkorban dijalan Allah. TIdak ada ! Kadang kita punya uang berlebih dibank namun ketika orang datang meminta tolong karena tidak ada beras dirumah untuk dimasak, bingung untuk membayar sekolah anaknya, bingung bayar kontrakan rumah, bingung dikejar hutang karena untuk makan, kita justru menolak dengan senyuman sambil berpikir bahwa uang berlebih itu digunakan untuk persiapan kuliah anak, atau untuk liburan bersama keluarga, atau untuk pergi haji. Padahal yang kita pikirkan itu adalah masa depan yang belum dalam genggaman kita sementara hari ini Allah mengirim ticket ke kebun sorga untuk kita tapi kita tolak.

Berkorban dalam bentuk apapun memang mudah selagi kita berkemampuan kuat dan lapang. Namun menjadi lain ketika kita berkorban yang pada waktu bersamaan kita sangat membutuhkannya. Mak Yati dirumahnya yang berukuran 3x4 meter terdapat televise tua yang tidak lagi berfungsi namun uang tabungan itu tidak dia gunakan untuk membeli televise baru yang harganya sama dengan dua ekor kambing qurban. Ia lebih memilih berkorban dijalan Allah. Allah lah yang lebih utama. Apakah Mak Yati merugi karena itu ? Tidak ! Yang pasti janji Allah akan menggantinya dengan berlipat ganda (Al-Baqarah [2] ayat 245). Mau bukti ? Setelah dia memberikan dua kambing qurban itu, beritanya tersiar melalui berbagai media. Membuat Menteri sosial, Salim Segaf tersentuh hatinya untuk memberikan aspirasi. Seorang Menteri datang sendiri kerumahnya yang kumuh itu dan memberikan santunan sebesar Rp. 5 juta rupiah untuk modal usaha serta rumah layak tempat dia tinggal. Perhatikanlah didunia saja, Allah memberikan rasa hormat sangat tinggi dengan ditandai hadirnya seorang pejabat tinggi Negara kerumahnya dan disamping itu dia mendapatkan santunan berlipat dari apa yang dia qurbankan.

Tentu di akhirat Mak Yati akan mendapatkan pahala yang berlimpah dari Allah. Karena perbuatan ikhlas berkorban dijalan Allah adalah puncak Tauhid sebagaimana yang diteladankan oleh Nabi Ibarahim yang menerima titah dari Allah untuk menyembelih putranya Ismail. Walau nyatanya dalam sejarah Putranya Ismail tidak jadi disembelih karena ketika mata pisau itu lekat dileher seketika itu juga Allah menggantinya dengan domba. Inti dari kisah ini adalah seorang Nabi Allah Ibrahim dihadapkan dengan dilemma antara ketaqwaan dan akalnya. Betapa tidak? Nabi Ibrahim tidak dikarunia anak yang banyak. Nabi Ibrahim barulah mendapatkan anak setelah usia uzur. Ketika anak dalam kandungannya, Allah meminta Nabi Ibrahim membawa istrinya ketengan gurun yang tandus dan meninggalkan mereka disana. Ketika anak lahir, tumbuh sehat dan cerdas serta berakhlak mulia, namun Allah mentitahkan agar putranya itu disembelih. Dapatkah dibayangkan bagaimana bila itu terjadi pada diri kita ? tentu akal kita akan menolak. Samahal mengapa pula Mak Yati tidak membeli TV baru dari uang tabungannya.  Ternyata jawabannya adalah ketaqwaan kepada Allah, kecintaan kepada Allah tidak bisa terjawabkan dengan akal yang terbatas ini. Ia sesuatu yang sublime yang tak lagi mengenal aku, cinta, harapan, rugi , laba, susah, kecuali hanya karena ingin melaksanakan Titah sang Illahi. TIdak ada lagi aku kecuali Allah.

