Friday, June 17, 2016

Menilai keimanan Jokowi?


Ada seseorang facebooker dengan begitu saja memberikan penilaian tentang sosok pribadi Jokowi yang di ragukan ke islaman nya, hanya karena Pemerintah akan mencabut Perda yang berpotensi menghambat  investasi dan tidak mendukung persatuan. Saya terhenyak ketika membaca postingan ini yang di kirim oleh sahabat saya. Usia saya sudah diatas 50 tahun. Saya lahir di era Soekarno dan tumbuh dewasa di era Soeharto sampai kini. Tidak pernah terdengar orang menghujat pribadi Presiden sekeras era Jokowi. Apa salah Jokowi terhadap mereka ?  Secara pribadi dia adalah seorang muslim yang telah menyempurnakan rukun islamnya. HIdup nya sederhana. Ayah dari anak anak yang baik. Anak anaknya tumbuh dan berkembang tanpa bayang bayang kekuasaan yang di milikinya. Berlatar belakang sebagai pengusaha tanpa ingin hidup sebagai jongos. Bersikap jelas sebagai presiden, dimana dia harus patuh dengan UUD dan UU. Dia sadar bahwa apapun tindakannya apabila melanggar UUD dan UU adalah pengingkaran terhadap sumpah jabatannya yang harus dia pertanggung jawabkan di hadapan Tuhan dan tentu dia akan di lengserkan oleh DPR karena DPR sendiri tidak 100% mendukungnya. Lantas apakah pantas kebijakan yang dibuatnya berdasarkan UUD dan UU kita sudutkan pribadinya? Apakah hanya dengan Negara bersyariat Islam yang sesuai dalil anda, akan lebih baik ? itu juga tidak ada jaminan. Tapi mempertanyakan keimanannya sebagai muslim adalah sikap rendah dan tidak beradab.

Kembali kepada masalah, apakah  dibenarkan orang menilai keimanan seseorang atas dasar ilmu atau pengetahuan yang dia punya ? Soal ini Allah memberikan analogi tentang batasan kemampuan ilmu manusia lewat kisah hikmah Musa berguru kepada Nabi Al-Khidhir. Berawal ketika kaum Nabi Musa  bertanya,
 “Wahai Musa, siapakah di atas bumi Allah ini paling pandai dan paling berpengetahuan?”
“Aku”, jawab Musa.
“Apakah tidak ada kiranya orang yang lebih pandai dan lebih berpengetahuan daripadamu?” Tanya lagi si penanya itu.
“Tidak ada” , ujar Musa.

Rasa sombong dan keunggulan diri yang tercermin dalam kata-kata Nabi Musa, dicela oleh Allah yang memperingatkan kepadanya bahwa bagaimana luasnya ilmu dan pengetahuan seseorang, niscaya akan terdapat orang lain yang lebih pandai dan lebih alim daripadanya. Selanjutnya untuk menunjukan kekurangan yang ada pada diri Nabi Musa,  Allah memerintahkan kepadanya untuk berguru kepada Nabi Al-Khidhir. Lantas apa yang dapat di pelajari oleh Nabi Musa dari Khidhir ? Syarat nya Musa harus sabar dalam belajar.Musa berjanji akan sabar.  Al-Khidhir membolongi perahu yang sedang ditumpanginya sehingga kapal itu gagal sampai di tujuan. Musa heran karena pemilik perahu itu telah berbuat baik memberikan tumpangan tapi kapalnya di bolongi?. Al-Khidhir  membunuh anak yang sedang bermain tanpa alasan yang bisa diterima oleh Musa. Al-Khidhir  meminta Musa membantunya memperbaiki suatu rumah di kampung yang di lewatinya. Padahal penduduk kampung itu tidak sopan dan pelit. Di setiap kejadian di luar akal nya itu, Musa protes keras. Namun dia kembali di ingatkan untuk berlaku sabar. Musa sadar bahwa dia harus menepati janjinya.

Setelah di beri tahu oleh Al-Khidhir hikmah dibalik perbuatannya membolongi perahu, membunuh anak dan memperbaiki rumah, akhirnya Musa sadar bahwa betapa dia bukanlah siapa siapa. Ilmu Allah itu terlalu luas. Banyak hal yang kita pelajari tidak akan mampu menjawab pasti apa yang akan terjadi sedetik kemudian. Sehebat apapun pengetahuan kita tidak akan bisa menjawab pasti kebenaran atas suatu peristiwa. Bahkan seburuk apapun perbuatan orang pasti ada alasan dan dibalik alasan itu ada niat. Yang tahu niat orang sesungguhnya adalah Allah. Dan perbuatan itu di ukur bukan apa yang di lakukan tapi niatnya, Innamal A'malu Binniyat. Karenanya apapun sikap dan  opini terhadap suatu hal  seharusnya di akhiri dengan wallahu A'lam bishawab sebagai pengakuan kefakiran pengetahuan kita sebagai Hamba ALLAH. Rendah hati adalah ciri khas orang berilmu yang beriman. Pada saat ini, sering terdengar berbagai macam kritik dan penilaian terhadap pribadi Jokowi yang dilontarkan oleh banyak kalangan dari kaum muslimin, namun tidak menggunakan manhaj atau adab yang benar dan baik, sehingga tidak memberikan perbaikan, namun justru menimbulkan bermacam-macam dampak negative. Padahal kedudukan seorang muslim di sisi Allah Ta’ala, tinggi dan terhormat. Maka, tidak pantas manusia merendahkan dan mencela seorang muslim, apalagi bila hal tersebut tidaklah benar, tidak berdasarkan ilmu dan keadilan.

Memang Allah memberikan indicator keimanan seseorang atas dasar prilakunya tetapi masalah apakah ‘keakuratan’ dari hasil pengukuran kita mengenai benar tidaknya kadar keimanan yang dimiliki seseorang adalah urusan Allah.  Allah lah yang lebih mengetahui kadar keimanan seseorang dan mengetahui segala hal.  Dan ingat “ Apabila seseorang menyeru kepada saudaranya: Wahai kafir, maka sungguh akan kembali sebutan kekafiran tersebut kepada salah seorang dari keduanya. Bila orang yang disebut kafir itu memang kafir adanya maka sebutan itu pantas untuknya, bila tidak maka sebutan kafir itu kembali kepada yang mengucapkan.” (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 6104 dan Muslim no.60). Bagaimana anda yakin bahwa seorang itu kafir? Padahal pengetahuan anda tidak akan mampu menilai orang kecuali Allah. Sikap anda tak lain menunjukan sombong berlebihan dan intelektual yang terbelakang.. Jokowi tetap sabar walau di fitnah dan dia akan baik baik saja. Sementara hidup anda akan semakin sempit karena orang yang di fitnah akan Allah angkat derajatnya dan derajat anda semakin rendah, lebih hina dari hewan..

No comments:

Propaganda lewat Film.

  Selama lebih dari 10 tahun di China, Saya suka nonton drama TV. Padahal di Indonesia hal yang jarang sekali saya tonton adalah Drama TV. M...