Saturday, November 12, 2005

Spiritual sosial

Saya bertemu denga teman lama. Dia yang saya kenal adalah pribadi yang tak menarik untuk diceritakan. Karena memang tak ada yang luar biasa. Tapi mengapa sekarang saya bercerita tentang teman ini. ? Sesuatu yang saya anggap salah terhadap dia ternyata justru itu nilai kemanusiaanya tinggi sekali. Pertemuan saya dengan teman ini disuatu acara product launching. Yang punya hajat adalah relasi business saya. Pada acara itu hadir istrinya yang cantik. Saya baru tahu relasi saya itu telah menikah lagi setelah istrinya meninggal. Pada acara inilah ,teman saya itu nampak akrab dengan istri relasi saya. Saya agak terkejut ketika istri relasi business saya itu memperkenalkan teman saya itu sebagai ayahnya. Bagaimana mungkin ? yang saya tahu teman ini tidak punya anak perempuan. Kedua putranya sekolah di Amerika. Tapi saya tanggapi dengan senyum saja.

Setelah istri relasi saya itu usai beramah tamah dengan kami, teman ini saya tanya prihal statusnya sebagai ayah dari wanita itu. Awalnya dia nampak sungkan untuk bercerita tentang wanita itu. Tapi setelah saya desak dengan cara saya, akhirnya dia ceritakan juga. Katanya, bahwa dia punya anak asuh wanita sebanyak 8 orang. Semua mereka lulusan universitas dan sebagian sudah menikah. Wanita wanita itu dikenalnya di dunia remang remang. Maklum sebagai pebusiness diakhir zaman ini kehidupan reman remang tak bisa dielakan. Saya termasuk yang berusaha keras untuk menghindari ini walau kadang tak bisa berkelit.Tapi teman ini nampak tak punya masalah soal ini. Dia menjamu tamu businessnya dari jepang, korea , china di caffe executive mahal dengan standar layanan wanita berkelas. Sangking seringnya , saya sempat mempertanyakan kemana sholatnya, puasanya, hajinya. Makanya saya tak ingin membahas soal agama dengan teman ini.

Teman ini mengatakan kepada saya, bahwa walau dia acap masuk dalam wilayah zina namun dia tak pernah menyentuh zina. Dia lawan dirinya dengan perbuatan dakwah didunia sesat ini. Para wanita penghibur itu adalah mereka yang lemah dan terjebak dalam sistem yang brengsek. Dia angkat mereka yang mau sadar dengan berjihad. Mereka yang mau ingsap , ditanggungnya biaya hidup wanita itu asalkan mereka mau membekali dirinya untuk mandiri. Mereka yang mau kuliah dibiayainya, yang mau kursus dibiayainya. Begitulah. Dari satu orang menjadi dua dan akhirnya mencapai delapan orang. Bila satu mandiri, ada saja yang datang lagi untuk dia tolong. Perbuatannya ini tidak pernah diberi tahu kepada siapapun, termasuk kepada istrinya. Yang pasti semua wanita itu setelah ditanggungnya biaya hidup ,mereka tidak lagi bekerja didunia malam. Wanita itu menjadi muslimah yang taat dan akhirnya mendapatkan suami terhormat, salah satunya istri relasi saya itu.

Saya terpesona mendengar ceritanya itu. Mengapa kamu lakukan itu? Dia menjawab, banyak cara untuk berbuat baik namun yang sulit adalah berbuat baik karena Allah dan tak takut difitnah orang karena perbuatan itu. Bukankah semua kita mencari keridhoaan Allah dan hanya Allah tempat kita berharap. Mungkin, lanjut teman saya itu, kekuatan tangan saya tak mampu untuk merubah budaya brengsek ini tapi dengan kekuatan yang saya punya saya telah berusaha mengurangi korban dari budaya brengsek ini. Air laut tidak akan kering tapi setetes air laut kita ambil , air laut itu berkurang isinya. Lantas mengapa mereka semua menjadi muslimah yang taat ? tanya saya. Dia jawab, karena saya memberi tanpa mengharapkan imbalan apapun. Tak ada ruang sedikitpun terkesan saya mengharapkan sesuatu dari mereka. Ketika mereka bertanya, maka saya jawab “berterimakasihlah kepada Allah “ karena hak kalian ada pada saya yang dititipkan Allah.

Karena itulah , para wanita anak asuhnya itu sadar dengan rasa syukur tak terbilang dan akhirnya bertobat. Benarlah bila perbuatan karena cinta kepada Allah maka cinta pula yang akan ditebarkan kepada manusia. Teman ini telah melaksanakan sabda Rasul “Tiga hal yang bila siapapun berada di dalamnya, maka dia dapat menemukan manisnya rasa iman. Hendaknya Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai daripada yang lain; hendaknya ia mencintai seseorang yang ia tidak mencintainya kecuali karena Allah; dan hendaknya ia benci untuk kembali kepada kekafiran sebagaimana dia benci untuk dilemparkan ke dalam api neraka.

No comments:

Bencana itu karena Tuhan murka?

  Tahun 2008 atau tepatnya 14 Mei saya mendengar kabar dari berita TV terjadi gempa di Sichuan China. Saya teringat dengan sahabat saya yang...