Friday, July 03, 2009

Capres

Debat Capres berakhir sudah. Para pihak yang membayangkan debat seperti ala AS mungkin akan sedikit kecewa karena tidak melihat debat sebagai sebuah atraksi memukau penonton. Tidak nampak kepiawaian argument untuk saling menyudutkan secara tangkas. Namun bagaimanapun begitulah bentuk debat yang diatur dalam system demorkasi di negeri kita. Lantas apa yang bisa kita cermati dari ketiga tokoh calon president itu. Soal kehebatan menguasai panggung , itu adalah JK. Tapi soal penguasaan materi dan data serta penyampaian yang terstruktur maka itu adalah SBY. Dan Megawati yang nampak penuh percaya diri namun tak mampu menguasai panggung debat. Tak jauh beda dengan rakyat kebanyakan yang tak pandai bicara tapi punya hati untuk berkata dalam diam dengan mimic memelas dan lelah hingga tak popular dimata middle class yang ikut pooling SMS.

Semua itu kini telah lewat. Kita diminta datang ke bilik pemilu pada tanggal 8 juli memilih salah satu dari mereka sebagai pemimpin. Siapakah yang pantas untuk menjadi pemimpin kita ? Semua nampak qualified baik secara yuridis formal karena didukung oleh partai yang menguasai suara diatas 20% rakyat pemilih, begitupula secara defacto mereka bukanlah pemain baru dibidang politik. Mereka punya pengalaman dan pengaruh yang cukup besar sebagai elite dinegeri ini. Jadi siapaun yang terpilih , kita yakin bahwa mereka memang pantas menjadi pemimpin dinegeri ini.

Hanya saja yang patut diketahui bahwa system president kita tidak sama seperti ketika UUD 45 pertama kali di tetapkan. Sejak diamandement sebagai bagian dari semangat Democratic reform,Constitutional reform and yudicial reform maka terjadi distribusi kekuasaan secara sistematis. .Berdasarkan amandement ini President tidak berhak lagi untuk memilih gubernur , Bupati, Walikota karena sudah ada PILKADA. Tidak berhak menentukan siapa yang mau jadi Gubernur BI karena lembaga Independent dibawah DPR. Tak berhak menentukan besaran APBN tanpa approval DPR. Tak berhak menentukan Kapolri, Panglima ABRI, Dubes, Direksi BUMN Semua itu harus melewati proses dan persetujuan DPR..

Kita melihat debat capres sebagai sebuah tontonan seakan masa depan bangsa kita ini sangat ditentukan oleh President. Padahal kedudukan presiden itu hanyalah bagian dari system keuasaan dinegara kita. Ada ribuan orang di DPR /DPRD dan ratusan Kepala Daerah , yang juga mendapat mandate langsung dari rakyat. Juga ada Lembaga lainnya yang hanya tunduk dan berkuasa atas mandate dari DPR. Lantas , apa yang bisa kita harapkan dari seorang President dengan system seperti ini. ? System sekarang ini adalah sharing power yang paling efektif. Kekuasaan terdistribusi secara sistematis. Hingga tidak jelas lagi siapa yang paling berkuasa dan dimintai pertanggungan jawab bila negara gagal melindungi hak rakyat. Mungkin benar kata Woodrow Wilson dalam Encyclopedia of Social Science bahwa Demokrasi adalah bentuk pemerintahan yang paling sulit.

Andaikan tidak ada Prabowo mungkin Pilres sekarang ini kurang menarik. Karena semua menyampaikan retorika dalam bahasa yang sama. Kecuali Prabowo. Walau kedudukannya hanya cawapres namun konsep yang diajukannya akan berhadapan dengan system kekuasaan yang ada dinegeri ini. Memang tak mudah meng implementasikan program kerakyatan itu bila sebagian besar elite politik negeri ini sudah terbiasa dengan cara mudah alias manja untuk hanya menikmati APBN lewat hutang dan investasi asing/privatisasi layanan public , terutama koalisi pemenang Pileg.

Jangan lupa bahwa para elite yang berkuasa itupun mempunyai cara cara efektif membuat program MegaPro tak efektif dalam pelaksanaanya. Apalagi team pelobi dari investor asing yang menguasai MIGAS dan sumber daya alam lain akan berjuang all out untuk mendekati elite yang ada diparlemen maupun LSM. Dan ini akhirnya menjadi hal yang melelahkan dan akhirnya bisa berakibat seperti di Bolivia yang terpaksa Presidentnya mengadakan referendum untuk merubah UU atau seperti Putin di Rusia yang mendatangkan panser dan pasukan para ke Parlemen untuk merubah UU agar pro rakyat miskin. Tapi di Indonesia, Sorang Gus Dur , tokoh Pro Demokrasi yang mencoba melawan DPR, harus tersungkur ditangah jalan. Bagaimana dengan Prabowo kelak apabila dia menang ? Memang tanggal 8 juli nanti kita dihadapkan oleh pilihan sulit…tapi perubahan yang ditawarkan MegaPro itu adalah .. Its the hope of hopes, it’s the war of wars. Its the heart of every man…

Menerima kenyataan.

  Saya naik Ojol. Supirnya sarjana. Alih profesi karena situasi dan kondisi. Kena PHK akibat COVID. Setahun setelah itu rumah tangga bubar. ...