Jalan hidup dan berproses

 



Xiau Lin it cantik. Benar benar cantik. Size organ seksualnya proporsional dengan tingginya 170 cm. Matanya walau sipit tapi tidak terlalu sipit. Kecantikannya itu membuat pengusaha kaya hongkong memacarinya. Hanya tiga bulan dia dijadikan ratu. Setelah itu dia sudah di tempatkan sebagai keset kaki. Dia harus menerima kenyataan pacarnya seenaknya gandeng wanita lain depan dia. Dan dia tidak bisa berbuat banyak karena uang terus mengalir. Awalnya dia merasa pintar “ Bodo amat. Yang penting uang ngalir terus “ katanya.


Tapi setelah itu dia dilupakan begitu saja. Awalnya dia marah dan kecewa. “ Kamu hanya melihat kesalahan pacar kamu, tetapi tidak pernah melihat kesalahan kamu. Padahal kesalahan kamu itu sangat nyata.Tapi kamu engga sadari itu”


“ Apa ?


“ Kamu terlalu bergantung dan berharap dengan dia. “ Kata saya tegas. Dia termenung.


Hidup ini Tuhan ciptakan setiap manusia berbeda jalan hidupnya. Punya jalan sendiri sendiri. Kalau kamu ingin ikut jalan orang lain, apapun itu, ya namanya numpang. Padahal apa yang dia punya, kamu punya. Sama sama punya akal. Kenapa harus numpang? gunakan akal sendiri untuk survival.” Lanjut saya.


So..


Dengan akal yang mandiri itu, kamu akan mampu berkolaborasi dan bersinergi dengan siapapun tanpa kehilangan identitas kamu. Yang terjadi adalalah sharing dan itulah yang membuat hubungan jadi terhomat dan sustain. “ Kata saya.


Xiau Lin belajar dari kesuksesan mantan pacarnya. Tetapi dia tidak mengikuti jalan mantan pacarnya. Dia hanya memahami mindset pacarnya dapatkan uang untuk survival. Dari sana dia menentukan sikap . Dia memilih sebagai influencer bursa lewat underground. Di ruang remang remang itu, dia memang menjual aset tubuhnya tapi bukan tujuan dapatkan uang melainkan informasi. Dari informasi itu dia kapitalisasi untuk deal dengan pemain hedge fund. Sekali operasi dia bisa dapatkan uang juataan dollar.


Toh sama saja dengan pelacur. Apa peduli Xiau Lin?. Dia berusaha jadi wanita baik baik, toh akhirnya jadi pecundang di hadapan pacarnya. Setelah empat kali operasi hedge fund, dia mundur dengan tabungan puluhan juta dollar. Dan mulai tahun ini dia hidup nyaman sebagai dosen di shanghai. Mengapa dia tidak memilih hidup sebagai sosialita dengan uang ditangannya? Apakah sikapnya benar? Itu hanya Tuhan yang tahu. Yang pasti dia berusaha nyaman dengan setiap pilihan hidupnya tanpa ada sesal lagi.


Sama dengan Yuni, sebelum bertemu saya, dia berusaha menjadi istri yang baik. Suami kena PHK, dia cari uang untuk hidup keluarganya. Tanpa mengeluh. Dia berhutang untuk dapurnya. Tetapi oleh suaminya dia ditendang karena debt collector tagih utang. Yuni sadar itu. Dia tidak salahkan suaminya. Dia salahkan dirinya sendiri. Terlalu berharap pada suami. Solusi hidupnya bukan dapatkan suami baru tetapi menata hidupnya. Mengubah haluan mindset. Kini dia nyaman dengan pilihan hidupnya sebagai business woman, walau tanpa suami sekalipun.


Hidup ini bukan jalan yang datar. Ia jalan berliku, kadang turun naik. Bukan soal derita dan air mata. Bukan soal tawa dan canda. Tetapi berproses menemukan jalan sendiri. Yang salah itu adalah takut berproses dan terlalu nyaman dengan status quo. Terus mengeluh tapi tidak mau berubah dan berproses.


Comments

Popular posts from this blog

Keterpurukan ekonomi AS

Pria itu

Harapan ...