Saturday, July 18, 2009

NKRI

Setiap elite berkata lantang kalau ditanya soal NKRI. Jawaban mereka jelas dan tegas : “NKRI harga mati” atau “ tak bisa ditawar “. Demikianlah adanya. Dulu ketika Indonesia diproklamirkan maka konsep negara kesatuan bukanlah konsep yang mudah untuk dicetuskan. Rapat marathon dalam PPKI berlangsung alot. Satu sama lain bersiteganng soal ini. Pertanyaan mendasar yang sulit dipecahkan adalah “ apa yang mengharuskan kita bersatu”. Sumatera tidak punya kepentingan apapun bila harus bergabung dengan jawa. Begitupula dengan Jawa, Kalimantan dan lainnnya bersikap sama.

Tapi sejarah mencatat , bahwa para tokoh pendiri negara kala itu, berhenti berbeda pendapat ketika ruh agama diungkapkan kedepan. Yang mempersatukan kita adalah “agama kita “. Agama kita mengenal satu Tuhan. Mengapa kita harus berbeda bila tujuan hidup kita adalah sama. Mengapa ? Demikian Muhammad Yamin berkata dan kemudian dijabarkan oleh Soekarno. Ini semua diaminin oleh Agus Halim , Hatta dan lainnya. Perbedaan suku dan budaya tak lagi dibahas bila sudah menyangkut soal agama. Itulah sebabnya Ketuhanan Yang Maha Esa ditempatkan dalam sila pertama Pancasila. Mungkin kitalah satu satunya negara didunia yang menjadikan Tuhan sebagai dasar bernegara dan menempatkan urutan pertama dari Palsafah negara.

Mengapa ketika Agama dikedepankan lantas semua setuju disebut sebagai negara kesatuan ? Jawabannya sederhana. Bahwa setiap agama mengajarkan satu hal , yaitu Kemanusiaan yang adil dan beradab. Tidak ada agama yang mengajarkan keadilan yang subjective. Tidak ada!. Adil dan beradab sangat tinggi sekali nilainya. Didalamnya terkandung cinta dan kasih sayang. Berbuat karena cinta untuk memanusiakan manusia. Manusia memang butuh kerja dan itu adalah keadilan. Tapi membayar upah dengan murah adalah tidak beradab. Sekolah hak keadilan bagi semua orang tapi menyuruh orang membayar uang masuk perguruan tinggi mahal maka itu tidak beradab namanya. Perbedaan kelas dan terjadi jurang yang lebar antara si kaya dan simiskin merupakan bentuk dari tidak adanya kemanusiaan yang adil dan beradab dinegeri ini.

Bila Kemanusiaan yang adil dan beradab dapat ditegakan dinegeri ini maka pasti Persatuan dan kesatuan akan terbentuk dengan sendirinya. Cinta tanah air dan bela negara akan menjadi ruh kehidupan berbangsa dan bernegara. Jangan kita sesali bila Papua bergolak.Itu karena rasa kemanusiaan yang adil dan beradab tidak dirasakan oleh rakyat papua. Mereka menyaksikan setiap hari Freeport menguras hasil bumi mereka tapi kehidupan mereka masih miskin dan terbelakang. Ini satu contoh. Tanyalah rakyat di Pulau Sipadan tentang keberadaan Republik ini? Kenyataanya sehari hari kebutuhan pokok mereka didatangkan dari Malaysia, dan mereka lebih mengenal ringgit daripada Rupiah.

Ketika Persatuan Indonesia dilandasi oleh rasa kemanusiaan yang adil dan beradab oleh seluruh rakyat maka kepemimpinan dipercayakan kepada elite . Mereka adalah segelintir orang yang lahir dari proses kepemimpinan yang berakar dari bawah. Mereka menjadi inpirasi bagi public sebagai taladan dan akhirnya melahirkan aspirasi kolektif. Karena para elite ini bersikap dan berbuat berdasarkan hikmat dan kebijaksanaan. Merupakan perpaduan kehalusan nurani dan kekuatan pikiran untuk cinta, keikhlasan. Tidak ada menang kalah dalam mengambil keputusan. Semua dimusyawarahkan untuk menghasilkan mufakat. Semua berpihak kepada kebenaran bukan golongan atau kepentingan. Tapi lihatlah kini,..elite politik layaknya berdagang dengan amanahnya. Pemerintahpun sudah bergaya seperti broker nasional resource kepada asing. . Penegak hukum sudah berlaku diatas keadilan subjective. Karena kekuasaan didapat dari membayar dan kepemimpinan sudah jauh dari hikmat kebijaksanaan.

Bila elite kekuasaan terdiri dari orang orang yang amanah berdasarkan hikmat dan kebijaksanaan maka tentu keadilan social bagi seluruh rakyat akan terjelma. Bila Pancasila hanya jadi jargon politik saja dan mengawal NKRI dengan bedil….Tidak akan ada kesatun dan persatuan dibawan system yang jauh dari agama. Kalaupun ada maka itu adalah keterpaksaan saja….Semoga kita menyadari Pancasila sebagai sikap hidup berbangsa dan bernegara. Karena bila tidak maka terlalu mahal taruhannya bila sampai terjadi perang kelas. Tak akan ada yang bisa meleraikan karena agama sebagai pemersatu dan pendamai sudah terkaburkan Jangan jadikan Pancasila hanya sebatas jargon. Jangan..

No comments:

Ujian keimanan

  Banyak orang hebat, tetapi tidak hebat. Sama seperti Mie istant. Mie Ayam tapi bukan ayam. Rasa doang yang ayam. Itupun artificial atau bu...