Ya cinta kepada Allah sesuatu yang agung dan berimplikasi sangat luas terhadap kehidupan didunia. Siapapun dia, baik berharta maupun berilmu punya tanggung jawab untuk melakukan intervensi social lewat spiritual social yang diajarkan oleh Allah dan diteladankan oleh Rasul. Dengan itu, keadilan Allah tegak kepada mereka yang lemah dan duapa. Gap antara sikaya dan simiskin tidak akan menimbulkan kecemburuan social karena orang miskin sadar dengan takdirnya dan mendapatkan keadilan dari orang kaya yang bertaqwa. Orang kaya berharta dan berlmu mendapatkan kepuasan batin karena mampu berbuat mewakili Allah untuk tegaknya keadilan social. Itulah nilai islam, rahmatan lillamin. Yang kaya dan yang miskin bersedekat untuk saling menghormati, melindungi dengan satu tujuan untuk cinta kepada Allah…

Sunday, October 21, 2012

Andaikan berbagi...


Seluruh dana yang berputar dimasyarakat, entah itu pedagang, industry, jasa, sampai kepada dana pension, perusahaan sekuritas, asuransi dll , ujungnya akan parkir di bank. Bank adalah hulu dari aktifitas uang. Tapi dana ini tidak gratis. Bank harus memberikan bunga kepada deposan atau penabung. Bagaimana bank membayar bunga tersebut ? tentu dari tugas bank sebagai intermediary  yang mendapatkan bunga dan fee dari peminjam. Selisih pendapatan bank dengan pengeluaran ( cost of fund dan operational cost ) harus positip kalau tidak bank akan merugi. Dengan itu bank tidak boleh rugi. Bank harus untung walau dijejali dengan tanggung jawab moral sebagai agent of development. Ketika kemakmuran meningkat, ekonomi tumbuh pesat, maka uang akan semakin deras masuk kebank dan tidur. Mengapa ? karena ini memang dokrin secular bahwa bila pendapatan berlebih setelah dipotong belanja maka menabunglah dibank.Negara juga, kalau pendapatan berlebih, juga menabung. Makin besar tabungan negara semakin perkasa negara itu. 

Sejak tahun 90an Eropa , jepang, tumbuh dengan pesat. Budaya jepang dan Eropa memang gemar menabung dan hidup teratur sebagai pekerja kolompok. Akibatnya uang semakin membanjiri brankas bank. Kekuatan cash in berupa tabungan yang begitu besar sementara pengeluaran untuk pembiayaan project yang begitu rendah, maka membuat bank kesulitan mengatasi banjir likuiditas ini. Bank mengalami bleeding karena interest spread negative. Mengapa bank kesulitan untuk menyalurkan dana ? karena ini berkaitan dengan ketentuan yang ditetapkan oleh Bank international for settlement yang berhubungan dengan pengelolaan resiko dan prinsip kesehatan bank. Pengelolaan resiko berkaitan dengan kualitas kredit yang harus free riskless. Kesehatan bank adalah kepatuhan memenuhi kecukupan modal ( CAR dan Reserve Requirement). Ini harus dipatuh oleh seluruh bank central didunia. Dua hal ini tidak mudah dan selalu dilemma. Seperti orang pakai sarung. Ditutup kepala kaki nongol, ditutup kaki,kepala nongol.

Keadaan semakin betambah runyam karena orang kaya Arab yang mendapatkan berkah petro dollar juga gemar menabung dan malas berbagi. Dana mereka  memenuhi brankas perbankan di eropa. Posisi likuiditas sudah sampai pada titik meruntuhkan system perbankan di Eropa. Pada saat itulah tahun 1998, Joseph J. Cassano, seorang sarjana bidang political science dari Brooklyn College mengajukan proposal kepada JP Morgan tentang Credit Default SWAPS ( CDS). CDS adalah jaminan resiko atas kredit. Analogi singkatnya bila bank kelebihan dana , ia bisa membeli kredit dari bank lain atau lembaga keuangan. Resiko atas gagal bayar ini ditanggung oleh asuransi. Besaran premi asuransi yang harus dibayar oleh sipenjual kredit tergantung dari tingkat resiko ( biasanya diukur dari tingkat rating). Nah melalui skema CDS ini produk marketable securities berkembang luas, dari yang real sampai yang sintetik  bertaburan dilantai bursa.Walau settlement untuk CDS itu ada yag physical settlement dan cash settlement namun pada kenyataannya cash settlement lebih digemari tanpa harus tahu apakah CDS itu benar ada phisik dibelakannya. Berkat CDS inilah bank di Eropa dan Jepang terselamatkan dari bleeding akibat banjirnya likuiditas.

