Thursday, October 11, 2012

Meraih ikhlas...


Dalam hadits disebutkan  Dahulu ada seekor anjing yang berputar-putar mengelilingi sumur, anjing tersebut hampir-hampir mati karena kehausan, kemudian hal tersebut dilihat oleh salah seorang pelacur dari bani israil, ia pun mengisi sepatunya dengan air dari sumur dan memberikan minum kepada anjing tersebut, maka Allah pun mengampuni dosanya.” (HR Bukhari Muslim). Anjing dan Pelacur itu berbeda. Satu binatang dan satunya lagi adalah manusia. Anjing itu bukan peliharaan wanita itu. Mereka bertemu ditempat yang sama karena sama sama membutuhkan air minum. Anjing tak mampu meraih air itu namun wanita itu dapat dengan mudah meraih air itu karena kedua tanganya. Apabila wanita pelacur itu sampai menggunakan sepatunya untuk mengambil air dan memberikannya kepada anjing itu, maka itu benar benar tidak ada hubungan komersial tersurat maupun tersirat. Ini hanya given. Wanita itu melihat anjing kehausan dan dia sendiri tahu rasanya kehausan. Diapun berbuat begitu saja. Lewat kisah itu Allah mengajakan kepada Rasul bagaimana makna ikhlas itu sesungguhnya.

Dalam keterbatasan ilmu agama , sangat sulit memahami bagaimana mungkin seorang pelacur yang jelas jelas berbuat maksiat untuk makan namun hanya karena perbuatan baik kepada anjing , lantas masuk sorga. Tapi begitulah tingginya nilai ikhlas itu dihadapan Allah. Berbuat baik berlaku ikhsan memang tidak mudah. Seorang yang berani berkata dia paling ikhlas sebetulnya pada waktu bersamaan dia sedang mempertontonkan sifat tidak ikhlas itu sendiri. Ikhlas adalah perbuatan bukan kata kata. Ikhlas memberikan sesuatu yang pada waktu bersamaan kita sangat membutuhkannya hanya karena merasa itu lebih baik bagi orang lain. Ikhlas melepaskan ego karena jabatan, nama baik, harta, ketika berbuat bahkan harapan sorgapun tak terpikirkan. Ah, rasanya terlalu panjang mengungkapkan sifat ikhlas itu sendiri karena semakin diungkapkan semakin kita sadar sangat sulit meraihnya. Apalagi diera yang serba tidak jelas dan semua diukur dengan transaksional, ikhlas semakin utopis diungkapkan.

Lantas bagaimana meraih sifat ikhlas itu ? kemarin waktu diruang tunggu bandara KLIA saya bertemu dengan seorang kenalan. Dia mengatakan bahwa setiap manusia punya GEN ikhlas itu yang diturunkan langsung dari kedua orang tuanya. Apakah kedua orang tua kita ahli ibadah atau bukan, namun sikap memberi dan berkorban pasti ada pada kedua orang tua, khususnya ibu.  Ini sudah di design oleh Alah. Ketika malam rasa kantuk begitu beratnya membawa mata terpejam namun ketika bayi terbangun maka bersegera si ibu bangun dan menyusukan bayinya. Rasa kantuk hilang begitu saja. Saya pernah menyaksikan seorang ibu disebuah kota diluar negeri dimana dia membersihkan nasi yang dipungutnya didalam tong sampah dengan mulutnya.Setelah bersih, makanan itu disuapkan kepada anaknya. Suapan itu tidak dengan tangan tapi dari mulut kemulut. Siibu makan kotoran dan sianak makan nasi yang bersih. Subhanallah. Orang tua selalu memberi dan berjuang melakukan apa saja untuk anak anaknya. Tak akan pernah ada kepentingan pribadi bagi orang tua ketika harus berkorban untuk anak anaknya..

