Sunday, March 06, 2022

Pria itu




Seribu kali saya jelaskan bahwa persepsi saya tentang wanita tidak seperti anda. Pastilah ditertawakan. Karena persepsi anda itu sudah menjadi persepsi mayoritas. Bahwa bohong kalau pria tidak tergoda kepada wanita yang dalam keadaan pasrah. Boong setia kepada istri. Saya maklum.  Makanya saya  tidak berusaha memaksa anda percaya saya kalau persepsi saya beda. Saya akan mengajak anda mengarungi wahana lain. Masuk dalam sebuah melodrama anak manusia. Semoga anda bisa pahami.


Setiap hari anda berhadapan dengan tekanan dari mitra, direksi, kreditur, teman. Mereka membutuhkan solusi dari anda. Walau mereka sumberdaya anda, mereka tetap liabilities bagi anda. Sementara setiap hari anda harus berhadapan dengan kompetisi.  Dikejar komimen. Dikejar target. Semua itu harus anda selesaikan. 


Mengapa ? Karena tekanan itu tidak bisa dihadapi dengan alasan. Tidak butuh retorika. Mereka butuh tindakan anda yang menguntungkan mereka. Soal anda rugi atau jadi korban. Mereka tidak peduli. Diatas anda tidak ada lagi orang lain. Anda sendirian berhadapan dengan itu semua.


Bayangkan. Kalau itu benar benar terjadi pada diri anda. Dalam posisi berhadapan dengan ketidak pastian. Maka kalau anda tidak bisa mengelola emosi maka kemungkinan gagal diatas 50%. Saya yakin anda tidak akan bersedia mengalami hidup seperti itu. Wajar.  Memang tidak  banyak orang bisa menerima kehidupan seperti itu. Apalagi bila itu dialami bukan sehari atau sebulan. Tapi berlangsung puluhan tahun hidup. Yakin anda tidak akan siap. 


Mengapa ? kalau ada orang yang sanggup. Maka pasti kehidupan seperi itu menjadikannya eksklusif. Lonely. Tidak akan sama lagi dengan orang kebanyakan. Dia tidak mungkin idealis. Yang pasti adalah realistis. Tahu diri. itulah jalan hidup saya. Jadi kalau saya punya mitra atau direksi wanita. Tidak ada kaitannya dengan personal. Itu murni alasan bisnis. Ini soal sumber daya yang saya miliki, yang juga liabilities bagi saya. Setiap saat saya harus mengelola emosi.  Setiap hari saya harus berenang di samudera rasa kawatir, takut, nafsu,  rakus, lelah, lemah. Itu manusiawi. Tapi saya harus terus lawan rasa itu semua. Agar  saya tidak ditelan gelombang ganas. Sampai ditujuan dengan selamat. Tidak mudah memang. Sangat berat. 


Hukum alam itu sangat keras. Hukum besi. Salah bersikap patah. Titik. Anda masuk ke sarang Harimau. Tamat hidup anda. Jangan salahkan harimau kalau ada dicabik cabik. Tapi jangan kaget kalau itu tidak berlaku bagi pawang. Itulah analogi sederhana hukum kausalitas. Harimau itu punya standar sebagai predator. Di hadapannya semua mangsa. Kalau pawang bisa jinakan harimau bukan karena harimau takut. Tetapi karena pawang itu cerdas memanfaatkan emosi harimau. 


Apa itu ? reward and punishment. Itulah kecerdasaran manusia dibandingkan hewan. Apakah reward dan punishment itu dilakukan seketika. Tidak. Itu perlu proses. Butuh kesabaran. Sampai akhirnya harimau itu bisa mengerti siapa anda dan siapa dia. Setelah deal terbentuk, persepsi sama. Maka skema reward dan punishment disepakati bersama sama. Bagi orang lain harimau itu menakutkan. Tetapi tidak bagi anda. Anda bersahabat dengan harimau


Ketika saya sholat dihadapan saya hanya Tuhan dan Saya saja. Tidak ada orang lain. Tetapi setelah itu, dalam hidup saya semua adalah pemangsa termasuk diri saya diri adalah pemangsa utama jiwa saya. Makanya mindset pawang terbentuk dalam diri saya. Sehingga saya tidak perlu takut masuk ketempat yang paling beresiko sekalipun. Saya bisa melewati rimba belantara bisnis di China, Korea, Rusia yang terkenal ganas. Saya bertarung dijantung kapitalis di Hong Kong, London, New York. Padahal banyak orang anggap kapitalis itu bahaya. Tidak bagi saya.


Orang bilang tempat maksiat itu harus dijauhi. Sangat beresiko membuat manusia tergelincir kepada maksiat. Wanita cantik sebagai mitra harus dijauhi agar terhindar dari maksiat. Tidak bagi saya. Saya bermitra dan bersahabat dengan siapa saja. Karenanya  tidak perlu saya takut dan kawatir tergelincir. Tapi saya harus lebih keras kepada diri saya sendiri. Karena itu saya dapat reward. Apa itu? rasa hormat dan kesetiaan persahabatan. Dan kalau karena sikap saya, mereka kecewa, itu bukan urusan saya. Dan tidak akan mengubah persepsi saya.


