Monday, October 01, 2012

Tawuran pelajar ...?


Satu kesempatan ketika di luar negeri, saya berkunjung kerumah teman. Ketika itu dia baru saja kedatangan tamu dari Sekolah Anaknya. Dia sempat bercerita sedikit prihal kedatangan guru kerumahnya. Menurutnya , guru merasa prihatin karena anaknya belakangan ini cenderung pendiam. Kadang tidak focus menerima pelajaran. Guru menemuinya untuk berdialogh mencari tahu akar masalah terhadap prilaku anaknya. Dialogh itu diliputi suasana rasa tanggung jawab bersama tanpa ada saling menyalahkan. Menurutnya, Guru sekolah jarang memanggil orang tua murid datang kesekolah. Kebanyakan guru sendiri yang datang ke rumah orang tua. Guru bukan hanya datang untuk bertemu tapi juga melihat lingkungan dimana anak itu dibesarkan. Kadang bila lingkungan anak itu tidak mendukung dan orang tua sulit diarahkan demi anaknya maka Guru wajib melaporkan kepada dinas social untuk diambil solusi yang tepat demi masa depan anak itu. Jadi tanggung jawab kelangsungan mental anak didik menjadi tanggung jawab tidak hanya guru sekolah , orang tua tapi juga pemerintah. Tanggung jawab nyata dan terprogram, bukan hanya retorika.

Ada cerita teman yang putranya sekolah di swasta ( international school ), salah satu murid diketahui acap murung setelah kematian ayahnya. Nilai pelajarannya menurun. Dia lebih mudah marah dan sulit bersosial dengan teman temannya. Padahal sebelumnya murid ini dikenal cerdas, ramah. Disekolah itu disediakan petugas konseling atau guru BP ( Bimbingan dan Penyuluhan). Guru BP mendapatkan laporan lengkap dari guru yang mengajar dan ditambah lagi guru BP itu memang akrab dengan semua murid, sehingga tidak sulit untuk mendapatkan informasi  yang objective tentang murid itu. Guru itu mengajak murid yang bermasalah dalam dialogh ringan dan bersahabat. Dia seorang professional. Hasil pendekatan itu diketahui letak permasalahanya dimana ibu murid itu setelah kematian suami mentalnya tidak stabil. Acap marah tanpa alasan yang jelas, Kadang mengancam anaknya  untuk berhenti sekolah karena tidak ada biaya. Dengan kemampuanya Guru BP  menciptakan inspirasi kepada murid murid yang lain agar membantu masalah temannya. Setiap murid meng ikhlaskan sebagian uang sakunya membantu murid itu. Murid itu terharu dan sadar bahwa dia tidak sendirian dan semua temannya mencintainya dan dia kembali ceria dan berprestasi.

Demikianlah satu contoh bagaimana peran Guru BP. Namun untuk bisa seperti itu guru  BP harus seorang professional dan punya qualifikasi yang tinggi sebagai Pembina. Jadi bukan hanya jabatan pelengkap saja, yang bisa dijabat oleh siapa saja. Ini penting sebagai sebuah system yang memastikan sekolah tidak hanya memberikan bekal pengatahuan teoritis pelajaran formal tapi juga binaan kejiwaan melalui pendekatan professional. Karena anak bermasalah di sekolah tidak bisa dilepaskan dari masalah yang ada dirumah juga dilingkungannya.  Guru sekolah harus ambil bagian nyata terhadap pernyelesain masalah itu. Tidak hanya sekedar memanggil orang tua dan menceramahinya. Tapi lebih daripada itu adalah menggali akar masalah dan bersama sama mencarikan jalan keluar bagi kelangsungan perkembangan  mental anak didik. DIsamping itu Guru BP harus mempunyai daya kreatifitas bagaimana menumbuhkan semangat kebersamaan diatara murid, antar sekolah lewat kegiatan nyata. Agar terjalin rasa persaudaraan , rasa cinta dan kasih sayang diantara murid.

Umumnya kita di Indonesia , setiap sekolah mempunyai guru yang bertugas memberikan Bimbingan dan Penyuluhan (BP) terhadap murid yang berpotensi bermasalah karena berbagai sebab. Seharusnya fungsi guru BP diefektifkan. Tugasnya hanya focus sebagai Pembimbing dan pembinaan. Tidak bisa dicampur dengan tugas mengajar. Kepada mereka juga harus disediakan anggaran khusus untuk pembinaan itu. Setiap guru yang mengajar di kelas pasti mengetahui prilaku masing masing murid. Apabila ada prilaku yang tersirat tidak baik maka guru harus membuat catatan khusus terhadap anak itu. Catatan ini harus diberikan kepada Guru BP. Sehingga tidak ada satupun prilaku anak murid yang tidak terekam oleh guru dan tidak terjangkau pembinaannya. Guru BP yang dibekali  pengetahuan cukup tentang psikologi anak, moral, akhlak sesuai agama akan membina anak murid tersebut. Secara berkala setiap murid yang bermasalah dipantau perkembangannya. Pendekatan komunikasi kepada anak didik dan kunjungan kerumah murid dilakukan secara terprogram dan bila perlu punishment diterapkan untuk menimbulkan efek jera bagi simurid.

Banyak berita kebejatan moral anak sekolah sekarang ini merupakan fakta tidak jalanya  system pendidikan di Indonesia yang berorientasi kepada moral dan akhlak. Ini bekaitan dengan new paradigms pendidikan yang berorientasi kepada pasar. Murid hanya diukur prestasinya dari kemampuannya mendapatkan nilai ujian. Soal akhlak dan moral  , tidak menjadi prioritas utama. Jam pelajaran agama disekolah sudah dikurangi bobotnya. Pemahaman soal budaya berdasarkan moral kasih sayang  hampir tidak lagi diperhatikan. Keberadaan guru BP tak lebih hanya pelengkap formal tanpa peduli pentingnya guru BP sebagai bagian dari system pendidikan di sekolah. Sebagai solusi maka saatnya bobot agama pada semua jenjang pendidikan ditingkatkan dan peran Guru BP harus dioptimalkan. Dengan itu diharapkan dimasa mendatang akan lahir generasi muda yang berilmu pengetahuan dan beragama dengan akhlak kasih sayang. Tentuk tidak ada lagi tawuran dikalangan pelajar sampai menjadikan mereka sebagai  seorang pembunuh.

No comments:

Bencana itu karena Tuhan murka?

  Tahun 2008 atau tepatnya 14 Mei saya mendengar kabar dari berita TV terjadi gempa di Sichuan China. Saya teringat dengan sahabat saya yang...