Tuesday, June 23, 2020

Menerima dan berdamai.


Salah satu konglomerat, dalam usia senja sakit sakitan. Namun setiap hari anak anaknya pasti menyempatkan datang ke rumahnya untuk mencium tangannya atau menelphonnya sekedar meyakinkannya bahwa mereka peduli. Padahal mereka sangat sibuk. Pada waktu saya datang ke rumahnya untuk bersilahturahmi. Konglomerat itu berkata, “  mereka bukan peduli, tetapi mereka takut miskin. Karena setiap anak yang pegang saham perusahaan saya, mereka saya suruh teken surat pernyataan jual balik saham seharga USD1.  Artinya kalau mereka macem macem, saya tinggal kirim lawyer untuk tendang mereka. Dan saya hanya bayar USD 1 saham yang mereka punya. Selagi saya masih hidup, semua harta milik saya, dan tidak ada pembagian warisan apapun dan mereka akan selalu datang dengan cinta.” 

Dilain kesempatan, ada teman yang awalnya merasa bangga. Karena anaknya bisa mengelola perusahaan dan dia bisa menikmati usia pensiun. Namun berlalunya waktu, uang belanjanya dijatah oleh anaknya. Mau minta apapun kepada anak selalu diomelin. Belum lagi menantu perempuannya selalu lebih didengar dari dia. Padahal semua harta dan perusahaan itu hasil jerih payahnya. Anaknya tinggal menikmati. Saya tanya mengapa sampai begitu  sikap anaknya. “ Karena saya menyerahkan saham perusahaan semua kepada dia. Tujuannya karena saya ingin pensiun dan berharap anak menjaga saya. Tetapi nyatanya saya diperlakukan seperti anak anak” Katanya sedih dan merasa bego.

Banyak pria dengan harta dan uang yang dia miliki tidak bisa berbuat banyak dihadapan istri. Cenderung menjadi ayam sayur dihadapan istri. Itu bukanlah karena pria itu cinta mati. Bukan pula karena takut. Tetapi karena wanita bisa menjaga pride suami dengan baik. Apa itu? mendidik dan membesarkan anak tanpa merepotkan suami. Teman saya pernah bekata “ Kalau saya pulang, tidak pernah saya mendengar istri mengeluh soal repot mengurus anak. Menjelang tidur,  celoteh istri hanya soal anak. Karena itu tempat tidur menjadi sorga yang terindah”. Lambat laun anak anak itu menjadi rantai kokoh yang memasung suami untuk hanya berkiblat kepada istri. Apapun keputusan suami pada akhirnya tetap mengutamakan anak. Saat itulah, harta suami menjadi harta istri.

Dalam kehidupan politik juga sama. Tidak peduli apa sistemnya. Kekuasaan berdiri karena penguasa mampu memaksa orang loyal lewat  cara saling bargain ( saling sandera). Kalau KPK bekerja tanpa politik, saya rasa 2/3 elite politik masuk penjara. Tetapi, kekuasaan  tidak akan bertahan lama. Mengapa ? walau kekuasaan atas nama rakyat, tetapi keberadaannya karena konsesus segelintir orang itu. Selagi “pendapatan” sama , maka “pendapat” akan sama. Semua akan damai dan baik baik saja. Perdamaian itu sangat mahal. Apa arti keadilan dan kebenaran kalau tidak ada perdamaian. Tdak ada kerajaan utopia di dunia ini kecuali dalam dunia dongeng, dunia khilafah.

Hidup ini harus berakal, demikian kata mendiang ayah saya. Kita tidak bisa meminta orang berela hati menyukai dan menghormati kita kalau kita tidak tahu bagaimana “ memaksa” dia. Dan kalau akhirnya dengan cara “ memaksa” itu mereka menghormati kita, engga perlu pula kita bangga. Anggap itu hanya transaksional. Dalam situasi saling bargain keseimbangan menjadi sangat kokoh. Tidak ada yang merasa sangat hebat dan yang lain lemah. Kalau boleh disampaikan secara romantis, orang bisa bertahan dan happy bukan karena dia hebat tetapi karena dia bisa berdamai dengan kenyataan. Bahwa hidup memang tidak ramah. Yang tulus mencintai anda hanya Tuhan, bukan manusia. Maka ikhlaslah…

No comments:

Bencana itu karena Tuhan murka?

  Tahun 2008 atau tepatnya 14 Mei saya mendengar kabar dari berita TV terjadi gempa di Sichuan China. Saya teringat dengan sahabat saya yang...