Pendidikan..?

 



Waktu SMP saya belajar ilmu geographi. Saya menghapal nama pulau dan benua. Tetapi selalu gagal. Ibu saya tersenyum melihat saya menghapal. Dia dekati saya. “ nak, bumi ini luas. Terbentang lima benua. Kamu tidak sendirian. Ada banyak manusia yang tinggal di tempat lain. Tuhan ciptakan berbeda kulit dan bahasa. Namun hakikatnya semua adalah manusia yang punya akal dan perasaan. Kemana saja kamu pergi semua akan sama. Tidak ada beda dengan kamu. Yang terbaik hanya mereka yang paling baik akhlaknya. “


“ Akhlak itu apa Mak?


“ Jangan mudah marah dan menyesal. Teruslah  berusaha memaafkan. Kalau salah jangan ragu minta maaf. Jangan bertengkar. Jaga aib orang lain. Pandai pandailah bergaul. Teman sorak banyak, tetapi teman yang membawamu ke mata air tidak banyak. Elok elok bergaul. Jaga perasahaan orang lain. Kalau tak patut bicara, tidak perlu bicara. Diam itu indah kalau tujuan kamu menjaga orang tidak tersinggung” kata amak.


Tamat SMP, saya berniat masuk SMU populer di kota saya. “ Itu sekolah orang kaya. Mengapa tidak masuk SMA biasa saja” kata Papa saya. Tetapi ibu saya berkata “ ya, dimanapun kamu belajar, tak penting. Mau sekolah popular atau tidak, itu tidak penting. Sekolah hanya tempat kamu belajar sesuatu. Tetapi itu harus menjadikan kamu terdidik. Amak tidak ingin kamu jadi orang terpelajar tetapi tidak terdidik. “


“ Emang apa bedanya terpelajar dan terdidik” Tanya saya.


“ Belajar itu metode untuk kamu mendapatkan ilmu pengetahuan. Tetapi pendidikan adalah mengkayakan hati dan mengasah akal. “ Kata ibu saya.


“Engga ngerti mak”


“ Ilmu pengetahuan bisa usang karena waktu. Tetapi pendidikan tidak lekang oleh waktu. Karena pendidikan selalu hadir dalam setiap perisitiwa hidup kamu. Kamu harus punya kemampuan akal mencerna peristiwa itu untuk mengkayakan hati kamu tanpa berburuk sangka dan lemah karenanya. Pendidikan akan membuat kamu dewasa dan kuat menerima kenyataan” kata ibu saya.


***

Setelah perang dunia kedua. Negara pemenang perang focus kepada sistem education ( pendidikan) dan negara berkembang sibuk dengan sistem learning ( pembelajaran). Tahun 90an, negara maju seperti Eropa dan AS mengubah sistem education menjadi sistem Learning (pelajaran). Sementara China mengubah sistem pengajaran menjadi sistem pendidikan. Lantas apa sih bedanya sistem pendidikan dan pengajaran?


Pendidikan selalu berdasarkan kearifan lokal. Tidak ada standarnya. Itu erat kaitanya dengan budaya. Sementara belajar ilmu pengetahuan harus mengikuti standar. Ini otomatis mematikan proses pendidikan yang bertumpu kepada akal  dan hati. Kalau akal dan hati mengabur. Maka kreatifitas dan innonvasi, tentu akan mengabur juga. dan tentu empati akan kurang peka. Nah bayangkan apa yang terjadi pada generasi yang tumbuh dengan sistem learning itu? ya generasi pragmatis, individualis, dan  doyan kepada hal ilusi. Tidak bisa belajar dari realita sehingga membuat etos kerja mereka lemah. Mudah digilas kompetisi.


Di China saya tanya kepada teman yang guru sekolah. “ mengapa ujian anak sekolah selalu essay. Dan anak SD lebih banyak belajar karakter dan budaya?


“ Sistem pendidikan kami tidak berdasarkan rating dan nilai. Semua anak didik punya standar dan value sendiri, Tidak bisa dibandingkan satu dengan yang lainnya. ilmu pengetahuna itu bisa out of date. Belum tentu bisa di apply dalam kehidupan nyata. Tetapi pendidikan, yang membangun rasa percaya diri dan kemandirian, itu bisa membuat anak belajar sepanjang masa dari manapun sumbernya. Pendidikan itu membuat anak punya kemampuan belajar secara mandiri. Dan terus update pengetahuannya. “


Ketika saya gagal di terima di universitas. IBu saya menyemangati saya. “ Amak didik kau tidak hidup bergantung kepada gelar. Karena ketika Tuhan hidupkan kau, Tuhan ada bersama kamu. Kemana saja kamu hadapkan wajahmu, ayat ayat Tuhan terbentang. Pelajarilah itu sepanjang usia. Kamu akan baik baik saja” Kata ibu saya, Dan sampailah saya ke China dan bahkan ke lima benu


Comments

Popular posts from this blog

Keterpurukan ekonomi AS

Politisasi agama

Pria itu