Saturday, November 03, 2018

Menjaga empati ?




"Kita belain para wartawan. Gaji kalian juga kecil, kan? Kelihatan dari muka kalian. Muka kalian kelihatan enggak belanja di mal. Betul, ya? Jujur, jujur," kata Prabowo disambut tawa awak media yang mengelilinginya. Kemudian di Boyolali Prabowo mengatakan “ Kalian kalau masuk, mungkin kalian diusir. Tampang kalian tidak tampang orang kaya, tampang-tampang kalian ya tampang orang Boyolali ini. Betul?" kata Prabowo kepada para pendukungnya. Saya sempat berpikir mengapa sampai Prabowo kehilangan kata kata yang bijak untuk menunjukan sikap empati nya terhadap orang miskin?  Mengapa sikap  empatinya itu justru menghilangkan kesan niat baik  bahwa dia empati kepada orang miskin. Jawaban ini ditemukan dalam penelitian yang dilakukan oleh Adam Galinsky, professor of management and organizations at the Kellogg School of Management.

Adam Galinsky menulis dalam jurnal kepemimpinan, bahwa kekuasaan dapat menghambat empati. Dalam penelitian nya itu , peserta diperlihatkan satu set 24 gambar wajah mengungkapkan ; kebahagiaan, kesedihan, takut, marah. Untuk setiap gambar, para peserta diminta untuk menebak mana dari keempat emosi itu yang terdapat dalam gambar. Sebagian peserta salah dalam menilai ekspresi emosional orang lain. Artinya sebagian besar mereka tidak mengenal emosi orang lain disekitarnya atau kurang tanggap terhadap lingkungannya. Siapa yang menjadi objek penelitiannya?  Mereka adalah orang yang berpendidikan tinggi yang lebih mengedepankan logikanya dalam bersikap dan bertindak. Mereka umumnya elite politik, pimpinan perusahaan besar artinya kelompok menengah atas. 

Secara pribadi saya pernah membuktikan penelitian dari Adam Galinsky  itu waktu ketemu dengan top executive bank.  Ketika di hadapan resepsionis di kantor lembaga keuangan di Hong kong. ." Yes Sir, ..
" I have appointment with Mrs XXX"
" Your name please "
Saya menyerahkan business card saya.
" Are you Mr. Bandaro?
" Yes I am "
Resepsionis itu melihat sekujur tubuh saya dengan ragu.
" Ok . Follow me"
Dia mengajak saya keruangan meeting. " Please wait here" Katanya berlalu.
Tak berapa lama datang seorang wanita dengan gaun eksekutif terkesan berwibawa. Menatap saya sejurus tanpa senyuman. 
" Maaf, boleh saya lihat passpor anda? 
Saya berikan paspor saya sambil berusaha tersenyum. Namun wanita itu tetap sikapnya berwibawa. 
" Saya mau bertemu degnan Bandaro, bukan Mr. Tardjuman." Katanya, karena memang di pasport naman saya Erizeli Tadjuman. Tidak ada nama Bandaro. 
" Oh nama asli saya ya itu. "
" Mana Bandaro"
" Ya saya.."
" Jangan buang waktu saya...Sebaiknya Bandaro datang kemari" Katanya ketus sambil berdiri seakan minta saya keluar dari ruangan.

Saya tersenyum dan ikut berdiri. Dia membukakan pintu untuk saya keluar dari ruangan meeting. Cantik ,cerdas dan professional.Itulah kesan saya kepada wanita itu. Jam 6 sore dia telp saya dengan minta maaf karena dia baru dapat email dari London bahwa dia telah melakukan kesalahan. Dia janji akan menebus kesalahan itu dengan membayar makan malam..saya hanya tersenyum. Tadi waktu makan malam dia menegaskan akan membantu saya dengan sebaik baiknya. Dia juga berjanji tidak akan mengecewakan saya. Dia engga salah. Karena memang penampilan saya tidak seharusnya berada di tempat dimana orang di ukur dari penampilan. Persepsi nya tentang Bandaro tidak seperti yang di lihatnya.Di usia menua ini saya tidak akan tersinggung orang merendahkan saya. Perjalanan hidup saya terlalu kenyang di rendahkan...saya yakin saya akan baik baik saja..

Mengapa semakin tinggi strata sosial orang semakin kurang sikap empatinya kepada orang yang miskin? Kalaupun ada jumlahnya tidak banyak. Sedikit sekali. Karenannya ia menjadi fenomenal, contoh Jokowi sang presiden. Budi Hartono boss Djarum, Bill Gate, Warren Buffet . Mengapa ? Pertama, karena faktor lingkungan yang membuat orang hanya menghargai uang dan logika. Semakin sukses dan naik status sosialnya semakin tajam logikanya bahwa orang hanya di hargai karena transaksional. Kedua, pendidikan keluarga. Keluarga yang tidak terbiasa dekat dengan lingkungan miskin atau tida terbiasa memahami  cara cara berpikir orang miskin memang sulit untuk berempati.

Jadi kalau ada segelintir orang dari kalangan elite dan orang kaya yang rendah hati dan penuh cara indah menjaga empatinya, itu karena dia punya sikap dua hal juga. Pertama, dia tidak menjadikan uang sebagai ukuran sukses. Kedua, logikanya kuat bukan karena titel tinggi tetapi dia mampu menjaga keharmonian. Seperti orang drive kendaraan. Keharmonian antara logika dan perasaan menentukan kapan rem ditekan , kapan setir dibelokan, kapan gas ditekan. Ada sesuatu yang menggerakan mempengaruhi otak dan indra berbuat. Hanya jiwa yang bisa membuat itu harmoni. Bagaimana caranya ? ya latihan. Tanpa latihan tidak mungkin bisa. Anda tampil sederhana. itu latihan jiwa. Anda menjaga perasaan orang agar tidak terhina, itu latihan jiwa. Bersikap sabar tanpa emosional, itu latihan jiwa. Bergaul dengan orang miskin dan berinteraksi dengan mereka, itu latihan jiwa. Puasa senin kemis, itu latihan jiwa.

Nah kalau Prabowo seenaknya bilang gaji wartawa kecil, orang boyolali tampang miskin yang tak pantas masuk hotel berbintang lima, acuh terhadap orang miskin yang ingin selfi dengannya, itu karena  anggap uang segala galanya dan karena faktor tidak adanya latihan jiwa bagaimana menjaga empati. Sehingga tanpa dia sadari sikap aslinya keluar. Aneh ? engga juga. Karena untuk bisa bersikap seperti Jokowi, Warren Buffet dan Budi Hartono engga gampang. Sulit. Mengapa ? Mereka harus sudah selesai dengan dirinya sendiri. Hatinya lembut dan selalu ingin membahagiakan orang lain , walau hanya sepatah kata yang memberikan harapan dan semangat .Tidak mungkin mereka memberikan ungkapan pesimis dan menyalahkan orang lain agar terhormat pada waktu bersamaan merendahkan orang yang status sosial dibawahnya.  Tidak mungkin. 

No comments:

Ujian keimanan

  Banyak orang hebat, tetapi tidak hebat. Sama seperti Mie istant. Mie Ayam tapi bukan ayam. Rasa doang yang ayam. Itupun artificial atau bu...