Saya sadar bahwa apapun harus melewati proses  reward and punishment. Kalau saya tidak bisa memberikan reward terhadap kebaikan orang lain. Tidak bisa merebut hati orang lain. Mengalah untuk menang. Saya akan dihukum secara sosial. Diacuhkan dan direndahkan. Dianggap tidak penting. itu wajar saja. Saya tahu diri. Kalau effort saya kurang, kurang juga reward saya. Engga perlu saya mengeluh,. Saya harus lebih keras kepada diri saya sendiri. Agar alam bisa saya taklukan. Menjadi rahmat bagi semua. Itulah hakikat mengapa Tuhan ciptakan saya.


***


Saya bertemu Yuni di cork and screw.  “  Yuni cerita tentang Uda kepada pacar Yuni.  Mau tahu  apa pendapatnya? 


“Apa pendapatnya tentang saya ? Kata saya.


“ Dia mengatakan bahwa pria tersebut secara GEN tidak punya sifat pendendam, yang tentunya tidak bisa membeci, apalagi sakit hati. Pria seperti ini, dia tidak akan paham arti mencintai seperti yang kita persepsikan. Dia tidak akan merindukan siapapun, dan tidak merasa takut kepada siapapun. Kalau dia memberi, karena itu memang secara pantas dia harus memberi. Kalau dia melindungi , itupun biasa saja. Tidak ada alasan melodrama yang kita harapkan dari sikap kelembutan kasihnya.


Kalaupun dia menikahi wanita , itu bukan seperti pria lainnya yang merasa unggul menaklukan hati wanita dengan kegantengan dan harta, atau kata kata. Baginya menikah adalah perintah Tuhan. Itu saja. Apapun yang dia lakukan kepada istri dan anak anaknya , itupun karena alasan Tuhan. Dia tidak akan memanjakan mereka, namun selalu ada ketika hal yang penting harus diadakan. Dia tidak perlu merindukan semua hal sehingga merasa kawatir berlebihan. 


Hidupnya terkesan datar saja. Dalam bisnis juga begitu. Tak lebih. Kalau deal menguntungkannya, tidak akan membuat dia euforia. Kalau rugi , atau bahkan bangkrut , tidak akan membuat dia hancur. Mengapa ? Berapapun laba bertambah, tidak akan membuat dia kehilangan dirinya. Harta dia perlukan tapi itu hanya option. Sama halnya dengan sex, itu juga option. Kalau ada , ya dipakai seperlunya dan kalau engga ada, diapun bisa melupakan. Namun caranya selalu menurut standarnya sendiri sesuai agama yang dia yakini.  Jangan kamu bayangkan dia bisa membeli sex untuk kepuasannya dan membeli barang bermerek untuk memuaskan egonya. Tidak mungkin.


Menurutnya. Dia pernah baca buku psikologi tentang manusia yang punya kepribadian seperti itu. Kadang orang salah duga bahwa dia punya kepribadian ganda, seperti bunglon. Karena dia bisa bersikap humanis sebagai sahabat dan bisa juga sebagai petarung ketika berbisnis. Sebenarnya, karakternya satu saja. Dia menggunakan akal dan hatinya ketika bersikap. Yang membuat dia terkesan aneh, adalah diakalnya tidak ada storage informasi tentang dandam dan benci.  Memang GEN sebagai cetak biru kehidupannya tidak ada buku yang memuat bagaimana membenci dan dendam. Ya semacam kelainan jiwa. Kalaupun ada orang seperti itu, pasti tidak banyak, atau mungkin tidak ada. “ Kata Yuni  sesuai pendapat pacarnya. 


Akhirnya setelah Yuni menikah, dia cerai. Dia lebih senang bersama saya walau tidak pernah mengubah persepsi saya terhadapnya. Bahwa dia sahabat dan mitra saya. Dan dia harus buktikan itu dengan  kerja keras untuk meraih laba. Dia tahu diri. Bahwa rasa hormat dihadapan saya adalah laba dan trust. Kalau tidak menguntungkan dia sadar bahwa kapan saja saya bisa tendang dia. Dia tahu banyak wanita yang tersingkir begitu saja dari lingkaran bisnis saya. Tidak ada beban rasa bersalah saya. Karena saya pemain soal personal. Selebihnya, hati saya telah digadaikan kepada istri dan itulah sumber kekuatan saya menjadi pemain menghadap ketidak pastian. 

No comments:

Pride mereka ada pada uang.

  Wenny , Risa, Yuni, Florence adalah sahabat saya. Mereka juga sehat. Tidak ada penyakit yang mereka tanggung. Walau usia mereka diatas 50 ...