Saturday, June 18, 2005

Pemimpin Ideal

Dalam suatu dialogh interaktif di Gedung Joeang. Safii Ma;rif mencoba memberikan tanggapan tentang “ Topic krisis pemimpin yang bermoral. “ Kita butuh keteladanan. Negeri ini tidak ada lagi keteladanan dari pemimpinnya yang dapat dijadikan kekuatan moral untuk memimpin” Katanya. Kemudian lanjutnya “ Lihatlah rakyat hidup kini bagai tak bertuan. Negeri ini seperti tidak ada pemimpin. Para elit politik sibuk dengan caranya sendiri sementara rakyat hidup tanpa perlindungan dan keadilan dari pemimpinnya. “ Buya Safie Ma’rif menyebut negeri ini seperti tidak ada pemimpin. Ya kalau pemimpin yang amanah karena Allah maka itu ungkapan ada benarnya.

Saya teringat akan kisah para pemimpin Islam sebagaimana Diriwayatkan oleh Atha'. Pada suatu hari setelah `Umar bin `Abdil `Aziz meninggal, aku datang kepada Fathimah binti `Abdil Malik, seraya aku bertanya kepadanya: "Wahai puteri Abdul Malik, ceritakanlah kepadaku tentang kebiasaan Amirul mukminin (`Umar bin `Abdil `Aziz)!."

Maka dia menjawab: "Sesungguhnya `Umar itu telah mengorbankan jiwa dan raganya untuk melayani masyarakat, dimana sepanjang hari beliau duduk mengurusi urusan mereka."Apabila sampai waktu sore urusannya itu masih belum selesai, maka beliau melanjutkannya sampai malam. Pada suatu sore, dimana ketika itu beliau telah selesai mengerjakan segala urusannya, maka beliau segera mengambil lampu miliknya dan menyalakannya, lalu beliau shalat sunat sebanyak dua raka'at. Setelah itu beliau menundukkan kepalanya di atas tangannya, dan air matanya terlihat mengalir membasahi pipinya seraya beliau menangis dengan tersedu-sedu.

"Kemudian aku datang menghampirinya sambil menenangkan kegundahan hatinya. Akan tetapi pada malam itu beliau tetap menangis sampai datang waktu Subuh, dan pada pagi harinya beliau berpuasa." Fathimah berkata: "Kemudian aku mendekatinya, seraya aku berkata kepadanya, Wahai Amirul mukminin, sebaiknya engkau menghentikan urusanmu ini sebelum malam tiba" Kemudian`Umar menjawab: "Ya, maka biarkanlah aku menyelesaikan kewajibanku dan kamu menyelesaikan kewajibanmu." Selanjutnya aku berkata kepadanya: "Aku berharap engkau mau menerima nasihatku ini."

Mendengar hal itu, maka beliau menjawab: "Kalau begitu, baiklah akan aku ceritakan kepadamu kenapa aku melakukan sesuatu sebagaimana yang kamu lihat dari diriku, dimana aku ini telah diserahi untuk mengurus urusan umat ini baik yang kecil maupun yang besar, yang hitam maupun yang merah."

"Setelah itu aku harus memikirkan orang hilang yang tidak diketahui jejaknya, orang fakir yang sangat membutuhkan bantuan, tawanan yang melarikan diri, dan aku harus mengetahui keberadaan mereka yang ada di daerah pinggiran dan yang di pedalaman. Aku sadar bahwa hal itu akan dimintai pertanggungan jawabnya oleh Allah, dan Nabi Muhammad SAW juga meminta jawaban tentang hal tersebut dariku. Oleh karena itu, maka aku merasa takut seandainya Allah tidak memaafkanku dan Nabi Muhammad SAW tidak menerima penjelasanku."

"Aku merasa khawatir sekali dengan keselamatan diriku, dan kekhawatiran inilah yang telah menyebabkan kedua mataku menangis dan hatiku merasakan kesedihan yang sangat mendalam. Semakin aku mengingat hal itu, maka semakin sedih pula hatiku. Aku telah menceritakan semuanya kepadamu, maka berikanlah nasehatmu itu sekarang atau tinggalkanlah dan pergi dari sisiku.

Lihatlah tokoh Abu Bakar As-Shiddiq setiap hari berlomba-lomba dengan Umar bin Khattab mendermakan hartanya. Ber-fastabiqul khairat, berlomba-lomba mengejar keutamaan dalam berbuat baik untuk rakyat, negara dan agama. Lihat juga contoh pada pribadi Abdurrahman bin ‘Auf yang kunci-kunci brankasnya saja diangkut oleh beratus unta, teramat kaya, seluruhnya diabdikan buat rakyat jelata, untuk negara dan kepentingan perjuangan. Masih tentang Umar bin Khattab, khalifah ke-2 dalam pemerintahan daulah Islam ini adalah pemimpin paling berkuasa pada zamannya, tapi sangat sederhana dan bijaksana dalam kepemimpinannya. Beliau, Umar bin Khattab, belum akan tertidur dengan lelap setiap malamnya jika belum berkeliling (tanpa pengawalan) untuk mencari tahu kondisi rakyat yang dipimpinnya.

