Friday, August 09, 2013

Puasa dan Ketaqwaan

Selama bulan ramadhan sebagian besar waktu saya di luar negeri. Ditengah kesibukan bersama orang orang tak seiman, tentu setiap hari saya melihat teman dan relasi business saya makan dan merokok dihadapan saya. Belum lagi kadang saya harus bertemu dengan relasi yang bila wanita pakaiannya ( maklum summer ) sexy yang menggoda mata dan hati.  Dari itu semua saya harus tetap istiqamah menjalankan ibadah puasa. Hampir dipastikan saya jarang makan sahur seperti layaknya bila ada dirumah. Sahur saya hanya makan buah dan minur air putih, kemudian membaca buku sampai datang waktu sholat shubuh.  Disamping itu karena pekerjaan saya mengharuskan saya melakukan perjalanan kenegara dengan zona waktu berbeda, maka kadang saya harus melewati puasa lebih dari jam puasa pada umumnya. Ya, saya harus tetap kering ditengah hujan deras. Saya harus tetap bersih ditengah percikan lumpur. Saya harus tetap mekar ditengah terik matahari. Kalaulah bukan karena ketaqwaan rasanya hampir sulit diterima dengan akal sehat ibadah puasa dapat dilaksanakan dengan sempurna. Mengapa ? puasa adalah ibadah atas dasar keimanan dan ketaqwaan kepada Allah.  Tidak mungkin puasa dapat dilaksanakan bila hanya didasarkan kepada keimanan semata. Puasa adalah ibadah Tauhid.

Saya bukanlah ahli agama. Namun prinsip Tauhid saya kenal dengan baik. Ilmu Tauhid adalah Ilmu utama dari segala ilmu yang ada. Itu sebabnya hukum dalam agama mempelajari Ilmu Tauhid adalah fardhu ’ain bagi setiap umat islam. Sedangkan mempelajari ilmu lainnya adalah fardhu kifayah. Dari sejak Nabi Adam sampai Nabi Muhammad, masalah tauhid selalu yang utama dibahas. Hampir semua isi AL Quran yang diturunkan sebelum hijrah (ayat-ayat Makkiyyah) berisi tauhid dan yang terkait dengan tauhid. Tauhid berhubungan dengan Aqidah dan setiap umat islam harus menempatkan aqidah diatas segala galanya. Setinggi apapun ilmu yang digapai maka haruslah tidak keluar dari aqidah. Harus sebagai penguat aqidah untuk semakin dekat kepada Allah dan mencintai Allah. Karena bila ilmu dunia sampai mengaburkan aqidah maka rusaklah agama pada diri manusia dan sesatlah jalan pulang. Karenanya Ilmu Tauhid harus diperdalam ,sebagaimana layaknya kompas kehidupan. Dengan memahami ilmu Tauhid, hati akan damai dan tentram ditengah gelombang kehidupan yang kadang bisa membuat kita tergelincir dalam kubangan maksiat. Dari Utsman bin Affan radhiyallahu’anhu, beliau berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang meninggal dalam keadaan mengetahui bahwa tidak ada yang sesembahan -yang benar- selain Allah, niscaya masuk surga.” (HR. Muslim).

Ramadhan telah berlalu. Kini kita melaksanakan hari Raya Idul Fitri.  Idul Fitri adalah hari raya yang datang berulangkali setiap tanggal 1 Syawal, yang menandai puasa telah selesai dan kembali diperbolehkan makan minum di siang hari. Artinya kata fitri di sini diartikan “berbuka” atau “berhenti puasa” yang identik dengan makan minum. Maka tidak salah apabila Idul Fitri disambut dengan makan-makan dan minum-minum yang tak jarang terkesan diada-adakan oleh sebagian keluarga.  Tapi itu sebetulnya tidak tepat.  Idul Fitri seharusnya dimaknai sebagai ‘Kepulangan seseorang kepada fitrah asalnya yang suci‘ sebagaimana ia baru saja dilahirkan dari rahim ibu. Secara metafor, kelahiran kembali ini berarti seorang muslim selama sebulan melewati Ramadhan dengan puasa, qiyam, dan segala ragam ibadahnya harus mampu kembali berislam, tanpa benci, iri, dengki, serta bersih dari segala dosa dan kemaksiatan. Jadi Idul Fitri berarti kembali kepada naluri kemanusiaan yang murni, kembali kepada keberagamaan yang lurus, dan kembali dari segala kepentingan duniawi yang tidak Islami.

Ketika merayakan Idul Fitri setidaknya ada tiga sikap yang harus kitapunyai, yaitu1) Rasa penuh harap kepada AllahSWT (Raja’). Harap akan diampuni dosa-dosa yang berlalu. Janji Allah SWT akan ampunan itu sebagai buah dari “kerja keras” sebulan lamanya menahan hawa nafsu dengan berpuasa. 2). Melakukan evaluasi diri pada ibadah puasa yang telah dikerjakan. Apakah puasa yang kita lakukan telah sarat dengan makna, atau hanya puasa menahan lapar dan dahaga saja Di siang bulan Ramadhan kita berpuasa, tetapi hati kita, lidah kita tidak bisa ditahan dari perbuatan atau perkataan yang menyakitkan orang lain. Kita harus terhindar dari sabda Nabi SAW yang mengatakan banyak orang yang hanya sekedar berpuasa saja: “Banyak sekali orang yang berpuasa, yang hanya puasanya sekedar menahan lapar dan dahaga“. 3). Mempertahankan nilai kesucian yang baru saja diraih. Tidak kehilangan semangat dalam ibadah karena lewatnya bulan Ramadhan, karena predikat taqwa seharusnya berkelanjutan hingga akhir hayat. Firman Allah SWT: “Hai orang yang beriman, bertagwalah kepada Allah sebenar-benar taqwa kepada-Nya dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan ber-agama Islam ” (QS. Ali Imran: 102). Ya puasa dibulan ramadhan adalah sikap dan perbuatan akan ke Taqwaan kepada Allah dan hanya Allah yang akan membalasnya.

No comments:

Menerima kenyataan.

  Saya naik Ojol. Supirnya sarjana. Alih profesi karena situasi dan kondisi. Kena PHK akibat COVID. Setahun setelah itu rumah tangga bubar. ...