Thursday, August 04, 2005

Islam: sosialis atau kapitalis ?

Ada sebagian orang mengatakan bahwa kapitalisme itu indentik dengan Islam. Sepertinya mereka mengatakan itu setelah membaca buku Islam and Capitalism, karya Rodinson yang menyimpulkan islam lebih dekat dengan Kapitalisme daripada Sosialisme. Saya tidak tahu apakah buku ini ingin menyanggah asumsi yang umum dianut, bahwa ajaran sosial-ekonomi Islam adalah Sosialisme, dengan mengatakan bahwa ajaran itu lebih dekat dengan Kapitalisme? Ataukah buku ini ingin membantah tesis Max Weber, salah seorang pendiri ilmu sosiologi asal Jerman, bahwa etika ekonomi Islam tidak kompatibel dengan Kapitalisme Rasional? Mungkin karena Rodinson membaca sejarah tentang Nabi yang berasal dari pedagang dan mekkah memang dulu menjadi pusat perdagangan , juga madinah. Bila ada Anggapan bahwa Kapitalisme adalah suatu sistem yang datang dari luar dan mempengaruhi ekonomi cara Islam. Tentu saja tidak benar. Karena islam mengikuti cara Allah.

Saat sekarang , sebagian besar negara didunia ini menerapkan sistem kapitalisme. Ini tak lain karena proses sejarah terjadi dengan sendirinya dan kalau masyarakat islam mengikuti kapitalisme maka itu bukan karena pilihan tapi karena proses sejarah atau istilah Marx Weber , Hukum perubahan ( law motion) . Walaupun sistem kapitalisme selalu dirundung krisis, resesi atau bahkan depresi ekonomi, Kapitalisme malah mencapai puncak kejayaannya yang diikuti di seluruh dunia sebagai ”akhir dari sejarah” (the end of history) yang bersama-sama dengan Demokrasi Liberal di bidang politik merupakan puncak dalam pemikiran manusia. Namun seorang Marxis liberal, Ralph Milliband, berpendapat lain. Baginya yang menjadi kunci penentu adalah apakah sistem ekonomi itu bisa menjadi fondasi demokrasi atau tidak. Di situ ia berpendapat bahwa kapitalisme merupakan fondasi yang sangat rentan bagi demokrasi, karena konflik dan kontradiksi yang inheren dalam masyarakat kapitalis.

Landasan yang paling kokoh terhadap demokrasi, menurut Ralph adalah Keadilan Sosial. Jadi sesuai dengan hukum sejarah, maka Kapitalisme hanyalah sebuah epoh sejarah (historical epoch) dan bukannya akhir sejarah. Sebagian pemikir Eropa Barat, misalnya Anthony Giddens, berpendapat bahwa alternatif sistem ekonomi terhadap Kapitalisme adalah Sosial Demokrasi (Social Democracy). Melihat Kapitalisme dan Ekonomi Islam sebagai epoh sejarah akan membantu kita memahami hubungan antara agama dan Kapitalisme. Kajian yang lebih umum mengenai hubungan antara agama dengan kebangkitan Kapitalisme dilakukan oleh sejarawan R.H. Tawney dalam bukunya ”Religion and the Rise of Capitalism” (1922). Dalam perspektif sejarah,

Menurut Dudley Dillard, perkembangan Kapitalisme sejak awal kelahirannya pada abad ke-16 hingga sekarang telah mengalami tiga tahap. Pertama adalah sejak 1500 hingga 1750 yang disebutnya Kapitalisme Awal. Sesudah itu perkembangan ekonomi memasuki tahap kedua, dari 1910 hingga 1914, menjelang Perang Dunia I yang disebut sebagai Kapitalisme Klasik. Dan tahap ketiga, sejak 1914 hingga sekarang disebutnya Kapitalisme Akhir (Late Capitalism). Kapitalisme Awal dimulai dengan lahirnya institusi pasar (market) pada abad ke-16 dan dilanjutkan dengan perkembangan perdagangan jarak jauh antar pusat-pusat kapitalisme di dunia. Pada tahap inilah Islam menjadi berseberangan dengan kapitalisme. Karena soal prinsip.

Jadi kalau ada yang berani mengatakan bahwa kapitalisme tidak bertentangan dengan AL Quran dan Hadith, hanya melihat masalah kepemilikan hak pribadi dan hak mengontrol harta.Menurut saya, mereka yang mengatakan ini adalah karena mereka tidak memahami Islam secara utuh dan juga tidak paham apa itu sebetulnya kapitalisme. Islam memang tidak melarang orang untuk mendapatkan harta dan mengendalikan atas harta itu. Tapi ada dalam kapitalisme yang berbeda dengan islam yaitu soal Bunga. Masalah Ini sangat prinsip bagi Islam. Riba itu haram sifatnya. Barang siapa melakukan Riba maka dia berperang dengan Allah maka tunggulah kehancuran akan datang. Soal bagimana kapitalisme men stimulus ekonomi lewat pasar bersaing tidak bertentangan dengan islam asalkan kompetisi tidak sampai menzolimi orang lain. Artinya kompetisi untuk kemasalahatan umat.

Dunia kapitalis memungkinkan orang bebas berbuat dengan kekuatan modalnya. Boleh membuat pesaing hancur atau konsumen terkontrol kebutuhannya, atau pekerja terjajah. Karena kapitalisme memang mengajarkan buy low sell high and pay later. Sangat culas. Dalam dunia keuangan yang serba riba itu , kapitalisme juga merancang wahana judi ( spekulasi ) soal masa depan. Ini dapat dilihat dari bursa saham / komoditi dengan transaksi future. Judi atau spekulasi jelas diharamkan dalam islam. Karena pada prinsipnya masa depan itu milik Allah, Manusia tidak boleh berspekulasi untuk menarik keuntungan. Apalagi setiap ada yang untung , tentu ada yang rugi. Belum lagi soal derivative transaksi yang menstimulus pasar menjadi bubble, sehinga tak jelas lagi apa yang diperdagangkan. Bicara perdagangan komoditi tapi volume phisik dan yang diperdagangkan tidak sama. Karena sisanya adalah spekulasi dalam dunia maya.

Islam tidak peduli dengan sebutan sosialisme atau kapitalisme selagi tidak bertentangan dengan Al-Quran dan Hadith. Yang pasti sosialis dan kapitalis dalam praktek yang positip untuk kebaikan,kebenaran dan keadilan adalah islami. Namun bila berbeda soal prinsip maka itu bukan Islam dan harus diperangi.

No comments:

Propaganda lewat Film.

  Selama lebih dari 10 tahun di China, Saya suka nonton drama TV. Padahal di Indonesia hal yang jarang sekali saya tonton adalah Drama TV. M...