Tuesday, March 15, 2022

Memberi...


 


Pernah saya keluar dari Plaza Indonesia jalan kaki ke arah Grand Indonesia. Waktu nyeberang. Ada sepeda yang jual minuman saset tersenggol kendaraan. Sepeda itu huyung dan jatuh. Tidak fatal. Namun kendaraan yang senggol itu tidak berhenti. Saya dekati pedagang itu. “ Engga apa apa nak? tanya saya.


Dia menatap saya sebentar. “ Engga apa apa pak. “ Saya bantu dirikan sepedanya. Air dalam termos tumpah. Termos juga rusak. Setelah dagangannya yang jatuh saya bereskan. Saya pinggirkan sepedanya.


Dia nampak menangis. “ Ada apa nak? tegur saya menepuk bahunya. “ Saya barus seminggu dagang. Modal beli termos belum balik. Setiap hari saya hanya dapat uang Rp. 20.000. Yang dagang udah rame di sini.” Katanya. Saya menyimak.


“ Saya engga tahu lagi gimana dapatkan uang. Rumah kontrakan udah harus bayar hari ini. Anak saya sudah setahun engga sekolah.“ Katanya mengusap air mata.


“ Tadi kamu kerja?


“ Ya saya kuli bangunan. Tapi sekarang sulit dapat kerjaan.”


“ Kenapa engga pulang kampung aja”


“ Di kampung juga saya kuli sawah. “


“ Kamu harus sabar. Tuhan tidak akan aniaya nak. Engga apa apa. semua orang melewati kesulitan. Sabar ya “ Kata saya. Saya buka tas selempang saya. Saya beri uang. “ Ini uang pakai untuk beli termos. Jangan kecil hati dengan hidup kamu ya Nak.” lanjut saya.

Dia terkejut waktu saya serahkan uang ke tangannya. “ Pak ini terlalu banyak. Harga termos hanya Rp. 400.000. “ Katanya seraya dia serahkan sebagian uang yang saya beri.


Saya tahan tangannya. “ Ambilah Nak. Anggap saya bapak kamu. Terima ya.” Kata saya tersenyum.


Dia peluk saya. Saya balas dengan dekapan erat. Saat itu saya malah ikut terharu. “ Tuhan, hanya sejuta saya beri, Tetapi begitu berartinya bagi dia. Sementara saya bayar bill makan bisa diatas Rp. 1 juta. Sekali makan saja. Tetapi bagi orang miskin, sejuta itu adalah hope bagi mereka untuk bertahan  di tengah hidup yang tidak ramah…Ampuni aku ya Tuhan..” Kata saya dalam hati. Saya melangkah pergi.


Sore hari saya pulang, Di lobi PI ada taksi Ekspress.  Kendaraanya sudah tua. Supirnya etnis China. Usianya sama dengan saya. Dengan tersenyum cerah dia memanggil saya. “ Pak Haji..mari pak. 


“ Serunya. Saya tahu sebelum jam 8 malam dia pasti mampir ke Plaza Indonesia, Berharap dapat bertemu saya. Itu dia lakukan setiap hari. Kalau kebetulan saya ada, itu rezeki dia. Karena saya selalu beri tips dengan menyebut “ Ini uang taksi dan ini uang untuk istri dan anak bapak.”


Saya bukan terlahir kaya dan bukan orang kaya sekelas konglomerat. Saya disleksia.  Dalam bisnis saya tergantung mitra. Bahkan nyetir saja tidak bisa. Tapi hidup berbagi pada setiap moment itu setidaknya mengurangi rasa bersalah saya atas rezeki yang Tuhan beri. Itu aja


No comments:

Pride mereka ada pada uang.

  Wenny , Risa, Yuni, Florence adalah sahabat saya. Mereka juga sehat. Tidak ada penyakit yang mereka tanggung. Walau usia mereka diatas 50 ...