Saturday, August 03, 2013

Meraih bahagia...

Ada kisah di zaman Rasul yang sampai kini selalu saya ingat. Kisah ini diceritakan oleh ibu saya ketika saya masih kelas VI SD. Apa kisah itu? Kisah  seorang bernama Al Qamah yang tak mampu mengucapkan La ilaha illallah ketika menjelang sakratul maut. Lidahnya terasa terkunci untuk mengucapkan La ilaha illallah sehingga ruh tak kunjung lepas dari raganya. Tentu dia menderita sekali.  Para sahabat bingung manakala melihat keadaan Al Qamah karena ia dikenal sebagai  orang ahli ibadah, gemar bersedekah dan selalu berbuat baik kepada orang lain. Apakah gerangan dosanya sehingga nampak begitu sulit ruh melepas dari raganya? Rasul bertanya kepada orang tua Al Qamah yang kebetulan hanya ibunya yang masih hidup namun sudah renta. Kepada ibu ini , Rasul bertanya tentang perasaannya terhadap anaknya yang sedang sakratul maut. Ibu ini berkata bahwa dia sangat mencintai anaknya namun sedikit kecewa karena anaknya lebih mencintai istrinya ketimbang dirinya, dan karena itu anak itu dianggapnya durhaka. Rasul minta agar ibunya memaafkan dosa anaknya agar anaknya bisa bebas dari sakratul maut. Awalnya ibunya keberatan untuk memaafkan namun ketika Rasul berniat akan membakar jasad anaknya, ibu ini langsung luluh hatinya dan segera memaafkan dosa anaknya. Seketika itu juga AL Qamah tutup usia dengan mudah.

Maka, Rasulullah melihatnya dan memerintahkan untuk dimandikan lalu dikafani, kemudian beliau menshalatkannya dan menguburkannya, Lalu, di dekat kuburan itu beliau bersabda, “Wahai sekalian kaum Muhajirin dan Anshar, barangsiapa yang melebihkan istrinya daripada ibunya, dia akan mendapatkan laknat dari Allah, para malaikat dan sekalian manusia. Allah tidak akan menerima amalannya sedikitpun kecuali kalau dia mau bertobat dan berbuat baik pada ibunya serta meminta ridhanya, karena ridha Allah tergantung pada ridhanya dan kemarahan Allah tergantung pada kemarahannya.” Begitulah agungnya ajaran Islam bagaimana mendidik manusia untuk senantiasa memuliakan orang tuanya. Menyembah Allah adalah keharusan bagi siapapun yang beriman dan kewajiban tauhid itu bersanding dengan kewajiban berbakti kepada kedua orang tua. Firman Allah dalam QS. Al-Israa:23 yang artinya: Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.”

Berbakti kepada orang tua bukan hanya bertanggung jawab akan kebutuhan hidupnya bila dia telah tua namun lebih daripada itu adalah bagaimana menjaga perasaanya. Melalui orang tua yang kadang mudah marah, mudah tersinggung,  banyak menuntut, kadang tidak rasional, sebetulnya ini adalah bentuk lain Allah menguji kesabaran kita untuk tetap bersikap bijak kepada mereka  tanpa membuat mereka kecewa dan bersedih. Ini memang tidak mudah. Apalagi bila kita sudah punya istri dan sudah umum istri dan orang tua kita tidak selalu akur. Keduanya minta diperhatikan dengan caranya masing masing. Kita bisa saja terjebak sehingga membuat hati kita lebih condong kepada istri sehingga tanpa disadari kita telah membuat hati orang tua kita kecewa. Kalaulah tipe orang tua kita termasuk yang mudah terbuka maka akan cepat diketahui dia kecewa, sehingga kita bisa bersegera meminta maaf. Namun bila orang tua  lebih banyak menyembunyikan perasaan kecewanya  akan sikap kita , kita tidak akan tahu dan tidak akan meminta maaf. Dampaknya akan besar sekali dalam kehidupan kita. Banyak orang sempit ketika lapang dan menangis ditengah pesta, kering ditengah hujan dan berlumpur diistana megah. Itu semua karena azab Allah akibat perbuatan kita menjadikan orang tua sebagai second dalam hidup kita.

Benarkah begitu adanya ?  Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas r.a. bahwa dia berkata, “Tidaklah seorang muslim memiliki dua orang tua muslim, (kemudian) dia berbakti kepada keduanya karena mengharapkan ridha Allah, kecuali Allah akan membukakan dua pintu untuknya –maksudnya adalah pintu surga–. Jika dia hanya berbakti kepada satu orang tua (saja), maka (pintu yang dibukakan untuknya) pun hanya satu. Jika salah satu dari keduanya marah, maka Allah tidak akan meridhai sang anak sampai orang tuanya itu meridhainya.” Ditanyakan kepada Ibnu ‘Abbas, “Sekalipun keduanya telah menzaliminya?” Ibnu ‘Abbas menjawab, “Sekalipun keduanya telah menzaliminya.”. Pintu sorga terbuka lebar bagi anak yang bisa bersabar akan sikap orang tuanya serta senantiasa memuliakan orang tuanya. Namu bagi anak yang tidak mau mengerti sikap orang tuannya, mudah tersinggung, mudah sakit hati, kecewa, marah, maka dia mengarahkan kepada sikap durhaka kepada orang tua. Bagaimana hukumnya dalam islam? Setiap dosa akan Allah tangguhkan (hukumannya) sesuai dengan kehendak-Nya, kecuali (dosa karena) durhaka kepada kedua orang tua. Sesungguhnya Allah swt. akan menyegerakan hukuman perbuatan itu kepada pelakunya di dunia ini sebelum ia meninggal. ( Al Hadith).

Jadi  jika kita  berprilaku baik kepada orang tua, maka niscaya Allah meridhloi semua amal perbuatan kita. Oleh karenanya, setiap yang kita lakukan selalu dituntun oleh Allah kepada hal-hal kebajikan yang diridhloi Allah SWT yang kemudian menghantarkan kita kepada kebahagiaan sorgawi baik di dunia terlebih di Akhirat. Cintailah kedua orang tua kita dengan ikhlas apapun sikapnya  karena itulah jalan meraih kebahagiaan.  Bagi anda yang selalu dirudung derita tak berkesudahan. Berharta susah, miskin menderita, maka segeralah sujud dikaki kedua orang tua. Mintalah ampun kepada orang tua dan setelah itu perbaikilah sikap terhadap orang tua. Insya Allah kebahagiaan akan mudah diraih…Bagi orang tuanya yang sudah meninggal maka doakanlah oran tua itu siang dan malam

No comments:

Dosa kolektif.

  Kalaulah kerajaan di Nusantara ini tidak membuka pintu kepada Inggris, perancis, pertugal, belanda  untuk datang berniaga, mungkin tidak a...