Saturday, December 01, 2007

Roy Marten

Berita tentang kembali tersangkutnya Roy Marten dalam kasus narkoba sangat mengejutkan saya . Karena bukankah sebelumnya Roy telah membayar mahal kesalahannya dengan mendekap didalam penjara atas kasus serupa. Orang bijak berkata bahwa hanya orang bodoh yang dapat tersangkut pada kesalahan yang sama. Begitu bodoh kah Roy ? Saya yakin Roy bukanlah orang bodoh. Tahun sembilan puluhan saya sempat mengenal Roy secara dekat. Dulu kami pernah bersama sama merencanakan acara Turnamen Golf untuk Ulang Tahun Ibu Tin Soeharto. Tapi acara tersebut tidak pernah terlaksana karena Ibu Tin meniggal sebelum acara itu dimulai. Saya sangat terpukul dengan peristiwa itu namun Roy hanya tersenyum , padahal dia penanggung jawab acara itu. Selanjutnya saya jarang bertemu dengan Roy , kecuali petermuan secara coincident di café hotel bila saya sedang bersama clients.

Walau tidak begitu lama dekat dengan Roy (mungkin sekarang Roy sudah pula melupakan saya ) namun kesan saya selama bersama dengannya adalah bahwa dia adalah sosok pria yang sangat ramah. Dia juga orang yang enak diajak berdiskusi dan mudah membuat siapa saja merasa nyaman. Makanya tidak aneh bila pergaulan dia sangat luas , tidak hanya terbatas kalangan artis tapi juga sampai pada kalangan pejabat tinggi Negara, militer, polisi maupun kalangan pengusaha. Tidak ada satupun orang yang membenci Roy. Dia hampir tidak ada cacat dalam pergaulan.

Sebagai pria, Roy terlalu beruntung. Dia memiliki popularitas yang tak pernah redup. Padahal banyak artis sezaman dengan dia sudah redup popularitasnya. Dia memiliki harta yang lebih dari cukup yang didapatnya tidak hanya sebagai artis juga sebagai pengusaha. Dia memiliki istri yang cantik , setia , agamais dan anak anak yang baik. Sehingga semua yang menjadi idaman bagi setiap pria, telah Roy dapatkan. Tentu ini tidak didapatnya dengan mudah. Perjalan hidup yang panjang telah dilaluinya untuk mendapat kan apa yang dia inginkan. Namun satu hal yang tidak pernah Roy dapatkan dalam hidup yaitu dirinya sendiri. Roy gagal memiliki dirinya sendiri.

Dia gagal meraih hal yang esensial dalam hidup ini, yaitu memiliki dirinya sendiri dan menaklukan dirinya sendiri agar tidak menimbulkan penderitaan bagi jiwa dan phisiknya serta orang orang yang mencintainya. Sebetulnya ini adalah bagian dari resiko hidup yang dilaluinya sebagai orang yang sukses dan popular. Ketika dia mendapatkan semua impiannya maka pada waktu bersamaan timbul dorongan untuk mendapatkan lebih. Ketika timbul keinginan lebih itulah dia mulai mencari mencari yang dapat membuat dia lebih dan lebih. Lingkungan yang glamour dengan banyaknya pilihan untuk memanjakan diri itulah yang akhirnya menyeret Roy dalam dunia Narkoba.

Narkoba telah membuat Roy yang begitu sempurna menjadi pesakitan. Namun Allah sangat mencintai Roy melalui pristiwa penangkapan dirinya oleh aparat keolisian di Surabaya. Karena mungkin Proses yang panjang dari sikap hidupnya yang “lalai “ tersebut belum cukup membuat penjara sebelumnya untuk Roy memiliki dirinya sendiri. Semoga lewat pristiwa yang kedua kalinya ini, Roy dapat kembali hidup baru menjadi Roy yang sesungguhnya , yang mampu memiliki dirinya sendiri sebagaimana dia mampu menguasai panggung public.

Narkoba hadir dari budaya hidup yang salah. Budaya hidup yang lari dari tuntunan spiritual. Budaya yang menginginkan kebebasan tanpa peduli orang lain. Budaya hidup yang serba ingin mendapatkan cara cara dengan jalan pintas.Dimana setiap pengguna punya latar belakang yang berbeda dengan alasan yang berbeda pula namun tujuan mereka sama yaitu mencari kepuasan dan kenyaman dengan cara yang mudah. Ketika mereka memilih Narkoba maka ada empat hal yang terampas dari dalam dirinya yaitu pertama adalah hilangnya rasa hormat dan kesetiaan kepada keluarga, kedua, hilangnya makna kasih sayang , ketiga , hilangnya rasa malu. Keempat, hilangnya akal sehat.

Apa yang terjadi pada Roy dapat saja terjadi pada diri kita. Bahkan banyak diantara kita yang sebetulnya hidup tanpa pernah memiliki dirinya sendiri dan kehilangan makna sebagai manusia seutuhnya,. Seperti perbuatan Korupsi , minum alcohol tidak jauh berberda dengan narkoba,sama sama memabukan. Sekali kita terlibat maka kita akan terus dan terus. Hidup kita terjebak dalam cara cara yang salah dan berakhir pada kesiasiaan , yang semakin kita kejar , semakin kita kehilangan diri kita sesungguhnya. Sampai pada batas kita tidak lagi mampu menggunakan akal dan nurani kita hingga menjadi sumber masalah bagi lingkungan kita. Korupsi, minuman keras, narkoba adalah ancaman serius untuk menciptakan masyarakat yang beradab. Say no to drugs, Say no to corruptions, Say no to drunks. NOW!

No comments:

Ujian keimanan

  Banyak orang hebat, tetapi tidak hebat. Sama seperti Mie istant. Mie Ayam tapi bukan ayam. Rasa doang yang ayam. Itupun artificial atau bu...