Tuesday, June 07, 2016

Mengelola nafsu


Ada komunitas budha terletak di Lembah Larung Gar dengan ketinggian 4.000 meter, sekitar 15 km dari kota Sêrtar, Prefektur Garze di wilayah Tibet Kham. Desa tersebut berada pada ketinggian 12.500 kaki dari permukaan Laut. Untuk mencapai wilayah ini bukanlah pekerjaan yang mudah, kota besar terdekat adalah Chengdu, yang berjarak 650 kilometer serta memakan waktu 13 sampai 15 jam dengan kendaraan. Namun tidak semua wisatawan bisa masuk ke wilayah ini.  Wilayah ini adalah pusat komunitas budha terbesar di dunia. Kehidupan di wilayah ini sangat sederhana. Tidak ada kehidupan modern.Tidak ada listrik. Tidak ada musik. TIdak ada internet. Tidak ada telp. Tidak ada toilet. Tidak alat pemanas. Tidak ada kendaraan. Jadi kemana pergi di wilayah itu harus jalan kaki yang menyusuri bukit di tinggian 4000 meter. Di tempat inilah berdiri Serthar Buddhist Institute yang di huni 40.000 biarawan dan biarawati. Sebagian besar di huni oleh biarawati. Melihat cara mereka melaksanakan ibadah dan melaksanakan kehidupan agamanya sangat berat. Selama disana tidak ada mitos para saolin di ajarkan berkelahi tapi justru diajarkan untuk menahan emosi dan menguasi alam dengan kekuatan jiwa penuh kasih. Penemuan diri dan kelengkapan diri adalah membunuh nafsu dunia dan kemewahan dunia. Mereka yakin kesederhaan itulah yang akan membawa mereka ke nirwana.

Saya bersyukur karena Islam tidak mengajarkan seperti agama Budha dimana orang harus menyiksa dirinya menjauh dari kemewahan hidup. Kewajiban puasa yang lebih lama ( lebih dari 2 bulan dalam setahun ) dengan syarat yang sangat ketat seperti di larang membunuh apapun yang bernyawa, dan harus tinggal di kuil. Kalau islam zakat 2,5 % tapi mereka 10% dari penghasilan.  Islam adalah agama yang mudah dan sesuai dengan fitrah manusia. Allah menghendaki kemudahan kepada umat manusia dan tidak menghendaki kesusahan kepada mereka. Sebagaimana firman Allah  “Kami tidak menurunkan Al-Qur-an ini kepadamu (Muhammad) agar engkau menjadi susah; melainkan sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah), diturunkan dari (Allah) yang menciptakan bumi dan langit yang tinggi.” [Thaahaa: 2-4]. Bagaimana dengan Tauhid ? sulitkah ?  Mentauhidkan Allah dan beribadah hanya kepada-Nya adalah mudah. Shalat hanya diwajibkan 5 waktu dalam 24 jam. Orang yang khusyu’ dalam shalat, paling lama 10 menit, dalam hitungan hari ia melaksanakan shalatnya dalam sehari hanya 50 menit dalam waktu 24 x 60 menit. Jika tidak mampu berdiri karena sakit boleh sambil duduk atau berbaring. Jika tidak ada air (untuk bersuci), maka dibolehkan tayammum. terkena najis, hanya dicuci bagian yang terkena najis. Musafir disunnahkan mengqashar (meringkas) shalat dan boleh menjama’ (menggabung) dua shalat apabila dibutuhkan, seperti shalat Zhuhur dengan ‘Ashar, dan Maghrib dengan ‘Isya’.Sholat bisa dimana saja . Seluruh permukaan bumi ini dijadikan untuk tempat shalat dan boleh dipakai untuk bersuci (tayammum).

Puasa hanya wajib selama satu bulan, yaitu pada bulan Ramadlan setahun sekali. Orang sakit dan musafir boleh tidak berpuasa asal ia mengganti puasa pada hari yang lain, demikian juga orang yang nifas dan haidh. Orang yang sudah tua renta, perempuan hamil dan menyusui apabila tidak mampu boleh tidak berpuasa, dengan menggantinya dalam bentuk fidyah.  Zakat hanya wajib dikeluarkan sekali setahun, bila sudah sampai nishab dan haul. Haji hanya wajib sekali seumur hidup. Barangsiapa yang ingin menambah, maka itu hanyalah sunnah.  Qishash (balas bunuh) hanya untuk orang yang membunuh orang lain dengan sengaja. Syari’at Islam adalah mudah. Kemudahan syari’at Islam berlaku dalam semua hal, baik dalam ushul (pokok) maupun furu’ (cabang), baik tentang ‘aqidah, ibadah, akhlak, mu’amalah, jual beli, pinjam meminjam, pernikahan, hukuman dan lainnya.Semua perintah dalam Islam mengandung banyak manfaat. Sebaliknya, semua larangan dalam Islam mengandung banyak kemudharatan di dalamnya. Maka, kewajiban atas kita untuk sungguh-sungguh memegang teguh syari’at Islam dan mengamalkannya. Rasulullah bersabda: “Permudahlah dan jangan mempersulit, berikanlah kabar gembira dan jangan membuat orang lari.”  Nikmat apalagi yang kita dustakan.

Tapi yang mudah dan ringan bagi umat islam, masih terasa berat di lakukan..Entah bagaimana kalau kewajiban kita seperti umat budha. Dunia memang menggoda manusia, yang bisa membuat manusia lupa jalan pulang dan Allah mengajarkan Rasul cara berdoa menghadapi dunia : "Ya Rabb kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami bersalah. Ya Rabb kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Rabb kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri ma'aflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir." Apakah ada yang lebih kafir di bandingkan nafsu itu sendiri.Ia ada dalam diri kita dan karena itulah kewajiban puasa agar kita bisa mengendalikan nafsu untuk menemukan kesejatian kita bahwa dunia hanyalah senda gurau belaka dan jalan menuju akhirat adalah yang benar.  Ya bila kita mengejar dunia maka kita akan kehilangan akhirat namun bila kita mengejar akhirat maka dunia akan kita miliki,dan cara benar mengejar akhirat tidaklah sulit tapi mudah. Namun yang mudah itu kadang terasa sulit karena hati kita di kuasai nafsu dunia. Mengelola nafsu adalah keniscayaan bagi umat islam,kapan saja dan dimana saja, sepanjang usia.


No comments:

Menerima kenyataan.

  Saya naik Ojol. Supirnya sarjana. Alih profesi karena situasi dan kondisi. Kena PHK akibat COVID. Setahun setelah itu rumah tangga bubar. ...