Penjual CDS terbesar adalah Amerika Serikat dan Pelindung resiko terbesar juga adalah AS (misal AIG ). Maklum saja karena AS adalah Negara yang paling innovative menciptakan saluran investasi dan negara yang paling rakus berkonsumsi ( termasuk pemerintah ) serta negara yang paling kuat dukungan system keuangan. Sebagian dana hasil penjualan surat berharga itu masuk kesektor riel untuk pembiayaan project perusahaan afiliasi AS yang beroperasi dibanyak Negara ( terbesar masuk ke China, Brazil dan India ). Adapula yang dipinjam oleh pemerintah AS sendiri, disamping memang untuk memenuhi konsumsi rakyat AS yang rakus. Belakangan karena Eropa dan jepang terus kebanjiran likuiditas sementara saluran investasi sector riel melambat akibat fluktuasi ekonomi global seperti  hancurnya bisnis dot.com tahun 2000, maka AS menciptakan sendiri wahana investasi sector riel melalui kredit perumahan ( mortgage ).  Bahkan aturan ketat soal CDS tahun 2000 dihapus oleh Parlemen AS, dan sejak itu kreatifitas jual beli surat hutang tak bisa lagi dibatasi. 

Sampai pada puncaknya semua harus dibayar dan modal yang keluar dari brangkas bank itu bukan berbiaya murah. Tahun 2008 ketika system jual beli hutang ( marketable securities) berkatagori AAA itu tidak mampu membayar resiko gagal maka kepanikan terjadi. Hanya butuh beberapa jam saja setelah itu aksi lepas  terjadi besar besaran di bursa. Krisis terjadi. Diawali di AS dan terus menjalar ke Eropa, hanya masalah waktu akan terus menjalar keseluruh dunia. Prinsip bank tidak boleh ambil resiko ternyata dengan instrument CDS yang dianggap aman sesuai kuridor BIS justru menjadikan bank sebagai pesakitan dan akhirnya memaksa negara harus mem bailout. Banyak orang menganalisa krisis ini dari berbagai perspektif tapi tidak pernah masuk kemasalah esensi dari penyebab krisis itu sendiri. Apa penyababnya ? Penyababnya adalah mindset bahwa kelebihan dana setelah berkonsumsi harus menabung. Mengapa harus nabung ? Mengapa tidak sharing dalam skema yang saling menguntungkan dan menjaga ? Menurut teori ekonomi secular memang tidak ada istilah sharing. Harta adalah milik pribadi dan setiap pribadi berkuasa atas hartanya. Negara tidak bisa mencampuri ini dan justru harus menyediakan alat perlindungan agar harta orang kaya tetap aman.

33 negara miskin mempunyai hutang luar negeri yang mencekik sebesar USD 80 milliar. Bandingkan nilai bailout 10 bank besar di AS yang mencapai USD 800 miliar. Andaikan prinsip sharing ini dari dulu  diterapkan maka kelebihan dana itu bisa membantu Negara ketiga merampingkan APBN nya dari jeratan hutang dan lebih berdaya menggerakan perekonomian. Pasar akan meluas, wahana investasi sector real aka meluas untuk menampung kelebihan dana tersebut dan krisis tidak perlu terjadi. Dan tentu instrument investasi ilusi tidak perlu ada untuk menyerap dana berlebih dari orang yang gemar menabung tapi malas berbagi. Jadi islam benar adanya. Bahwa harta harus berfungsi social karena semua adalah milik Allah dan harus kembali kepada Tuhan. Selagi pinsip kelebihan dana harus ditabung dan menjadi mindset bagi semua termasuk pemerintah maka selama itupula krisis akan terus terjadi dan manusia hidup sangat renta. Akankah Eropa, Jepang dan AS menyadari soal ini? Entahlah

Thursday, October 11, 2012

Meraih ikhlas...


