Saturday, June 11, 2016

Hidup berbagi...


Waktu makan malam dengan mitra yang juga sahabat saya, kami saling pandangan ketika melihat salah satu mitra saya tertidur di depan meja makan seusai makan malam. Sahabat saya yang tertidur itu memang termasuk paling tua diantara kami bertiga. Usianya sudah 68 tahun. Salah satu sahabat saya berkata " lihat dia" katany menunjuk teman yang tertidur " 10 tahun lalu dia hanya tertidur kalau ada tempat tidur. Dia selalu sibuk. Andaikan waktu bisa dia beli dia akan beli karena 24 jam sehari tidak cukup untuk memenuhi ambisinya. Kini dia menua. Dua anaknya tinggal di Canada. Istrinya ikut anaknya di Canada. Di masa tuanya di hidup sendiri di Hongkong dan dilayani oleh pembantu. Sangat menyedihkan". Ada rasa iba melihat sahabat saya seperti itu.  Tapi inilah hidup. Dia telah menentukan pilihannya dan dia merasa bahagia melewatinya. Kalaupun kini dia merasa kesepian, dia akan baik baik saja walau mungkin bukan cara hidup yang menentramkan di masa tuannya.

Bagaimana dengan kamu? Tanya saya. Karena saya tahu teman ini usianya 5 tahun diatas saya. Tidak pernah menikah seumur hidupnya. " saya terbiasa hidup sendiri. Tapi bukan berarti saya ingin menyendiri. Itu sudah takdir saya jadi jomblo. Saya tidak sesali itu. Seumur hidup saya berusaha untuk berbagi kepada siapapun. Kini saya punya banyak teman dan empat orang anak angkat saya selalu ada untuk saya. Mereka mencintai saya dan selalu meyakinkan saya agar selalu sehat. Jadi hidup sebagaimana kamu katakan bahwa keluarga itu penting tapi jauh lebih penting adalah semangat berbagi atas dasar cinta. Memang keluarga prioritas tapi setiap pria tidak di lahirkan untuk berbuat hanya untuk keluarganya tapi juga untuk yang lain. Rezeki tidak harus memanjakan keluarga tapi membuat mereka bersyukur agar tahu arti mencintai. Jangan sampai seperti dia ... Katanya sambil menunjuk teman yang tertidur , betapa besarnya pengorbanan dia untuk membahagiakan keluarganya tapi apa yang dia dapat? Andaikan sepanjang usianya tadi di gunakan untuk berbagi mungkin dia tidak harus kesepian.. "

Saya tersenyum. Hidup memang bukan hal yang sulit di maknai asalkan kita sadar akan firman Allah " Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu); dan di sisi Allah-lah pahala yang besar".Cobaan itu tidak ringan. Bagi si miskin mungkin cobaan hanya menahan lapar dan keinginan. Bagi yang jomblo hanya menahan birahi. Tapi bagi yang punya harta dia harus bersabar atas dorongan harta untuk dia tidak di perbudak nafsu dan mengharuskan dia berbagi. Bukan hanya perjuangan menafkahi keluarga tapi lebih dari itu sadar bahwa mereka adalah bagian dari titipan Allah. Ada lagi titipan Allah yang harus dilaksanakan yaitu menebarkan kebaikan dengan harta yang ada. Kesalehan social harus menjadi bagian dari rasa syukur atas rezeki yang Allah beri. Dari tabungan kebaikan itu akan kembali kepada diri kita sendiri. Karena bukan tidak mungkin anak yang diharapkan sebagai tongkat kita di masa tua, tidak bisa berbuat lebih karena alasana tertentu tapi ada orang lain yang bukan siapa siapa tapi pernah merasakan kebaikan kita ,justru dialah yang selalu ada untuk kita dan menjaga kita dari ketuaan dan kelemahan kita. 

Malam telah larut. Kami bertiga jalan kaki menyusuri trotoar jalan.  Langkah kaki kami di hentikan oleh seorang biarawan yang menegur kami dan mendoakan kami. Teman saya yang lebih tua hanya tersenyum sambil berkata “ terlalu mudah dia dapatkan uang”.Tapi teman saya satunya lagi memegang  bahu biarawan sambil menyelipkan uang di dalam lipatan kertas berisi himbauan hidup berbagi. Saya hanya tersenyum meliat peristiwa itu.  Memang tidak mudah merubah sikap orang, apalagi menganggap harta itu bukan berasal dari Tuhan tapi karena kerja keras semata.  Tapi akan selalu ada orang percaya bahwa bukan soal dari mana harta itu datang tapi memberi dan berbagi itu memang indah dan membahagiakan. Apakah itu kurang cukup bukti bahwa Tuhan hadir di dalam diri kita dan meniupkan pesan tentang cinta, selalu. Masalahnya apakah kita merasakan kehadiran Tuhan yang mengharuskan kita menegakan keadian bagi mereka yang papa...

No comments:

Ujian keimanan

  Banyak orang hebat, tetapi tidak hebat. Sama seperti Mie istant. Mie Ayam tapi bukan ayam. Rasa doang yang ayam. Itupun artificial atau bu...