Sunday, June 19, 2005

Berbohong ?

Mengapa berbohong? Jawaban yang paling tepat, karena ingin menyelamatkan diri sendiri dari sesuatu keadaan! Yang biasa terjadi, kita terjepit dalam situasi dan situasi itu terjadi karena kelalaian atau kesalahan sendiri. Jika kesulitan itu terjadi karena kesalahan orang lain, tentulah kita tidak berbohong karena kita dapat mencari pihak lain untuk diletakkan kesalahan itu. Tetapi sebaliknya bila kesalahan itu akibat kita sendiri, maka kita terpaksa mereka-reka alasan agar kita tidka dipersalahkan. Bila 'terlalu bijak', mereka-reka alasan, maka terjadilah kebohongan.Nampak mudah, bukan? Jadi berbohong berarti memberitahu susuatu yang tidak benar dan kita sadar bahwa hal itu tidak benar. Atau dengan kata lain, berdusta.

Dari sudut pandang Islam, sudah tentu hukumnya haram. Dari Ibnu Umar r.a. katanya: Saya dengar Rasulullah SAW bersabda, "Bagi tiap-tiap orang yang khianat (penipu) ada bendera yang dipancangkan tanda khianatnya di hari kiamat .." (HR Bukhari). Dalam sebuah riwayat diceritakan, telah datang ke Rasulullah SAW, seorang lelaki meminta nasehat. Pria itu mengaku bahwa dia tidak dapat meninggalkan satu maksiat yang biasa dilakukannya, yaitu berzina. Mendengar pengakuan jujur lelaki ini Rasulullah SAW berwasiat kepadanya, "Hanya dengan satu hal: 'Laa Takzib! (Jangan berbohong!). 'Ternyata dengan menjaga untuk tetap melaksanakan nasehat Rasulullah SAW itu, pria ini dapat menghindari perbuatan maksiat yang susah ditinggalkannya karena setiap kali dia ingin melakukan zina, dia akan ingat kepada nasihat beliau itu. "Bagaimana kalau saya ditanya oleh Rasulullah SAW? Jika saya menjawab: Tidak, berarti saya telah berbohong. Jika saya mengaku berarti saya wajib dihukum, "pikir pria tersebut sehingga telah berhenti dari berzina."

Sabda Rasulullah SAW yang maksudnya, "Ada empat hal, siapa yang melakukannya maka ia adalah seorang munafik murni.Barang siapa yang melakukan satu dari empat hal itu, maka ia memiliki salah satu sifat munafik, hingga dia meninggalkannya.(Empat sifat itu adalah) bila dipercaya ia khianat, apabila berbicara ia berdusta, apabila berjanji ia mungkir dan apabila bertengkar ia mengenepikan kebenaran. (Menegakkan benang basah). "(HR. Ahmad). Dari hadits yang disebutkan di atas, dapat kita pahami bahwa pembohong dikategorikan sebagai seorang munafik dan tempat mereka dalam neraka paling bawah. Maka wajar jika Rasulullah SAW menyatakan bahwa dusta atau berbohong itu termasuk dalam dosa besar. Dalam hadis lain yang diriwayatkan oleh Ibnu Mas'ud, Rasulullah AW bersabda, "Benar itu membawa kebaikan dan kebaikan itu membawa ke surga. Yang berbicara benar, akan ditulis benar, yang bohong akan mendorong seseorang itu kepada kejahatan.Kejahatan itu akan membawa seseorang ke neraka dan ketika orang itu berbicara bohong, maka dia akan ditulis sebagai seorang yang pembohong. "

Selain itu, renungkan juga firman Allah SWT dalam surah al-Isra 'ayat 36 yang berarti, "Jangan kamu mengikuti sesuatu kamu tidak tahu tentang;Pendengaran, penglihatan dan hati - semua anggota itu akan tetap ditanya tentang segala yang dilakukannya. " Karenanya secara moral, jika kita tidak tahu sesuatu hal dengan jelas atau tidak sahih akan kebenarannya, jangan pandai-pandai berbicara apa-apa, karena kita mungkin bisa dituding berbohong. Meskipun pada prinsipnya, berbohong hukumnya haram, tetapi dalam keadaan tertentu, Islam memberikan kelonggaran. Namun, ia bukan dalam konteks yang terlalu ketat. Rasulullah SAW ada menyatakan, seseorang yang berbohong dengan niat ingin mendamaikan orang lain atau untuk tujuan kebaikan dalam masyarakat, dia tidak termasuk berbohong. Dalam suatu riwayat, Ibnu Kalsum berkata, beliau tidak pernah mendengar Rasulullah SAW memberi kelonggaran untuk berbicara dalam hal yang tidak benar, kecuali dalam tiga hal: 1.Ketika peperangan. 2. Untuk mendamaikan anggota masyarakat atau organisasi yang bertikai. 3.Dalam hubungan suami istri

Ya berbohong adalah awal dari perbuatan jahat. Memang tidak nampak namun dapat dirasakan oleh orang lain. Kehidupan serba remang remang dikota besar dan label jasa wisata hanyalah cara untuk berbohong dihadapat negara yang mengakuti Allah. Korupsi yang tak pernah tuntas diselesaikan adalah cara smart untuk berbohong secara kolektive dari hadapan rakyat yang lapar keadilan. Begitu banyak kekecewaan sosial, ekonomi tak bisa dipungkiri sebagai bentuk tekhnik berbohong sudah begitu canggih karena bohong adalah seni untuk menang dan kaya raya. Ini budaya akhir zaman. Sudah menjadi penyakit seperti layaknya narkoba. Sekali berbohong maka orang akan terus berbohong dan berbohong. Karena tak mungkin menutupi kebohongan dengan kebenaran kecuali dengan kebohongan pula. Kalau sudah begini, sadarlah kita bahwa berbohong adalah dosa besar karena mengancam misi islam sebagai rahmat bagi alam semesta. So dont be liars.

1 comment:

Anonymous said...

mengapa tidak:)

Dosa kolektif.

  Kalaulah kerajaan di Nusantara ini tidak membuka pintu kepada Inggris, perancis, pertugal, belanda  untuk datang berniaga, mungkin tidak a...