Sunday, November 04, 2018

Meraih Bahagia.


Ada yang mengatakan bahwa kalau karirnya sukses, hidupnya akan bahagia. Kalau dia menikah dan dapat istri cantik , atau suami gagah dan kaya, hidupnya akan bahagia. Kalau , kalau, kalau,…akan bahagia. Saya sering mendengar orang bicara seperti itu. Terutama anak muda. Saya hanya bisa tersenyum. Mengapa ? terlalu mahal bagi mereka untuk bahagia. Dan terlalu berat syarat untuk bahagia. Menyedihkan sekali sikap hidupnya. Mengapa ? bahagia itu tidak ada kaitannya dengan diluar diri kita. Harta, jabatan, keluarga, tidak ada kaitanya dengan bahagia. Bahagian itu adalah persepsi kita. Tentang sebuah ide bagaimana kita bersikap terhadap hidup ini. Kalau dasarnya adalah materi maka apapun alasan dan prasyarat, tidak akan membuat kita bahagia.

Siapa yang bahagia, apakah seorang raja atau seorang yang tinggal di jalanan dan hidup seperti pengemis? Pasti sebagian orang akan menjawab “Raja”. Biaklah, ada sebuah anekdot pertemuan antara Alexander (Kaisar) dan Diogenes (filsuf yang hidup di jalan hanya berpakaian selembar kain). Ketika Alexander bertemu dengan Diogenes di hari yang cerah, Alexander bertanya kepada Diogenes “Apa yang Anda mau? Saya bisa memberikan kepada Anda apa saja.” Diogenes menjawab, ”Tolong geser sedikit, Anda menghalangi sinar matahari, saya mau berjemur.” Alexandar marah, akan tetapi kemudian Alexander tertawa dan berkata “Seandainya saya bukan Alexander, saya mau menjadi Diogenes.”

Apa artinya semua ini? Kebahagiaan di dapatkan bukan dari harta, jabatan. Kebahagiaan itu adalah ketika anda sudah tidak takut kehilangan apapun, seperti Diogenes, itulah kebahagiaan yang sebenarnya. Seorang konglomerat ataupun Raja tidak bisa hidup tenang karena takut jatuh bangkrut, atau takut kehilangan kekuasaan. Sungguh paradoks bukan? Saat Anda tidak memiliki apa-apa anda akan mengejar kebahagiaan melalui harta, jabatan, sex. Tetapi setelah semua dimiliki, anda akan menyadari kebahagiaan terbesar itu disaat anda tidak merasa memiliki apapun. Dunia modern cenderung mengukur kebahagiaan, berdasarkan index kemakmuran orang. Padahal kemakmuran itu justru melahirkan paradox.

Ya paradox. Tempat hiburan malam yang ramai penuh tawa dan pesta, dikunjungi bukan oleh orang bahagia tetapi oleh orang kesepian. Orang tergesa gesa pada akhirnya dia akan sampai paling lambat. Semakin meningikan diri semakin mudah direndahkan. Semakin bertambah harta semakin besar kekurangan. Semakin banyak menyingkirkan musuh semakin banyak musuh datang. Semakin kuat, semakin lemah. Semakin membenci , pada akhirnya akan jatuh cinta. Semakin gila mencintai pada akhirnya akan membenci. Itulah paradox. Apa artinya? Bahagia itu sederhana dan sangat mudah dan murah. Caranya lihatlah kedalam diri anda, dan temukan bahagia itu. Ya bahagia itu ketika anda tidak merasa memiliki dan tidak merasa berkuasa. Pemilik dan kuasa itu adalah Tuhan. Tugas anda melewati hidup dengan cara sederhana dan menyikapinya denga rasa syukur dalam setiap waktu.

No comments:

Bukan mental Pemenang.

  Tadi diskusi dengan teman aktifis Islam lewat telp. “ Islam sebagai kekuatan dikalahkan oleh kekuatan Sekular. Itu karena bantuan Barat. K...