Monday, December 02, 2019

Butiran bintang di langit



Pancasila adalah sesuatu yang universal. Di dalamnya ada cinta. Cinta tidak bersarat. Cinta untuk berbagi.  Bersatunya hati karena sebuah hakikat untuk saling melengkapi diantara banyak perbedaan. Diatas banyak perbedaan itu syariat diperlukan agar sempurna. Begitu katamu. Aku bisa terima sebagai sebuah filsafat bahwa ketidak sempurnaan lahir dari pikiran dan niat namun kenyataan memaksa orang harus berdamai , bahwa kesempurnaan itu tidak akan pernah tercapai. Semua orang seperti menatap ujung langit, semua orang ingin menggapainya. Tetapi tidak ada satupun orang bisa mencapainya. Tidak ada orang yang bisa melewati bayangannya sendiri, ya kan.

Pancasila lahir dari orang orang yang ikhlas dalam kalah. Beratus tahun dalam kelam dan berharap senoktah cahaya menggapai bintang. Di sana ada lima butir bintang berkilau. Butir pertama adalah Tuhan yang Maha tinggi diatas singgasana Nya. Butir kedua adalah kemanusiaan yang adil dan beradab. Butir ketiga adalah satu dipersatukan. Butir keempat adalah demokrasi atas dasar musyawarah mufakat dan butir kelima adalah keadilan sosial. Ke lima bintang itu terlalu tinggi untuk digapai. Katamu. Mengapa ? karena ke lima itu adalah produk cinta dari Tuhan. 

Mungkin sebagai sebuah doa , lima butir bintang itu tepatlah. Tetapi sebagai sebuah prinsip, berdamailah. Mengapa, sayang? Ke lima bintang itu harus berhadapan dengan realitas uang yang diukur dari premi CDS. Laut, hutan dan hasil bumi harus dikemas dalam  bentuk feasibility study untuk menghasil uang lewat bank dan bursa SBN dan obligasi korporasi. Jutaan rakyat, ASN, tentara dan polisi  perlu dibayar dari pajak orang kaya. Para politisi dan pejabat negara perlu tegas dan tega demi economy growth agar tidak terjadi chaos sosial. Walau karena itu bintang kelima terus berkedip kedip, dan mungkin akan pudar ditelan malam, yang semakin kelam.

Semua orang mencari cinta. Diantara gudang, rumah tua terdengar cerita anak kapal. Tiang serta temali layar terkembang. Kapal tidak berlaut. Kandas di dermaga sepi. Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang. Menyinggung muram, desir hari lari berenang, menuju  pangkal akanan. Tidak bergerak dan kini tanah dan air tidur, tak ada irama ombak. Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan menyisir semenanjung, masih pengap harap sekali tiba di ujung dan sekalian selamat di jalan. Namun hanya berharap tak berujung.  Dan di dermaga itu kutatap bintang kelima itu, aku bertapakur dalam kerendahan hati, selalu.

Mataku nanar menatap bintang kelima yang berkedip kedip. Sedu penghabisan bisa terdekap. Walau jalan itu tak jua tergapai diantara pulau tak terbilang. Aku tetap percaya, walau itu hanya sebatas doa yang entah kapan akan tertunaikan. Bahwa hidup bukanlah mencapai tetapi bagaimana kita bisa melewatinya untuk berdamai dengan kenyataan, sepanjang waktu. Itulah kehendak Tuhan dengan hadirnya Pancasila. Ia sebagai pengingat bahwa kita negeri religius yang harus terus menghidupkan Tuhan dalam diri kita, dalam situasi apapun, walau kadang realitas tidak ramah. 

No comments:

Magic Word

  Waktu saya pergi merantau. Setiap bulan pasti surat ibu saya datang. Walau saya tidak kuliah. Pekerjaan tidak tetap. Tetapi tidak pernah i...