Dalam hadits disebutkan  Dahulu ada seekor anjing yang berputar-putar mengelilingi sumur, anjing tersebut hampir-hampir mati karena kehausan, kemudian hal tersebut dilihat oleh salah seorang pelacur dari bani israil, ia pun mengisi sepatunya dengan air dari sumur dan memberikan minum kepada anjing tersebut, maka Allah pun mengampuni dosanya.” (HR Bukhari Muslim). Anjing dan Pelacur itu berbeda. Satu binatang dan satunya lagi adalah manusia. Anjing itu bukan peliharaan wanita itu. Mereka bertemu ditempat yang sama karena sama sama membutuhkan air minum. Anjing tak mampu meraih air itu namun wanita itu dapat dengan mudah meraih air itu karena kedua tanganya. Apabila wanita pelacur itu sampai menggunakan sepatunya untuk mengambil air dan memberikannya kepada anjing itu, maka itu benar benar tidak ada hubungan komersial tersurat maupun tersirat. Ini hanya given. Wanita itu melihat anjing kehausan dan dia sendiri tahu rasanya kehausan. Diapun berbuat begitu saja. Lewat kisah itu Allah mengajakan kepada Rasul bagaimana makna ikhlas itu sesungguhnya.

Dalam keterbatasan ilmu agama , sangat sulit memahami bagaimana mungkin seorang pelacur yang jelas jelas berbuat maksiat untuk makan namun hanya karena perbuatan baik kepada anjing , lantas masuk sorga. Tapi begitulah tingginya nilai ikhlas itu dihadapan Allah. Berbuat baik berlaku ikhsan memang tidak mudah. Seorang yang berani berkata dia paling ikhlas sebetulnya pada waktu bersamaan dia sedang mempertontonkan sifat tidak ikhlas itu sendiri. Ikhlas adalah perbuatan bukan kata kata. Ikhlas memberikan sesuatu yang pada waktu bersamaan kita sangat membutuhkannya hanya karena merasa itu lebih baik bagi orang lain. Ikhlas melepaskan ego karena jabatan, nama baik, harta, ketika berbuat bahkan harapan sorgapun tak terpikirkan. Ah, rasanya terlalu panjang mengungkapkan sifat ikhlas itu sendiri karena semakin diungkapkan semakin kita sadar sangat sulit meraihnya. Apalagi diera yang serba tidak jelas dan semua diukur dengan transaksional, ikhlas semakin utopis diungkapkan.

Lantas bagaimana meraih sifat ikhlas itu ? kemarin waktu diruang tunggu bandara KLIA saya bertemu dengan seorang kenalan. Dia mengatakan bahwa setiap manusia punya GEN ikhlas itu yang diturunkan langsung dari kedua orang tuanya. Apakah kedua orang tua kita ahli ibadah atau bukan, namun sikap memberi dan berkorban pasti ada pada kedua orang tua, khususnya ibu.  Ini sudah di design oleh Alah. Ketika malam rasa kantuk begitu beratnya membawa mata terpejam namun ketika bayi terbangun maka bersegera si ibu bangun dan menyusukan bayinya. Rasa kantuk hilang begitu saja. Saya pernah menyaksikan seorang ibu disebuah kota diluar negeri dimana dia membersihkan nasi yang dipungutnya didalam tong sampah dengan mulutnya.Setelah bersih, makanan itu disuapkan kepada anaknya. Suapan itu tidak dengan tangan tapi dari mulut kemulut. Siibu makan kotoran dan sianak makan nasi yang bersih. Subhanallah. Orang tua selalu memberi dan berjuang melakukan apa saja untuk anak anaknya. Tak akan pernah ada kepentingan pribadi bagi orang tua ketika harus berkorban untuk anak anaknya..

Keagungan Rasul Muhammad SAW adalah sifat ikhlas itu sendiri. Seluruh Nabi Allah mempunyai sifat ikhlas itu. Dari sifat para rasul yang terekam dalam hadith  dan AL Quran itu kita dibekali ilmu untuk meraih ikhlas. Itu adalah ilmu namun implementasinya diperlukan GEN pengikat didalam diri kita agar sunnatullah terjadi dengan sempurna. Untuk menghidupkan Gen ikhlas itu maka diperlukan hubungan yang intim dan empati tinggi kepada kedua orang tua. Anak harus terus menjalin komunikasi dengan kedua orang tua,  baik secara phisik maupun melalui doa sebagai ujud rasa syukur dan berterima kasih. Maafkan orang tua ketika sifat dan prilakunya kadang membuat kita kecewa. Beri apa yang terbaik yang kita punya. Dalam situasi apapun tetaplah lemah lembuh kepada orang tua.  Sikap hormat dan menyayangi kedua orang tua bukan hanya dalam bentuk kata kata tapi perbuatan yang selalu menjaga perasaan orang tua, membelanya , memuliakannya dan melindunginya dengan penuh kasih sebagaimana orang tua telah lakukan kepada kita sedari kecil.

