Saturday, June 13, 2020

Sorga dan Neraka


Menurut kaum sufi kisah perjalanan mi’raj Nabi Muhammad ke Sidaratul Muntaha dilakukan dalam semalam. Nabi menggunakan kendaraan Bouraq, yang melesat seperti cahaya. Ketika sampai di gerbang Sidaratul Muntaha, malaikat Jibril yang mendampingi Nabi tidak bisa masuk ke dalam. Mengapa? “ Sayapku akan terbakar bila masuk ke dalam Sidratul Muntaha. Karena di dalam itu ada Cinta, Maha Pengasih lagi Maha Penyayang “ Kata Jibril. Maka hanya Nabi yang bisa masuk kedalam untuk menerima perintah sholat. Kaum sufi berprasangka bahwa Tuhan itu adalah Cinta. Makanya kalau ingin mendekati Tuhan, tentu haruslah dengan konsep Cinta. Itulah Kaum sufi.

Al Gazhali adalah manusia religius yang autentik. Dia percaya pada wahyu, dia menghormati Nabi dan Kitab, dia setia kepada syariah, tetapi tidak merasakan kehadiran Allah secara jelas. Gazhali tiba tiba mengalami krisis ruhani, dan pergi kepengasingan. Dari sinilah terjadi transformasi kejiwaan, dari mendekati Allah karena dorongan rasa takut berubah menjadi Cinta. Mungkin semacam konsep beragama kaum tasauf, seperti untaian syair Rummi. Fikih adalah fikih dan Anda harus mengikutinya, tetapi Anda tidak bisa mencapai Allah dengan mempelajari Al Quran dan ritual semata. Anda perlu membuka hati, dan hanya para sufi yang tahu cara membuka hati untuk menebalkan nilai nilai kemanusiaan, dalam cinta dan kasih sayang. 

Orientasi beragama bagi kaum sufi bukanlah karena fantasi surga dengan 72 bidadari atau ketakutan karena neraka yang maha panas dan kejam.  Mengapa? konsep sorga dan neraka itu konsep paling terbelakang dalam beragama. Beragama orang awam. Beragama karena pamrih. Padahal Cinta tidak mengenal pamrih. Bagi  kaum sufi, Konsep sorga neraka itu bukanlah “tempat”. Tetapi itu dipahami sebagai “kondisi”, dan itu bukan hanya di akhirat tetapi juga di dunia. Apa itu? Sorga itu di mana kondisi manusia sangat dekat dengan Tuhan. Kondisi yang selalu prasangka baik dan berpikir dan berbuat hal yang positip. Karenanya, hidup jadi nyaman dan aman. Ukurannya sudah melewati materi dan persepsi. Itulah Ikhlas.

Sebaliknya neraka itu di mana kondisi manusia sangat jauh dari Tuhan. Sangking jauhnya, mereka engga yakin Tuhan maha penjaga agama. Makanya mereka ingin jadi pembela agama. Terbentuklah Front Pembela Agama. Mereka tidak yakin Tuhan maha adil, makanya mereka selalu berprasangka buruk dan ingin medirikan khilafah agar keadilan tegak. Ya, semua hal dibuat negatif. Termasuk PKI yang sudah matipun dianggap masih hidup. Makanya mereka selalu berisik dan penuh kebencian. Karena hidup mereka seperti di neraka. Panas terus bawaannya dan cintapun semakin terhalau, Tuhan pun semakin jauh untuk didekati.

Nah, bila di dunia sudah menemukan sorga, hidup bahagia lahir batin, penuh ikhlas maka dalam kehidupan dimensi akhirat akan sama saja. Soal “tempat” engga penting lagi. Begitupula bila di dunia merasakan neraka, maka di akhirat tidak akan jauh beda. Karena perpindahan dari dunia ke akhirat hanyalah perubahan dimensi ruang waktu. Sementara Tuhan, Sang Pencipta kan tidak berubah. Tuhan tetap dan abadi dalam ujudnya yang tak terdefinisikan. Cara terbaik dan mudah melatih menciptakan sorga, ya di rumah tangga. Menikahlah. Kalau bahagia, maka separuh sorga sudah ditangan kita. Selebihnya bagaimana kita bisa berguna bagi orang banyak dan bersabar atas segala fitnah dan hujatan, serta pandai bersyukur.

No comments:

Ujian keimanan

  Banyak orang hebat, tetapi tidak hebat. Sama seperti Mie istant. Mie Ayam tapi bukan ayam. Rasa doang yang ayam. Itupun artificial atau bu...