Menumpang tawa di tempat ramai


 


Tadi saya sedang di kantor Unit bisnis oil and gas di kawasan TB Simatupang. Saat di ruang rapat saya dapat SMS dari teman. “ Papa di rumah sakit kena stroke tadi pagi. Mohon doanya om” Yang WA anaknya. diperlihatkan photo teman saya. Saya terkejut. Pada hal hari ini saya ada janji dengan dia ketemu di kantor saya. Membahas soal rencana bisnis.


Saya perlihatkan kepada Frolerence. Dia terkejut. “ Hidup adalah ketidak sempurnaan. Yang sempurna adalah kematian itu sendiri.” Kata saya.


“ Ya. “ Kata Florence. “ Orang kaya, kadang ingin seperti orang miskin yang bisa hidup nyaman tanpa tekanan berkompetisi. Orang miskin kadang ingin seperti pengemis, yang bisa bebas tanpa pusing kerja keras bayar bill. Pengemis kadang ingin hidup dipenjara yang tapa meminta dapat makan tidur gratis. Hanya kematian yang menghentikan keinginan. Karenanya semua mereka tidak ingin sakit.” lanjut Florence.


“ Tapi orang kaya kadang melihat orang miskin bersukur karena hidupnya tidak kekurangan. Orang miskin bersukur karena hidupnya tidak perlu mengemis. Pengemis bersukur karena dia tetap sehat dan tidak jatuh sakit. Si sakit bersukur karena dia tidak masuk kamar jenazah. Ternyata hanya kematian yang tidak ada istilah sukur. Apapun situasi dan kondisi, kehidupan adalah berkah Karenanya kita semua dipaksa bersukur atas hidup kita. “ Kata saya.


“ Hidup ini jalan kesendirian. Walau kita euforia berada ditempat ramai, itu hanya menumpang tawa saja. Walau kita tinggal di istana, itu hanya menumpang tinggal. Dunia ini hanya persinggahan saja. Bukan rumah kita. “ Kata FLorence.


Kami terdiam. Kadang mendengar teman yang masuk rumah sakit. Saya membayangkan semua harta dan kenikmatan dunia lenyap sudah. Yang ada doa dan harapan tetap hidup. Kadang mendengar teman yang meninggal. Saya merasa hidup adalah seni bencanda yang tidak lucu. Segala yang diperjuangkan, kadang merugikan dan menganiaya orang lain, diri sendiri, ternyata pada satu moment berhenti. Game is over. Tanpa permisi.


Keluar dari kantor, Florence menemani saya menanti taksi. “ sampai kapan kamu akan hidup seperti ini. Terlalu menyiksa diri. Kamu bisa, pakai mobil dan supir kantor, Kamu punya segalanya. “ Tanyanya. Saya tersenyum ketika taksi datang. Segalanya itu pasti akan saya tinggalkan. Dan selagi saya hidup,  saya tidak ingin terlalu mencintai apapun, kecuali Tuhan. Saya bahagia dengan hidup tahu diri, siapa saya. Hanya menupang tawa di tempat rama


Comments

Popular posts from this blog

Keterpurukan ekonomi AS

Politisasi agama

Pria itu