Tuesday, November 08, 2005

Subsidi

Kemarin saya bertemu dengan teman yang kebetulan mantan bankir asing lulusan Harvard Business School. Dia berkunjung ke Indonesia ingin berdiskusi soal peluang investasi di Indonesia. Tapi akhirnya , pembicaraan berlangsung hangat ketika topik bergeser tentang kebijakan kenaikan BBM. Dia berkata bahwa pemerintah sekarang telah melakukan kebijakan yang benar dibidang ekonomi. Kebijakan ini akan meningkatkan kredibilitas pemerintah dimata international. Saya yakin ini memberikan angin segar bagi masa depan ekonomi bangsa Indonesia . Demikian kesimpulannya. Mengapa ? tanya saya. Alasannya bahwa kebijakan menghapus subdisi BBM itulah yang sangat luar biasa. Katanya dengan yakin.

Dia melanjutkan. Bahwa subsidi seperti juga pajak dapat mengakibatkan terjadinya excess burdens ( resources miss allocation ) terhadap ekonomi jika salah mekanismenya. Tetapi , subsidi dibutuhkan untuk mencapai tujuan akhir , yakni kesejahteraan masyarakat. Pemerintah dapat memberikan subsidi melalu berbagai cara Pertama, subsidi harga, Kedua ,Subsidi kepada produsen dan ketiga adalah subsidi langsung kepada masyarakat. Dari pilihan tersebut yang paling buruk adalah subsidi harga karena menimbulkan alokasi subsidi yang keliru dan mendistorsi perekonomian. Sebaliknya , yang paling baik adalah subsidi langsung sehingga tepat sasaran dan menghemat anggaran negara. Subsidi langsung memang sangat rawan terhadap penyimpangan dan menimbulkan efek kenaikan harga serta inflasi. Masalah penyimpangan harus diawasi oleh semua pihak. Efek kenaikan harga dan inflasi harus diminimalkan dengan kebijakan fiskal dan moneter yang tepat.. Teman ini tersenyum. Inilah cara berpikir ekonomi liberal.

Saya berbeda pendapat dengan teman ini. Bahwa kondisi Indonesia tidak semudah berteori. Konsep itu akan mungkin dapat diterapkan bila masyarakat mempunyai akses yang luas untuk membayar jasa dan barang. Dan sector produksi mampu berproduksi dengan efisien. Saat ini hampir sebagian besar sector produksi lumpuh karena crisis ekonomi dan sekitar 38 juta rakyat Indonesia sebelum kenaikan harga BBM sudah makan hanya 1 x sehari. Dana kompensasi BBM hanya akan diberikan ke 14 juta penduduk. Lantas yang sekitar 30 juta itu bagaimana? Mereka akan tambah menderita dengan berbagai kenaikan harga barang seperti beras, sayur, ikan, ayam, dsb. Itu kalau dana kompensasi BBM 100% tersalurkan.

Disamping itu lanjut saya. Bahwa Indonesia adalah salah satu negara terkorup di dunia dan terakhir dinobatkan sebagai negara terkorup di Asia. Apa iya subsidi itu akan tersalurkan? Kalau harus mengawasi, bagaimana cara mengawasinya? Toh terbukti KPK segala macam tak mampu memberantas korupsi.Harga barang akan naik, nilai rupiah pada akhirnya akan melemah, baik terhadap barang mau pun dollar. Akibatnya kembali terjadi selisih harga BBM domestik dgn harga BBM Internasional. Saat itu, kembali harga BBM dinaikkan. Begitu seterusnya. Jadi tak ada harapan baik jangka pendek mau pun jangka panjang untuk rakyat miskin. "

Teman ini tersenym mendengar uraian saya menyanggahnya. Dia dengan minta saya memahami bahwa Indonesia tidak lagi sebagai pengekspor minyak tapi juga pengimpor minyak. Jadi harga international lah yang harus dibayar pemerintah untuk keperluan domestik. Hal ini akan menguras devisa dan dibakar setiap harinya. Itu tidak seratus persen benar! itu saya tahu. Bahwa produksi minyak Indonesia 1,1, juta barret per hari dan masih melebihi jumlah impor , sehingga indonesia masih surplus devisa. Karena UUD 45 pasal 33 maka subsidi adalah kebijakan politik bagi rakyat yang belum terjangkau keadilan dari distribusi kekayaan alam maupun pajak. Kembali dia ngotot dengan alasannya bahwa kebijakan penghapusan subsidi itu dalam jangka pendek akan menyengsarakan rakyat, tetapi jangka panjang akan lebih baik bagi anggaran negara, kebijakan energi nasional, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat secara umum.” Katanya

