Sunday, July 25, 2021

Bukan mental Pemenang.

 



Tadi diskusi dengan teman aktifis Islam lewat telp. “ Islam sebagai kekuatan dikalahkan oleh kekuatan Sekular. Itu karena bantuan Barat. Kalaulah islam kuat secara politik tentu tidak mungkin kita dikendalikan Barat yang kapitalis.”Kata teman. 


“ Kalau kamu mau jadi aktifis maka kamu harus kuasai data dan peta politik real. Jangan hanya mengandalkan kata pengamat politik yang anti pemerintah. Masalah politik itu sederhana saja. Engga sulit kita pahami. Apalagi di era informasi dan demokrasi sekarang ini. Bahwa kekuatan islam dikalahkan oleh kekuatan sekular itu salah besar.”


“  Mengapa? Dia mendesak ingin tahu.


“ Loh, faktanya, kekuatan partai berbasis masa islam yaitu PKB, PAN, PKS, PPP total kursi di DPR ada 171. Itu mengalahkan PDIP yang 128 kursi. Mengalahkan Gerindra yang 78 kursi atau kurang separuh dari kekuatan Partai islam. Mengalahkan Golkar yang 85 kursi atau separuh dari kekuatan partai islam. Apalagi dengan partai lain yang sekular.  Jadi siapa bilang kekuatan politik islam lemah? Bahkan dengan kekuatan yang ada sekarang, itu sama dengan 1/3 anggota MPR. Syarat mengubah UUD 45 bisa terpenuhi.  Sebenarnya Tuhan itu sudah membuktikan keberpihakannya kepada umat islam untuk mengontrol politik. “ kata saya.


“ Tetapi kalau sendiri sendiri tetap aja lemah.? Katanya. 


“ Siapa suruh sendiri sendiri.? Ajaran islam kita disuruh sholat berjamaah. Kenapa terpecah barisan? Intropeksi dirilah, baca QS. Ali Imran: 103”


“ Ya memang sulit itu bisa bersatu.”


“ Nah jelas ya. Kesalahan itu ada pada diri kita sendiri yang memang tidak bisa bersatu.”


“ Apa penyebabnya?


“ Ya pertama karena kebodohan. Lebih mengandalkan perasaan daripada  akal, dan cenderung menolak dialektika. Terpasung dengan dogma. Kedua, mudah berprasangka buruk sebelum dianalisa secara menyeluruh. Ya gimana mau berprasangka baik, mindset kebodohan memang hanya ada prasangka buruk. Ketiga, sesama muslim suka berkata kasar. Apalagi berbeda pandangan atau sikap.  Keempat, mudah jadi penghasut dengan membesar besarkan perbedaan. Kelima, suka menghakimi orang secara personal.  Keenam. Kemaruk harta. Cobalah lihat kehidupan pribadi elite partai islam dan tokoh islam? terkesan hedonisme. Jauh dari rendah hati.” kata saya.


“ Tapi sekular lebih buruk.”


“ Itu kata kamu. Faktanya walau kalah suara dengan kelompok partai islam, PDIP berhasil menempatkan Jokowi sebagai presiden.  Jokowi sebagai pemenang. “


“ Walau menang, belum tentu Allah ridhoi” katanya ketus.

“ Bacalah, surat Ali Imran ayat ke-26. Itu jelas bahwa kekuasaan itu dari Allah. Bukan dari setan atau lainnya. Itu artinya Jokowi menang karena Allah. Apapun dari Allah itu baik dan tentu juga cobaan bagi Jokowi dan kita semua.  Jadi kembali kepada pertanyaan kamu, islam lemah itu kesan dari umat islam sendiri yang inferior complex. Engga pandai bersyukur. Makanya lemah. Kalaulah kita pandai bersyukur dan tidak kufur nikmat, tentu tidak sulit diantara kita bersatu sebagai sebuah kekuatan politik. Tidak sulit menjaga akhlak. Tidak sulit hidup sederhana. Faktanya itu memang sulit dan sulitpula kita jadi pemenang. Udah ya..lain waktu disambung 


No comments:

Dosa kolektif.

  Kalaulah kerajaan di Nusantara ini tidak membuka pintu kepada Inggris, perancis, pertugal, belanda  untuk datang berniaga, mungkin tidak a...