BIla kita berbakti kepada kedua orang maka hati kita pasti lembut.Gen kasih sayang sebagai nilai nilai ikhlas itu akan terus menyala. Kita akan mudah berempati untuk berbuat dan memberi kepada siapapun yang membutuhkan pertolongan. Bila Allah meminta kita berikrar “Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.” (QS al-An’aam [6]: 162) dalam setiap sholat lima waktu maka ikrar itu akan melekat dalam GEN kita untuk terus bercahaya didalam hati. HIngga semua yang terjadi dalam hidup ini  memanglah proses yang harus kita hadapi dengan ikhlas tanpa harus berpikir banyak dengan akal yang serba terbatas ini. firman Allah dalam hadith Qudsi “Keikhlasan adalah rahasia yang diambil dari rahasia-rahasia-Ku. Aku telah menempatkannya sebagai amanat di hati sanubari hamba-hamba-Ku yang Aku Cintai.” Peliharalah GEN ikhlas yang sudah ada dihati kita. Cintai orang tua , sayangi mereka sebagai mana cinta mereka yang tiada bertepi untuk kita. 

Ingatlah firman Allah “Dan Kami perintahkan kepada manusia (untuk berbuat baik) kepada kedua orang tuanya, (terutama kepada ibunya), karena ibunyalah yang mengandungnya dengan berbagai susah payah, dan menyapihnya dalam (umur) dua tahun. Oleh karena itu hendaklah kamu bersyukur kepada Ku (hai manusia) dan juga kepada Kedua orang tuamu.” ( QS. Luqman 14 ). Karenanya anak yang durhaka kepada orang tua pasti tidak ada ikhlas dihatinya. Ia pantas menjadi musuh Allah karena nikmat ikhlas yang diturunkan Allah melalui orang tuanya tidak diterimanya dengan rasa syukur tapi dikaburkan oleh sifat sombong. “Dari Abdullah Ibnu Amar al-’Ash Radliyallaahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Keridloan Allah tergantung kepada keridloan orang tua dan kemurkaan Allah tergantung kepada kemurkaan orang tua.” (HR-Tirmidzi).Ya,bIla sama orang tua tidak bisa berterimakasih maka manapula mungkin ia bisa berterimakasih kepada Allah dengan berbuat untuk dan karena Allah. 

Goyahnya kapitalisme sebagai isme dari secular yang dilanda krisis tiada henti karena rumah jompo semakin sesak dipenuhi oleh orang tua akibat anak yang durhaka. Tentu kamunitas mental kapitalisme yang berkata Money is the second God in the world itu tidak mengenal kata ikhlas. Semua berujung kepada kepentingan pribadi. Tauziah singkat dari seorang kenalan di bandara KLIA.Subhanallah. Ingat akan lagu ketika saya masih kanak kanak : Kasih ibu kepada beta/ Tak terhingga sepanjang masa/Hanya memberi tak harap kembali... Saya merindukan ibu saya. Sangat rindu untuk senantiasa menyuci kakinya dan mengharapkan ridhonya, ridho Allah. Ya, Allah sayanginlah kedua orang tuaku sebagaimana dia menyayangiku sedari kecil...

Wallahualam

Sunday, October 07, 2012

Mental penegak Hukum, Korup ?


Minggu lalu setelah usai makan siang dengan relasi di restoran rumah daun, saya bertemu dengan teman lama. Dia sudah hampir enam tahun tinggal di Singapore karena alasan mendampingi putranya sekolah disana dan juga karena alasan business nya lebih mudah berkembang disana. Menurutnya hal yang paling aman bagi keluarga adalah apabila mendapatkan lingkungan pendidikan yang baik. Singapore memang dikelola dengan moral hukum yang tinggi. Hukum tegak karena para aparat hukum bekerja secara professional. Mereka dibayar mahal dari uang pajak dan rakyat mendapatkan hasil dari pekerjaan mereka itu. Di Indonesia, hal tersebut masih sangat jauh. Aparat hukum tidak merasa hidup dari uang rakyat. Mereka bergelimang harta dari para criminal. Bagaimana mungkin, tanyanya, seorang yang jelas jelas terbukti sebagai produsen narkoba yang terancam hukuman mati, oleh hakim agung dibebaskan menjadi hukuman 15 tahun penjara. Apakah hakim itu tidak tahu bahwa akibat dari produksi narkoba itu telah mengakibatkan kerusakan moral dan phisik yang sangat parah bagi pengguna. Umunya korban narkoba adalah mereka usia produktif. 

