Wednesday, August 31, 2005

Islam ,Ekonomi ?

Semua mahasiswa tingkat pertama jurusan Ekonomi pasti memahami ilmu dasar ekonomi yaitu I = C+ S. Ini rumus dimana Pendapatan ( I) harus sama dengan konsumsi ( C) ditambah tabungan ( S). Bagaimana mendapatkan pendapatan, juga diajarkan dengan prinsip : memperoleh penerimaan sebesar besarnya dengna pengorbanan sekecil mungkin. Dengan prinsip ini penerimaan dikurangi pengorbanan/biaya akan menimbulkan pendapatan. Pendapatan ini pada gilirannya akan digunakan untuk konsumsi (pemuasan kebutuhan ) dan sisanya ditabung dibank agar menghasilkan Fixed income. Inilah konsep sederhananya. Walau dalam perkembangan berikutnya ilmu ekonomi mengajarkan tentang bagaimana mengakali tabungan agar meningkat, mengendalikan konsumsi, meningkatkan pendapatan ,itu semua disebut variable yang diharus terjadinya keseimbangan. Namun tak pernah dalam kenyataan terjadi keseimbangan.

Pemerintah mengejar pendapatan dengan menekan pengeluaran ( subsidi) agar tabungan meningkat hingga fundamental ekonomi kuat untuk melakukan expansi. Namun semakin besar ekspansi semakin besar rasio pertumbuhan yang harus dicapai dan tentu semakin ketat pengelolaan keuangan negara untuk terus menekan pengeluaran. Jadi , sangat sulit negara mengeluarkan kebijakan free of charge ( subsidi ) kepada rakyat miskin. Kalaupun ada , itu hanya bersifat situasional yang lebih banyak propaganda sesaat. Pada prinsipnya setiap pengeluaran negara harus berimplikasi pada penerimaan yang pasti. Begitupula dengan Perusahaan swasta. Perusahaan harus mengejar penerimaan sebanyak mungkin dengan menekan biaya serendah mungkin agar dapat memupuk laba dan memperkuat struktur permodalan. Bila modal kuat maka perusahaan semakin cepat berkembang , semakin mudah mengakses sumber pendaaan.

Karyawan juga sama. Semua karyawan berlomba lomba untuk naik gaji dan bonus. Mereka bekerja keras dan belajar keras untuk itu. Bila gaji naik, mereka semakin memperkuat dirinya lewat pendidikan, kursus, seminar dan lain, yang semuanya menuntut biaya yang tidak sedikit agar mendapatkan gaji yang lebih besar lagi dimasa mendatang. Negara , perusahaan, karyawan , semua sama. Terjebak untuk terus memikirkan diri sendiri agar dapat memuaskan kebutuhan dan menciptakan rasa aman lewan tabungan. Tak pernah terpikirkan bagi mereka bagaimana menciptakan rasa aman dengan konsep membantu mereka yang lemah, fakir miskin. Tidak ada rumusnya dalam ilmu ekonomi soal ini. Kalaupun ada konsep tentang tanggung jawab sosial itupun tak lebih hanya sekedar promosi membangun citra dihadapan publik. Memberi sedikit tapi promosinya lebih besar.

Dalam Islam , diyakini bahwa segala pendapatan adalah rahmat Allah dan harus digunakan untuk kepentingan beribadah kepada Allah. Menabung dimungkinkan tapi tidak untuk menghasilkan laba dalam bentuk riba ( bunga Bank). Tapi digunakan untuk usaha bagi hasil kepada mereka yang punya pontesi untuk bersyariat. Dengan itu, tabungan berarti penyebaran kesempatan bagi orang lain yang belum punya kesempatan modal. Tentu beresiko. Itu kata orang sekular, Bagi islam tidak ada resiko bila itu cara menjalankan perintah Allah. Rasa aman itu dari Allah bukan dari fixed income sistem ribawi. Bila setiap orang ,perusahaan, mempunyai konsep seperti itu maka masyarakat akan terikat dalam jaringan persaudaraan didasarkan kepada semangat gotong royong. Dalam situasi ini, negara juga melakukan hal yang sama. Dana berlebih dari penerimaan ( pajak, bagi hasil SDA, hibah, ) setelah dikurangi anggaran pembangunan, tidak ditumpuk dalam bentuk cadangan di Bank central untuk mendapatkan bunga tapi di tebar dalam bentuk penyediaan infrastruktur sosial dan ekonomi agar masyarakat memiliki kemampuan mobilitas dalam bersyariat.

Ekonomi bagi islam bukanlah hal yang terpisah dengan tatacara kehidupan lain. Atau bukanlah segala galanya untuk menjamin kemakmuran. Ekonomi adalah bagian kecil dalam Islam. Kemajuan ekonomi dalam masyarakat Islam tidak ditentukan oleh pengaturan barang, jasa, modal saja. Tapi lebih kepada pemahaman akhlak untuk beribadah kepada Allah, yang teaktualkan dalam bentuk pribadi yang ihsan ; kerja keras, amanah, kreatif, hemat, sabar , tawadhu, ikhlas. Dari akhlak yang ihsan inilah membuat sistem ekonomi Islam menciptakan kebersamaan , cinta kasih untuk menjadi rahmat bagi alam semesta. Jadi tanpa perbaikan akhlak maka metode bersyariat tak memberikan pengaruh apapun. Akhlak adalah fondasi negara, fondasi bangsa, fondasi agama, fondasi umat. Baik akhlak maka baiklah semuanya.

No comments:

Dosa kolektif.

  Kalaulah kerajaan di Nusantara ini tidak membuka pintu kepada Inggris, perancis, pertugal, belanda  untuk datang berniaga, mungkin tidak a...