Saturday, May 29, 2021

Philosopi 5 jari

 


Ketika oma sedang setir kendaraan. Jemari kirinya saya genggam.” Ada apa sih pah. Aneh? Kata oma.


“ Telapak tangan ini waktu awal menikah, sangat halus. Tetapi kini terasa kasar. Kasarnya telapak tangan itu adalah bukti bahwa perjalanan hidup mama sangat berat mendampingi papa. Kalaulah mama tidak keras hati menjaga papa, entah jadi apa papa ini. Kini kita menua bersama” Kata saya terus meremas jemari oma.


“ Tapi tahu engga philosopi lima jari ini ? Kata saya.


“ Apa?


“ Jempol. Itu artinya kita harus terus berbuat baik. Tidak penting berbalas tidak baik. Tidak penting tidak ada terimakasih. Tidak penting orang suka atau tidak suka. Berbuat baik karena Tuhan saja. Jari telunjuk. Itu artinya kita harus punya kebiasaan memberikan petunjuk kepada orang lain tanpa ada kesan menggurui. Orang terima atau tidak, engga penting amat. Dibayar atau tidak, engga penting. 


Jari tengah? adalah bersikap adilah selalu. Baik dalam pikiran maupun dalam perbuatan. Soal orang suka tidak suka. Tidak penting. Kita tidak mungkin memuaskan semua orang. Jari manis, adalah bersikap manislah kepada orang lain. Luka karena pukulan bisa sembuh cepat. Tapi luka hati karena kata kata itu dibawa mati. Bersikap manis adalah juga menjaga ucapan. Walau kebenaran sekalipun, tetaplah bijak menyapaikannya. Terkakhir adalah jari kelingking, itu mengharuskan kita rendah hati. Kita bukan siapa siapa tanpa pertolongan Tuhan. “ Kata saya.


“ Ah papa,  tahu engga apa yang mama paling senang perubahan papa sekarang? 


“ Apa ?


“ Gua engga capek lagi beresin papa pulang malam hari dalam keadaan mabok. Itu aja. Selainnya ya biasa saja. Yang lima jari itu sudah nature papa. Orang tampang pas pasan memang begitu.” kata oma tersenyum.


No comments:

Rakus itu buruk.

  Di Hong Kong, saya bersama teman teman dari Jepang menikmati malam sabtu pada suatu private KTV. Para pramuria nya adalah profesional  ber...