Friday, December 13, 2019

Memori dan kognitif


Untuk menulis dengan data di fanpage saya tidak bisa sendiri. Saya butuh asisten (Admin ) yang bertugas mengingatkan soal data. Di perusahaan pun pekerjaan saya sangat tergantung dengan asisten. Mengapa ? karena saya punya penyakit disleksia. Apa itu Disleksia ? berasal dari kata Yunani yaitu “dys” yang berarti kesulitan dan “leksia” yang berarti kata-kata. Dengan kata lain, disleksia berarti kesulitan dalam mengolah kata-kata. Jadi disleksia itu merupakan kelainan neurobiologis dan ditandai dengan kesulitan dalam mengenali kata dengan tepat atau akurat dalam pengejaan dan dalam kemampuan mengode simbol.

Kalaulah dulu sekolah SD dan SMU masih menerapkan Ujian Nasional dengan standar yang bertumpu kepada hapalan, maka dapat dipastikan saya tidak akan pernah bisa tamat SMU. Tetapi era dulu zaman saya sekolah, murid di ukur bukan dari kemampuan memori tetapi kognitif. Apa itu kognitif ? Kognitif adalah kemampuan murid mengembangkan kemampuan rasional (akal). Nah cara mendidik kognitif berbeda dengan metode hapalan. Kognitif lebih menekankan bagaimana proses atau upaya untuk mengoptimalkan kemampuan aspek rasional yang dimiliki oleh murid atas dasar pengetahuan (knowledge), pemahaman (comprehention), penerapan (aplication), analisa (analysis), sintesa (sinthesis), evaluasi (evaluation).

Itu sebabnya walau ulangan gramer bahasa inggris nilai saya dibawah 4 tapi di lapor sekolah nilai saya tetap 6. Mengapa ? Saya ingat ketika guru SMP memanggil secara pribadi. Dia berbicara bahasa inggris dan saya bisa menjawabnya dengan bahasa inggris juga. Dia tersenyum. waktu SMU juga sama, gramer bahasa inggris saya dibawah standar tetapi saya bisa berbicara bahasa inggris walau kadang saya juga engga tahu spelingnya. Mengapa ? karena dari kecil ibu saya sudah tahu saya punya penyakit disleksia. Makanya pelajaran yang membutuhkan hapalan dia ubah menjadi pemahaman sehingga setiap menyuruh atau sedang melakukan sesuatu, ibu saya berusaha menjelaskan dengan bahasa inggris kepada saya. Dan karena itu saya bisa berkomunikasi dalam bahasa inggris.

Bukan hanya saya yang bernasip baik karena metode pendidikan kognitif. Tahukah Anda bahwa para pesohor seperti Albert Einstein, Sir Winston Churchill, Tom Cruise, Walt Disney, George Bush dan Lee Kuan Yeuw adalah penyandang disleksia? Mereka orang-orang yang mengalami kesulitan mengolah kata. Namun, dalam prosesnya, toh mereka bisa menjadi “besar” karena metode pendidikan kognitif yang membuat orang disleksi punya harapan untuk tidak menyerah pada keadaan. Sistem pendidkan tidak diskriminasi terhadap mereka. Lah apalagi kalau anda tidak punya penyakit disleksi tentu lebih hebat dari kami yang disleksia.

Yang hendak dicapai oleh Nadiem Makariem kemampuan kognitif para murid. Karena dengan metode pendidikan hapalan ( memori), orang di moulding seperti negara mau dan jadi bigot kebanyakan, gampang jadi follower buta yang miskin daya kritis dan analisis nya. Sementara metode pendidikan kognitif mendidik orang punya kemampuan rasional, contoh walau saya tergantung data dan informasi dari asisten namun kecepatan saya menganalisis situasi mungkin lebih cepat dari asisten yang terdidik baik secara hapalan. Artinya orang yang punya kemampuan kognifit, bukan hanya mampu rasional menilai lingkungannya tetapi juga mampu menilai dirinya sendiri dan berusaha memperbaiki sendiri lewat karakter hebat yang open minded dan terdidik baik untuk mampu bersaing secara sehat.

No comments:

Dosa kolektif.

  Kalaulah kerajaan di Nusantara ini tidak membuka pintu kepada Inggris, perancis, pertugal, belanda  untuk datang berniaga, mungkin tidak a...