Keagungan Rasul Muhammad SAW adalah sifat ikhlas itu sendiri. Seluruh Nabi Allah mempunyai sifat ikhlas itu. Dari sifat para rasul yang terekam dalam hadith  dan AL Quran itu kita dibekali ilmu untuk meraih ikhlas. Itu adalah ilmu namun implementasinya diperlukan GEN pengikat didalam diri kita agar sunnatullah terjadi dengan sempurna. Untuk menghidupkan Gen ikhlas itu maka diperlukan hubungan yang intim dan empati tinggi kepada kedua orang tua. Anak harus terus menjalin komunikasi dengan kedua orang tua,  baik secara phisik maupun melalui doa sebagai ujud rasa syukur dan berterima kasih. Maafkan orang tua ketika sifat dan prilakunya kadang membuat kita kecewa. Beri apa yang terbaik yang kita punya. Dalam situasi apapun tetaplah lemah lembuh kepada orang tua.  Sikap hormat dan menyayangi kedua orang tua bukan hanya dalam bentuk kata kata tapi perbuatan yang selalu menjaga perasaan orang tua, membelanya , memuliakannya dan melindunginya dengan penuh kasih sebagaimana orang tua telah lakukan kepada kita sedari kecil.

BIla kita berbakti kepada kedua orang maka hati kita pasti lembut.Gen kasih sayang sebagai nilai nilai ikhlas itu akan terus menyala. Kita akan mudah berempati untuk berbuat dan memberi kepada siapapun yang membutuhkan pertolongan. Bila Allah meminta kita berikrar “Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.” (QS al-An’aam [6]: 162) dalam setiap sholat lima waktu maka ikrar itu akan melekat dalam GEN kita untuk terus bercahaya didalam hati. HIngga semua yang terjadi dalam hidup ini  memanglah proses yang harus kita hadapi dengan ikhlas tanpa harus berpikir banyak dengan akal yang serba terbatas ini. firman Allah dalam hadith Qudsi “Keikhlasan adalah rahasia yang diambil dari rahasia-rahasia-Ku. Aku telah menempatkannya sebagai amanat di hati sanubari hamba-hamba-Ku yang Aku Cintai.” Peliharalah GEN ikhlas yang sudah ada dihati kita. Cintai orang tua , sayangi mereka sebagai mana cinta mereka yang tiada bertepi untuk kita. 

Ingatlah firman Allah “Dan Kami perintahkan kepada manusia (untuk berbuat baik) kepada kedua orang tuanya, (terutama kepada ibunya), karena ibunyalah yang mengandungnya dengan berbagai susah payah, dan menyapihnya dalam (umur) dua tahun. Oleh karena itu hendaklah kamu bersyukur kepada Ku (hai manusia) dan juga kepada Kedua orang tuamu.” ( QS. Luqman 14 ). Karenanya anak yang durhaka kepada orang tua pasti tidak ada ikhlas dihatinya. Ia pantas menjadi musuh Allah karena nikmat ikhlas yang diturunkan Allah melalui orang tuanya tidak diterimanya dengan rasa syukur tapi dikaburkan oleh sifat sombong. “Dari Abdullah Ibnu Amar al-’Ash Radliyallaahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Keridloan Allah tergantung kepada keridloan orang tua dan kemurkaan Allah tergantung kepada kemurkaan orang tua.” (HR-Tirmidzi).Ya,bIla sama orang tua tidak bisa berterimakasih maka manapula mungkin ia bisa berterimakasih kepada Allah dengan berbuat untuk dan karena Allah. 

Goyahnya kapitalisme sebagai isme dari secular yang dilanda krisis tiada henti karena rumah jompo semakin sesak dipenuhi oleh orang tua akibat anak yang durhaka. Tentu kamunitas mental kapitalisme yang berkata Money is the second God in the world itu tidak mengenal kata ikhlas. Semua berujung kepada kepentingan pribadi. Tauziah singkat dari seorang kenalan di bandara KLIA.Subhanallah. Ingat akan lagu ketika saya masih kanak kanak : Kasih ibu kepada beta/ Tak terhingga sepanjang masa/Hanya memberi tak harap kembali... Saya merindukan ibu saya. Sangat rindu untuk senantiasa menyuci kakinya dan mengharapkan ridhonya, ridho Allah. Ya, Allah sayanginlah kedua orang tuaku sebagaimana dia menyayangiku sedari kecil...

Wallahualam

No comments:

Bencana itu karena Tuhan murka?

  Tahun 2008 atau tepatnya 14 Mei saya mendengar kabar dari berita TV terjadi gempa di Sichuan China. Saya teringat dengan sahabat saya yang...