Sunday, November 10, 2019

Islam dan kearifan lokal



Saya bergaul dengan lintas agama, etnis, budaya dan warna kulit. Puluhan tahun saya bergaul dengan mereka baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Di Kiev saya sholat di teras Gereja yang sebetulnya tadi itu adalah Masjid ketika zaman kekuasaan dinasti Ustmani. Di Beirut saya sholat di rumah teman yang beragama kristen. Apakah saya pindah agama karena itu atau iman saya memudar ? Tidak. Mengapa ? Karena iman saya menyatu dengan adat saya sebagai orang Minang. Bahkan Bahasa inggeris saya tetap dengan slang Minang. Bukan itu saja, bicara Indonesia pun saya tetap dengan slang Minang.

Dalam berdoa saya lebih suka menggunakan bahasa minang. Didikan agama yang saya terima dari orang tua melalui sentuhan adat minang. Saya bangga karena saya adalah putra ibu saya. Sampai kapan pun tak akan pernah saya ubah. Karena saya mencintai ibu saya. Jadi kalau ada yang mempermasalahkan simbol salip atas design masjid itu artinya dia engga paham adat sebagai pengikat agama. Soal design itu mah cemeng…

350 Tahun Indonesia dijajah oleh Belanda. Dan selama itu kaum misionaris yang dibiayai kerajaan dan vatikan terlibat aktif menyebarkan agama di Indonesia. Tapi apakah selama 350 tahun mayoritas orang Indonesia pindah agamanya ke kristen atau katolik ? atau seperti sebagian orang Libanon yang Islam pindah ke Kristen ortodok karena di bawah kendali Barat. Tidak kan. Keberadaan islam sebagai agama di Indonesia tetap di hati rakyat. Mengapa ?

Karena islam diperkenalkan oleh para ulama tempo dulu melalui perkawinan kebudayaan. Sehingga sangat sulit bagi mereka untuk pindah agama. Apalagi cara cara kolonialis Belanda yang terkesan zolim, yang semakin membuat mereka memperkuat keimanan dan membentenginya dengan budaya keseharian. Contoh budaya berkumpul bersama tetangga dan handai tolan terus hidup melalui tradisi mengingat kematian , nujuh hari, empat puluh hari, seratus hari, seribu hari. Maulid Nabi dan lain sebagainya.

Kearifan dan kecerdasan para ulama tempo dulu dalam memperkenalkan islam di Indonesia sangat luar biasa. Budaya keseharian yang sudah menyatu dengan hindu dan animisme di modifikasi mereka agar sesuai dengan nilai nilai islam tanpa menghilangkan budaya itu sendiri. Itu sebabnya walau ketika itu yang berkuasa adalah raja Majapahit yang hindu namun Majapahit tidak melihat Islam sebagai ancaman. Karena itu islam cepat menyebar ke seluruh pelosok negeri ini. Sehingga jadilah islam yang bernuansa Indonesia. Aqidah itu tertanam dalam diri mereka dan malu bila dilanggar. Cobalah perhatikan, bagaimanapun jahatnya seseorang, marah kalau dibilang setan atau kafir atau murtad. Artinya dalam diri mereka ada Allah.

Makanya jangan kaget bila para pendiri negara kita menyebut Indonesia dengan sebutan yang sangat mesra dan sakral. Apa itu ? IBU PERTIWI. Karena bagi budaya Indonesia mencintai Ibu adalah sama dengan mencintai Tuhan. Dan Tuhan berkata bahwa sorga itu ada di bawah telapak kaki ibu. Suatu perpaduan yang luar biasa. Kehebatan Soekarno dan Hatta bersama para pendiri negara ini membuat Indonesia merdeka karena kepiawaian mereka menggunakan emosi budaya yang diawali dengan sumpah pemuda, bukan sumpah syariah islam. Bahkan berdirinya beberapa kesultanan Islam yang mengadopsi khilafah sangat mudah dihancurkan melalui politik adudomba dan akhirnya takluk kepada Belanda.

Tapi seorang Soekarno bersama sahabatnya yang tampa tahta mampu merebut kemerdekaan dari kolonial Belanda. Mengapa ? Mereka mengenal budaya Indonesia dengan baik dan merebut hati rakyat melalui budaya itu. Maka bersatulah rakyat dari berbagai golongan, agama dan suku, dalam barisan yang tertip termasuk umat Islam menuju perang rakyat semesta mengusir penjajah. Jadi kalau ada orang anti budaya Indonesia dan berusaha memisahkan budaya dan agama, itu artinya dia sedang berusaha menghancurkan Indonesia, menghancurkan komunitas islam. Moga anggota DPR yang mengolok ngolok menteri Agama, bisa memahami  ini.

No comments:

Bencana itu karena Tuhan murka?

  Tahun 2008 atau tepatnya 14 Mei saya mendengar kabar dari berita TV terjadi gempa di Sichuan China. Saya teringat dengan sahabat saya yang...