Narkoba sangat berbahaya bagi pemakai. Karena dia merusak susunan syarat dan merusak organ dalam tubuh manusia. Sekali manusia masuk dalam dunia narkorba maka untuk keluar sangat sulit. Tidak ada sifat baik yang ditimbulkan akibat Narkoba. Korban bagaikan zombi. Ketika di China saya tanyakan kepada teman mengenai hukuman bagi pengguna maupun pengedar. Teman itu mengatakan dengan tegas bahwa sangsinya adalah hukuman mati. Mengapa? Karena tugas utama Negara adalah membangun karakter bangsa. Karakter yang sangat potensi bagi masyarakat adalah adanya rasa kesetia kawanan, rasa hormat dan kasih sayang. Dengan karakter tersebut maka kebersamaan akan terbangun. Yang sulit menjadi mudah dan yang sempit menjadi lapang. Namun bila orang sudah terkena narkoba, karakternya sebagai orang beradab hilang. Potensinya sebagai asset bangsa hilang. Dia menjadi beban keluarga dan masyarakat. Bagi pengedar maupun pemakai tidak ada cara terbaik untuk mengatasinya melainkan eliminate dari kehidupan. Negara tidak mau ambil resiko karena akibat ulah mereka bisa mengganggu orang lain. Negara harus keras soal ini bila ingin tetap membangun diatas kekuatan moral masyarakat beradab. Ya Bandar Narkoba dan Koruptor bernasip baik tinggal di republik ini. Karena bila di china mereka sudah dihukum mati dengan proses pengadilan yang cepat.

Seorang teman yang pengacara pernah berkata kepada saya bahwa apapun kejahatan yang melibatkan putaran uang besar maka itu akan menjadi wahana seia sekata oleh para penegak hukum. Semua punya kuasa untuk menentukan berapa porsi uang yang harus didapatnya atas kejahatan itu dan pelaku harus sadar soal kekuasaan itu. Pakem inilah yang dimainkan oleh pengacara untuk membuat hukum yang memang sudah grey area menjadi semakin grey. Ketika Polisi menangkap pelaku, polisi mengumpulkan segala bukti untuk pantas diajukan ke Jaksa penuntut. Disini proses transaksi diawali. Bukti kesalahan yang terkait dengan pasal kejahatan dibuat lemah. Ketika sampai di meja Jaksa, dakwaan di buat lemah agar Pengacara lebih mudah membela dipengadilan. Maklum di Indonesia , hakim hanya boleh mengadili apa yang dituntut oleh jaksa. Pengacara hanya boleh membela apa yang didakwakan oleh Jaksa. Ketika disidang, hakim punya kuasa dan pengacara mengelola sidang untuk memudahkan hakim membuat keadilan versi pengacara. Pelaku menang. Hasilnya Produsen Narkoba dibebaskan dari hukuman mati menjadi kurungan badan. Tak ada koruptor yang di hukum mati.

Menurut teman saya masalah di Indonesia adalah rumitnya system hukum dan perundang undangan yang ada. Banyak pasal pidana berada di grey area. Sehingga baik polisi, jaksa maupun pengacara, hakim bisa bermain main dengan pasal pasal grey area tersebut untuk menghasilkan keputusan korup. Masing masing lembaga punya kekuasaan yang diatur dalam undang undang berbeda. Itu sebabnya KPK dan polisi tak akur. Sementara pengacara yang ikut andil dalam peradilan hanya diatur dalam kode etik. Jadi harus ada restruktur hukum yang menyeluruh mengenai peran hakim, jaksa, polisi , pengacara dalam satu kuridor yaitu undang undang system Peradilan. Disamping itu harus ada keberanian dari pemimpin yang dipilih rakyat entah itu president atau DPR untuk melakukan rasionalisasi aparat hukum secara terprogram. Qualifikasi tidak hanya didasarkan kepada pendidikan akadamis tapi juga oleh kemampuan spiritual emotion dalam memaknai tugas yang diemban ini. Semua lembaga peradilan harus tunduk pada satu system pengawasan untuk memastikan para aparat hukum tetap berjalan dijalur yang benar sesuai amanat undang undang untuk keadilan dan kebenaran.

