Memilih bersabar.


 


Bebarapa waktu lalu saya bertemu dengan teman lama di Plaza Indonesia. Dia kelitan tua dan lemah. “ Apa kabar jel.”

“ Kabar baik, koh Kim..”

“ Sering ketemu dengan Bahtiar?

“ Engga pernah lagi.”

“ Kamu engga tahu tahun 2008 dia masuk penjara karena Narkoba.

“ Oh ya?. Engga tahu. “ Kata saya dengan nada priihatin.

“Saya udah bangkrut sejak tahun 2003. Habis semua. Bertahun tahun coba bangkit tetapi gagal. Setelah itu Achia tawarin kerja sama dia. Ya kerjaan remeh aja. Tahun kemarin gua antar jemput cucunya. Jadi supir keluarganya. Anak tunggal saya kerja  TKW di Hong Kong. Bini saya udah lama meninggal.”

“ Yang penting sehat.”

“ Saya  ada darah tinggi. Gula juga ada.” Katanya. Usianya sama dengan saya. “ sabar aja ya. “ Kata saya. 


***

Tahun 90 saya ingat. Kim beri informasi bahwa ada orang mau jual tanah. Dia minta tolong saya carikan pembeli. Kebetulan Bahtiar, ada rencana mau bangun ruko. Dia engga punya uang untuk beli tanah itu. Dia tawarkan kerjasama dengan pemilik tanah. Tetapi pemilik tanah tidak mau. Saya buat proposal yang bagus sesuai rencana Bahtiar bangun Ruko. Saya kerjakan buat proposal hampir 7 hari. Setelah itu saya bersama Bahtiar menghadap bank. Setelah sebulan proses pengajuan kredit itu, bank setuju.


Masalahnya Bahtiar tidak bisa serahkan tanah itu sebagai collateral. Koh Kim datang memberikan solusi. “ Gua bayarin aja tanah itu. Tapi gua minta bagian dari selisih beli harga tanah dan jual setelah jadi ruko. Bahtiar setuju. Saya buatkan perjanjian antara Kim, Bahtiar. dan saya. Pembagian selisih harga tanah itu, saya dapat 30%. Kim dapat 40% dan Bahtiar 30%. Kredit akhirnya keluar.


Setahun kemudian, Kim dan Bahtiar panggil saya. Mereka ribut soal bagi bagi. Masalahnya Bahtiar merasa kerja paling banyak sampai proyek itu suskes dan untung.Dia enengga mau berbagi seperti akad. Kim merasa Bahtiar dapat untung gede dari penjualan bangunan. Saya tidak mau mereka bertengkar. 


Saya usulkan. “ Gini saja. Saya engga perlu dapat bagian. Bagian saya ambil aja untuk Kim. “


“ Benar” Kata Kim. Mereka berdua melihat kearah saya. Saya tersenyum dan mengangguk. Mereka setuju. Kasus selesai. “


***

“ Jel, tanya Kim. “ Kenapa dulu kamu begitu mudah mengalah? Padahal kalau engga ada kamu, mana pernah dapatkan kredit bank. Mana mungkin proyek bisa sukses”


“ Kalian berdua sangat kuat. Sementara saa itu saya sedang bangkrut. Saya memilih bersabar daripada melawan. Bukan karena saya takut dan lemah. Tetapi satu satunya harta saya yang tersisa adalah kesabaran. Saya memilih bersabar. Biarlah waktu nanti akan menilai apakah pilihan saya benar atau salah” Kata saya tersenyum.


“ Dan kini terbukti kamu benar dengan pilihan kamu dulu. Bakhtiar terhina di penjara. Saya bangkrut akibat krismon dan tidak lagi bangkit. Andaikan saya punya sifat sabar, mungkin saya bisa melewati kesulitan demi kesulitan tanpa harus terhina. Bakhtiar juga.” Kata Kim. Saya memeluknya. “ Kamu akan baik baik saja. Kamu sudah menemukan hikmah.” Saya genggamkan uang ke tangannya. Dia terharu.


Pesan moral. Disaat lemah, bersabarlah.Disaat kuat adilah. Mengapa?  itu bukan antara anda dan orang lain. Tetapi antara anda dengan Tuhan.


Comments

Popular posts from this blog

Keterpurukan ekonomi AS

Politisasi agama

Pria itu