Friday, May 28, 2021

Sombong dan tamak.

 




Kemarin malam saya bicara via facetime dengan teman. Dia menaging Director salah satu konglomerat bisnis di Indonesia. Dia juga staf ahli pemerintah. Pendidikanya? S3 dari Amerika. Saya kenal dia sudah lama. Namun tidak begitu inten ketemu. Sebetulnya hal sederhana yang dia diskusikan kepada saya. Yaitu masalah penyelesaian hutang korporat yang akan dialihkan ke entity di luar negeri. Namun cara yang akan ditempuhnya jelas melanggar hukum. Karena sistem perbankan kita tidak mengenal SWAP settlement berkaitan dengan hutang. 


Artinya kalau ingin selesaikan hutang, ya bayar dulu. Soal nanti mau gadaikan lagi neraca perusahaan dalam bentuk senior bond, itu urusan lain. Tapi yang membuat saya sempat terkejut adalah dia bilang ” Ah mana ada di Indonesia yang tidak bisa diatur. “ Kalau  dia sebagai orang yang well educated, managing director holding big company dan juga staf ahli pemerintah punya mental seperti ni, entah apa jadinya negeri ini.


Ada direksi konglomerat yang cerita kesaya, bagaimana  smart nya dia menyelesaikan hutang kepada BUMN. Caranya? dia buat preskom BUMN lebih loyal kedia. Sehingga mempersulit tagihan piutang BUMN kepada konglomerat. Direksi BUMN tidak berani keras kepada konglomerat itu. Memang tidak menghilangkan tagihan itu, namun mempersulit cash flow BUMN karena tagihan yang tak kunjung dibayar. Bagi direksi konglomerat yang well educated, itu adalah solusi smart. Kalau sekolah tinggi hanya bisanya itu sebagai solusi, apa bedanya degan preman jalanan.


Sama juga ada cerita direksi developer besar. Yang dengan bangganya cerita kalau hutang Fasum kepada Pemrof berhasil dia tunda, bahkan seakan tidak pernah ada tagihan sama sekali. Itu karena pejabat Pemrof lebih segan kepada dia daripada  kepada pemerintah. Maklum ring satu Gubernur lebih loyal kedia daripada kepada pemerintah. Dampaknya yang saya tahu, pemrof itu mengalami defisit APBD. Terpaksa berhutang untuk menutupi anggaran yang tekor. Dampaknya lagi adalah semakin lemahnya ekspansi sosial Pemrof kepada rakyat.

Banyak sekali masalah financial negara yang sebetulnya tidak ada masalah kalau itu diselesaikan sesuai aturan dan amanah. Tetapi karena masalah itu  digantung oleh pejabat kunci maka masalah tidak pernah selesai dan menjadi bomb waktu dikemudian  hari. 


“ Anda tahu, masalah hutang bisa dialihkan lewat aksi korporat seperti merger atau IPO yang kelak exit investor nya adalah dana pensiun milik negara.” Kata teman itu. Ya mereka berhutang kepada negara dan akhirnya Dapen yang bailout lewat skema merger atau IPO. Kelak itu akan jadi bomb waktu yang meledak seperti kasus Jiwasraya dan Asabri, dimana negara harus bail out atau bail-in.


Memang korupsi mencuri uang APBN/D itu sudah jadul. Tetapi korupsi lewat kerah putih itu semakin mewabah dan terjadi secara sistematis. Yang paling bahaya adalah itu berkaitan dengan uang negara yang ada pada swasta, dalam berbagai transaksi. Baik karena hutang uang, skema B2B yang merugikan BUMN, skema akuisisi BUMD lewat IPO yang menjadikan negara ( dapen) sebagai korban, dan semua itu tersembunyi dibalik penampilan mereka para orang well educated yang hidup plamboyan. Sementara rakyat bingung. Karena biaya sosial semakin mahal dan akses ekonomi semakin sulit.


Mungkin kita baru sadari seperti kata Bernanke boss the Fed.“ Kita sebetulnya sudah lama punya masalah besar, tapi kita terlalu banyak orang pintar di swasta yang membeli jiwa pemimpin pada setiap level. Mereka ahli menunda masalah, bukan menyelesaikan masalah. “ Itu katanya menyikapi krisis wallstreet, yang sampai kini menempatkan AS negara super power jadi pecundang.


Pada musim dingin saya bertemu dengan pejabat militer China di Changsa Hunan. Dia ajak saya makan tau yang diasami. Rasanya mau muntah. Aroma seperti air comberan. Saya tak sanggup makan tau itu walau di restoran mewah sekalipun.


“ Menu tau yang rasanya tidak enak dan baunya menyengat adalah menu rakyat miskin ketika musim dingin. Mereka harus bertahan selam 4 bulan untuk hidup dengan menu seperti itu. Kalau ada pemimpin yang suka menunda masalah, maka sehari saja mereka tunda masalah, jumlah kemiskinan akan bertambah karena kelahiran tidak bisa dihentikan. Bayangkan bagaimana kalau masalah sengaja ditunda bertahun tahun. Itu masa depan yang pasti buruk.” Katanya. 


Masalahnya, pemimpin kita dan kaum terpelajar, jangankan merasakan menu orang miskin, gaya hidup mereka sangat berjarak dengan orang miskin. Sikap rendah hati sangat jauh dan sejarah membuktikan hancurnya peradaban karena kesombongan, yang selalu bekulindan dengan tamak


No comments:

Rakus itu buruk.

  Di Hong Kong, saya bersama teman teman dari Jepang menikmati malam sabtu pada suatu private KTV. Para pramuria nya adalah profesional  ber...