Bagi saya pengawasan yang paling ampuh adalah diri manusia itu sendiri. Dalam ajaran Islam ada istilah trilogi ajaran Ilahi yakni iman, islam dan ikhsan. Ketiga-tiganya tidak dapat dipisah satu sama yang lain, bahkan ketiga-tiganya merupakan satu kesatuan yang utuh atau saling tumpang tindih. Dalam satu di antara ketiganya ada dua istilah yang masuk, sehingga dalam Islam ada iman dan ihsan. Dalam iman ada islam dan ikhsan serta dalam ikhsan terdapat islam dan iman. Namun puncak dari ketiganya adalah ikhsan. Ikhsan inilah yang merupakan sifat yang terwujud dalam tindakan sehingga ikhsan yang berarti "berbuat kebaikan dan memperbaiki" akan selalu mengutamakan the truth diatas segala galanya. Berarti kebaikan yang diinginkan oleh Islam harus dilandasi dengan akhlak  karena kebaikan atau "al-birr" adalah sikap yang baik, sikap ketaatan, sikap yang benar, sikap yang saleh serta  didasari oleh hati nurani namun tetap tangguh menegakkan keadilan. Bila para penegak hukum adalah mereka yang beriman, islam dan ikhsan maka kebenaran , kebaikan dan keadilan akan tegak. Inilah yang langka di republic ini. Makanya system dikorup oleh mental korup, untuk semakin mewabahnya budaya korup. Hal ini sangat mengkawatirkan karena berdampak kepada  kepercayaan publik semakin rendah kepada pemerintah.

Monday, October 01, 2012

Tawuran pelajar ...?


Satu kesempatan ketika di luar negeri, saya berkunjung kerumah teman. Ketika itu dia baru saja kedatangan tamu dari Sekolah Anaknya. Dia sempat bercerita sedikit prihal kedatangan guru kerumahnya. Menurutnya , guru merasa prihatin karena anaknya belakangan ini cenderung pendiam. Kadang tidak focus menerima pelajaran. Guru menemuinya untuk berdialogh mencari tahu akar masalah terhadap prilaku anaknya. Dialogh itu diliputi suasana rasa tanggung jawab bersama tanpa ada saling menyalahkan. Menurutnya, Guru sekolah jarang memanggil orang tua murid datang kesekolah. Kebanyakan guru sendiri yang datang ke rumah orang tua. Guru bukan hanya datang untuk bertemu tapi juga melihat lingkungan dimana anak itu dibesarkan. Kadang bila lingkungan anak itu tidak mendukung dan orang tua sulit diarahkan demi anaknya maka Guru wajib melaporkan kepada dinas social untuk diambil solusi yang tepat demi masa depan anak itu. Jadi tanggung jawab kelangsungan mental anak didik menjadi tanggung jawab tidak hanya guru sekolah , orang tua tapi juga pemerintah. Tanggung jawab nyata dan terprogram, bukan hanya retorika.

Ada cerita teman yang putranya sekolah di swasta ( international school ), salah satu murid diketahui acap murung setelah kematian ayahnya. Nilai pelajarannya menurun. Dia lebih mudah marah dan sulit bersosial dengan teman temannya. Padahal sebelumnya murid ini dikenal cerdas, ramah. Disekolah itu disediakan petugas konseling atau guru BP ( Bimbingan dan Penyuluhan). Guru BP mendapatkan laporan lengkap dari guru yang mengajar dan ditambah lagi guru BP itu memang akrab dengan semua murid, sehingga tidak sulit untuk mendapatkan informasi  yang objective tentang murid itu. Guru itu mengajak murid yang bermasalah dalam dialogh ringan dan bersahabat. Dia seorang professional. Hasil pendekatan itu diketahui letak permasalahanya dimana ibu murid itu setelah kematian suami mentalnya tidak stabil. Acap marah tanpa alasan yang jelas, Kadang mengancam anaknya  untuk berhenti sekolah karena tidak ada biaya. Dengan kemampuanya Guru BP  menciptakan inspirasi kepada murid murid yang lain agar membantu masalah temannya. Setiap murid meng ikhlaskan sebagian uang sakunya membantu murid itu. Murid itu terharu dan sadar bahwa dia tidak sendirian dan semua temannya mencintainya dan dia kembali ceria dan berprestasi.