Kembali saya ngotot bahwa dalam jangka pendek jelas sangat menyengsarakan rakyat. Dalam jangka panjang juga akan sama. Lihatlah kenyataan dalam hukum besi. Bila BBM dinaikkan maka inflasi akan melambung. Inflasi tinggi akan dihadapi oleh Bank Indonesia dengan menaikkan suku bunga. Suku bunga SBI akan diatas inflasi dan pada gilirannya akan menaikkan suku bunga perbankan. Bila suku bunga tinggi maka espansi kredit akan melemah dan sektor produksi akan ambruk. Dan akhirnya sektor perbankan akan bleeding karena harus membayar bunga deposan dengan tinggi. Dan dengan santai dia mengatakan, pada saat ini pemerintah tidak punya cara lain untuk mengatasi dipisit APBN kecuali menghilangkan subsidi BBM.

Kembali saya dapat memahi itu. Namun sebetulnya yang dibutuhkan rakyat adalah kebijakan yang berkeadilan untuk mencapai tujuan pembangunan nasional. Banyak cara lain yang dapat ditempuh, seperti menyita harta para pemilik Bank yang telah merugikan Negara hingga Rp 600 trilyun lewat KLBI/BLBI. Bukan Cuma perusahaannya, tapi juga rumah dan mobil mewah pribadi mereka. Menaikkan cukai rokok sampai 200 %. Menghidupkan kembali Pajak Kekayaan Pribadi ( Pkn) dengan tarip tinggi.

Dinegara manapun dan dalam teori ekonomi manapun jelas menyebutkan bahwa hanya istrumen Pajaklah satu satunya yang dibenarkan untuk menutup difisit APBN dan mengapa justru pemerintah enggan meningkatkan pajak atau kembali menerapkan pajak kekayaan pribadi. Bayangkanlah di Indonesia ada aparment yang berharga Rp. 20 milliar per unit dan semuanya terjual habis dalam hitungan hari. Mobil mewah import berharga Rp. 5 miliar lebih terjual habis dalam hitungan hari. Bila liburan , sangat sulit mendapatkan ticket pesawat domestik mapun international. Sementara disisi lain ratusan juta rakyat hidup tanpa masa depan Demikian sanggahan saya dan dia nampak berkerut kening.

Kembali dia bersitegas soal niat dibalik penghapusan subsidi. Kenaikan harga BBM hendaknya dilihat dari perspektif jangka panjang. Keinginan pemerintah jelas agar Indonesia bisa mandiri dan tidak bergantung pada orang lain. Kesemuanya ini iabdikan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. Yang saya mengerti bahwa kenaikan harga BBM justru mengundang operator business retail minyak asing masuk ke Indonesia. Jadi semakin tergantung dengan pihak asing dan tentu labanya akan kembali pada orang asing. Sehingga hasil sumber daya alam dikeruk dan kemudian potensi pasar rakyat yang tak berdayapun dimanfaatkan. Dan hebatnya itu semua untuk memanjakan pihak asing dan rakyat tetap hidup seperti layaknya diera penjajahan belanda dulu. Ada kemerdekaan tanpa kebebasan.

Teman itu hanya tersenyum mendengar saya berbeda pendapat dengan kebijakan pemerintah, sementara dia orang asing sependapat dengan pemerintah saya. Dia hanya tersenyum ketika berlalu dari hadapan saya. Entah apa maksudnya. Layaknya para menteri sehabis jumpa pers. Bicara enteng tanpa ada rasa bersalah dengan segala jeritan derita rakyat yang tak berujung.

No comments:

Wahyu dan Zaman

  Wahyu yang selama ini dikenal dan dipahami oleh umat Islam berbeda dengan fakta dan klaim sejarah. Karena wahyu yang absolute hanya saat w...