Diwiyatkan ada seekor keledai yang tergelincir di jalan raya yang agak rusak (karena jalannya bolong-bolong) sampai patah kakinya. Mengetahui peristiwa ini Umar amat menyesal dan memohon ampunan kepada Allah karena takut dimintakan pertanggungjawabannya di akhirat. Beliau merasa bersalah karena itu terjadi pada masa kepemimpinannya yang masih menyisakan sarana jalan yang tidak memadai sehingga mencelakakan, sekalipun hanya seekor keledai.

Dikisahkan pula sepulangnya Umar dari Madinah, sampailah Umar di suatu desa terpencil dan bertemu dengan seorang nenek. Umar bertanya tentang bagaimanakah kepemimpinan Amirul Mu’minin (sang pemimpin). Nenek menjawab, ”Celakalah Umar, karena sampai dengan hari ini dia belum pernah berkunjung dan mengetahui dan memperdulikan keadaan saya sebagai rakyatnya.” Rupanya si nenek tidak tahu kalau yang pria di hadapannya itulah Umar (Amirul Mu’minin). Sampai ketika seorang sahabat lewat dan mengucapkan salam kepada Amirul Mu’minin si nenek baru sadar bahwa pria di hadapannya adalah pemimpin yang dimaksudkan. Akhirnya dengan perasaan rugi dan menyesali atas ketidakberesannya selama memimpin dengan disaksikan salah seorang sahabat tadi, Umar –setelah bersepakat dengan si nenek- membayar semacam tebusan kepada nenek atas kelalaiannya selama memimpin, tidak memperhatikan seluruh wilayah kekuasaannya dengan adil. Tentu saja dengan bertekad untuk selanjutnya akan memperhatikan setiap jengkal tanah kekuasaannya, tidak ada yang dilupakan dan dibiarkan begitu saja.

Begitu pula riwayat Umar bin ‘Abdul Aziz –khalifah kelima- selama memimpin. Semasa kepemimpinannya tidak ada lagi orang yang mau menjadi penerima zakat karena rakyatnya sudah mencapai tingkat kemakmuran yang berlebih. Sikap sederhana dan kerja kerasnya terwujudkan dalam kemakmuran pada seluruh negeri kala itu. Sejak awal menjabat, beliau menanggalkan seluruh kemewahan yang dimilikinya dan memerintah dengan kesederhanaan. Seluruh warisan dari pejabat sebelumnya dimasukkan menjadi milik negara. Perhatikan ketika beliau harus mematikan lampu ketika menerima tamu dari keluarganya sendiri karena tidak mau menggunakan fasilitas negara untuk kepentingan pribadi. Menurutnya, urusan keluarga adalah urusan pribadi, sehingga ia menolak berbuat korup kecil-kecilan. Beliau juga tidak bersedia meminum madu yang dibelikan istrinya karena tahu bahwa madu itu dibeli di pasar dengan menggunakan fasilitas kereta kuda milik negara.

Bayangkan kalau seluruh pejabat di negeri kita berkelakuan seperti ini atau paling tidak sepersekiannya mewarisi sifat kepemimpinan sederhana ini. Kepentingan publik, kepentingan negara berbatas tegas dengan kepentingan pribadi. Tidak akan ada niat untuk melakukan korupsi maupun merugikan pihak lain walau sekecil apapun. Maka tidak akan ada korupsi sendiri-sendiri dan korupsi berjamaah. Baik Umar bin Khattab maupun Umar bin Abdul 'Aziz keduanya memimpin dengan penuh rasa tanggung jawab, sederhana dan hati-hati. Semua ini adalah buah iman dan takwanya kepada Allah, karena kedekatannya kepada Allah. Sehingga ia paham benar apa arti di balik kepemimpinannya. Bahwa kepemimpinan akan dimintakan pertanggungjawabannya di hadapan Allah. Memang, pemimpin yang menjalankan agamanya dengan baik pasti akan membawa kemaslahatan bagi seisi alam.

No comments:

Wahyu dan Zaman

  Wahyu yang selama ini dikenal dan dipahami oleh umat Islam berbeda dengan fakta dan klaim sejarah. Karena wahyu yang absolute hanya saat w...