Friday, November 25, 2005

Makna Haji

Bulan ini dan bulan depan adalah bulan bulan keberarangkatan jamaah haji ke Tanah Suci,/makkah. Para jamaah tentu mengorbankan dana yang tidak sedikit dan juga waktu yang cukup lama serta meninggalkan keluarga tercintanya untuk suatu tugas mulia memenuhi seruan Nabi Ibrahim sebagai rukun Islam kelima. Haji merupakan ritual yang prosesinya mengikuti kisah dari seorang Nabi Allah Ibrahim. Kedatangan kita merupakan kerinduan pecinta sejati kepada sang khalik. Kecintaan hakiki.

Kecintaan kepada Allah inilah yang terus diingatkan kepada seluruh jamaah ketika mengikuti prosesi haji agar mereka mempertebal keimanannya, meningkatkan nilai kesabarannya dan yang paling penting adalah melakukan semua perintah Allah dengan Ikhlas. Mereka termasuk orang yang mendapatkan nikmat dari Allah. Nikmat tak ternilai dengan apapun yang ada dibumi ini. Nikmat iman. Nikmat Islam. Namun setelah kita memperoleh nikmat itu maka pada waktu yang bersamaan Allah pun meminta kepada kita sebagaimana firman Allah “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu ni'mat yang banyak., Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus (Al Kautsar 108).

Setiap tahun minimum 200,000 orang pergi menunai haji dan ini telah berlangsung sejak dulu kala.Bayangkan, bila sebagian saja mampu meraih haji mabrur tentu kehidupan negeri kita sekarang yang terlilit hutang dan krisis anggaran yang parah dengan implikasi kemiskinan terjadi dimana mana tentu akan sangat mudah diatasi. Seharusnya negeri ini pantas mendapatkan kedamaian , keadilan dan kemakmuran bila semua menyadari substansi haji yang bukan hanya ritual dan lambang status social tetapi keikhlasan untuk menegakkan sholat dan berkorban.

Disinilah letak substansi ritual dalam islam sebagai Agama tauhid. Kecintaan kepada Allah sebagai nikmat yang kita peroleh haruslah ditebus dengan dua hal yaitu pertama adalah kesediaan untuk mendirikan sholat , kedua adalah berkorban. Mendirikan sholat , bukan hanya melaksanakan ritual sholat wajib maupun sunnah tapi juga yang tidak kalah penting adalah kesediaan untuk menegakkan kebenaran dan kedamaian dimukan bumi. Para mereka yang mendapatkan nikmat ini harus menjadi cahaya kebenaran didalam kehidupan bermasyarakat.

Berkorban bukan hanya sekedar mengikuti ritual potong hewan tapi lebih daripada itu adalah keikhlasan untuk memberi kepada mereka yang membutuhkan. Itu sebabya jemaah haji yang mabrur sering ditandai dengan "hobinya" untuk memberi. Adalah tidak berlebihan bila kata mabrur sering diterjemahkan dengan kata juud, 'murah hati'. Mereka lebih mengedepankan kepentingan orang lain ketimbang keinginan diri sendiri. Seberapa besar dan berharga apa pun yang menjadi miliknya, jika ada orang lain yang berkebutuhan yang jauh lebih mendesak dan lebih penting, orang tersebut akan ikhlas memberikannya daripada memilikinya.

Tentu kemampuan kita mendirikan sholat dan berkorban tidak sama. Ada yang mampu berbuat lebih dan ada yang terbatas. Seperti halnya haji diwajibkan kepada mereka yang mampu baik secara materi maupun phisik namum bagi mereka yang tidak mampu maka tetap berhak mendapatkan predikat haji mabrur asalkan mereka mampu mendirikan sholat dan berkorban, setidaknya , menerapkannya kepada lingkungan keluarga terdekat kita. Quantitas tidak langsung berhubungan dengan qualitas atas nilai suatu ibadah. Semua tergantung dengan niat kita. Bila perbuatan tersebut diiringi dengan cinta kepada Allah maka itu lebih berkualitas dihadapan Allah. Tidak ada lain yang akan kita peroleh dari dua hal ini melainkan sebaik baiknya rahmat disisi Allah. Itulah makna haji.

No comments:

Berbagi

  Sore jam 5 saya pulang ke rumah. Perut keroncongan.  “ Maaf. Kamu sudah makan ? Tanya saya ke supir taksi. “ Tadi siang sudah pak.” “ Bisa...