Demikianlah satu contoh bagaimana peran Guru BP. Namun untuk bisa seperti itu guru  BP harus seorang professional dan punya qualifikasi yang tinggi sebagai Pembina. Jadi bukan hanya jabatan pelengkap saja, yang bisa dijabat oleh siapa saja. Ini penting sebagai sebuah system yang memastikan sekolah tidak hanya memberikan bekal pengatahuan teoritis pelajaran formal tapi juga binaan kejiwaan melalui pendekatan professional. Karena anak bermasalah di sekolah tidak bisa dilepaskan dari masalah yang ada dirumah juga dilingkungannya.  Guru sekolah harus ambil bagian nyata terhadap pernyelesain masalah itu. Tidak hanya sekedar memanggil orang tua dan menceramahinya. Tapi lebih daripada itu adalah menggali akar masalah dan bersama sama mencarikan jalan keluar bagi kelangsungan perkembangan  mental anak didik. DIsamping itu Guru BP harus mempunyai daya kreatifitas bagaimana menumbuhkan semangat kebersamaan diatara murid, antar sekolah lewat kegiatan nyata. Agar terjalin rasa persaudaraan , rasa cinta dan kasih sayang diantara murid.

Umumnya kita di Indonesia , setiap sekolah mempunyai guru yang bertugas memberikan Bimbingan dan Penyuluhan (BP) terhadap murid yang berpotensi bermasalah karena berbagai sebab. Seharusnya fungsi guru BP diefektifkan. Tugasnya hanya focus sebagai Pembimbing dan pembinaan. Tidak bisa dicampur dengan tugas mengajar. Kepada mereka juga harus disediakan anggaran khusus untuk pembinaan itu. Setiap guru yang mengajar di kelas pasti mengetahui prilaku masing masing murid. Apabila ada prilaku yang tersirat tidak baik maka guru harus membuat catatan khusus terhadap anak itu. Catatan ini harus diberikan kepada Guru BP. Sehingga tidak ada satupun prilaku anak murid yang tidak terekam oleh guru dan tidak terjangkau pembinaannya. Guru BP yang dibekali  pengetahuan cukup tentang psikologi anak, moral, akhlak sesuai agama akan membina anak murid tersebut. Secara berkala setiap murid yang bermasalah dipantau perkembangannya. Pendekatan komunikasi kepada anak didik dan kunjungan kerumah murid dilakukan secara terprogram dan bila perlu punishment diterapkan untuk menimbulkan efek jera bagi simurid.

Banyak berita kebejatan moral anak sekolah sekarang ini merupakan fakta tidak jalanya  system pendidikan di Indonesia yang berorientasi kepada moral dan akhlak. Ini bekaitan dengan new paradigms pendidikan yang berorientasi kepada pasar. Murid hanya diukur prestasinya dari kemampuannya mendapatkan nilai ujian. Soal akhlak dan moral  , tidak menjadi prioritas utama. Jam pelajaran agama disekolah sudah dikurangi bobotnya. Pemahaman soal budaya berdasarkan moral kasih sayang  hampir tidak lagi diperhatikan. Keberadaan guru BP tak lebih hanya pelengkap formal tanpa peduli pentingnya guru BP sebagai bagian dari system pendidikan di sekolah. Sebagai solusi maka saatnya bobot agama pada semua jenjang pendidikan ditingkatkan dan peran Guru BP harus dioptimalkan. Dengan itu diharapkan dimasa mendatang akan lahir generasi muda yang berilmu pengetahuan dan beragama dengan akhlak kasih sayang. Tentuk tidak ada lagi tawuran dikalangan pelajar sampai menjadikan mereka sebagai  seorang pembunuh.

Ambisi yang merusak

  Pada tanggal 17 Desember 2011, Presiden Korea Utara, Kim Jong-il meninggal dunia. Di Korut, Politik Pemujaan terhadap Kim Jong-il sudah bi...