Wednesday, September 01, 2021

Semua biasa saja..






Saya melakukan business trip ke Kazakhstan pada musim dingin. Tujuan saya adalah Astana ibukota Kazakhstan ( sekarang ibukota berganti nama Nursultan). Di Bandara Almaty International Airport saya dijemput oleh Samal.  Wanita canik berambut panjang. Mata bulat. Dia kontak saya di Astana dalam bisnis oil dan gas. Kali pertama mengenalnya di Hong Kong. Usianya belum 40 tapi penampilannya mature.  Postur tubuhnya lebih tinggi dari saya. Setelah sibuk seharian meeting , malamnya saya undang  Samal untuk makan malam di Ritz Carlton Astana. Karena keesokan paginya saya harus kembali ke Beijing


Ada yang menarik dalam pembicaraan dengan dia waktu dinner. Uni Soviet memang memberikan jaminan sosial yang luas namun kodrat kita sebagai manusia tidak dihormati. Orang memang tidak ada terlalu miskin tapi kaya jelas tidak mungkin kecuali kamerad partai. Setelah Uni Soviet runtuh dan kami bisa memerdekakan diri, kami harus mau berubah. Memang tidak mudah. Yang sulit berubah itu adalah para elite politik yang masih terbiasa dengan gaya komunis. Sementara  bagi rakyat, kebebasan itu lebih dari segala galanya.


Di era demokrasi tidak seharusnya ada keluhan. Nasip setiap orang ditentukan oleh dirinya sendiri. Negara memberikan peluang bagi siapa saja yang cerdas. Kalau yang boleh kaya hanya orang pintar , tentu dosen lebih dulu kaya. Tetapi kan tidak. Kalau kaya itu identik dengan kerja keras, tentu buruh dan petani lebih banyak yang kaya. Nyatanya tidak.  Kalau kaya itu karena paham luas ilmu agama, tentu ulama lebih dulu kaya. Nyatanya tidak. Jadi kaya dan sukses itu bukan karena pintar, kerja keras, atau paham agama, tetapi kerja cerdas. 


Menjadi cerdas, adalah menjadi diri sendiri dan tidak bergantung kepada orang lain. Kita bekerja sebagai profesional bukan karena kita tergantung kepada pemberi kerja tetapi karena mereka butuh skill kita. Kalau kita jadi  ASN bukan karena kita numpang makan kepada uang pajak rakyat, tetapi karena dedikasi kita diperlukan negara. Kita jadi pengusaha dan berusaha membujuk konsumen, bukan karena kita tergantung kepada mereka, tetapi karena kita tahu mereka butuh kita untuk dapatkan barang bagus. Kita hormati pemodal karena kita tahu bisnis yang kita tawarkan menguntungkan. Artinya keraslah kepada diri sendiri dan tempa diri kita agar diperlukan orang lain. 


Kalau kita tidak merasa diperlukan dan tetap berharap, maka itu kembali ke era komunis yang semua tergantung kepada negara. Dalam era demokrasi wahana kompetisi tidak bisa dihindari. Semua orang dan semua profesi termasuk politisi harus melewati kompetisi. Dalam prosesnya semua orang harus survival. Apakah karena itu ada yang merasa dirugikan dan kecewa, itu biasa saja. Kecewa dan kawatir adalah sikap pecundang. Selalu ada alasan untuk menyalahkan dan dikeluhkan. Apakah itu akan mengubah keadaan? tentu tidak. Sementara kehidupan terus berjalan. Kalau kita larut dalam keluhan maka kita akan jadi korban kompetisi. tidak ada yang akan peduli. 


Tentu kita tidak berhak mengahakimi siapapun selagi hukum dan konsesus tidak dilanggar.  Pada akhirnya semua orang menjalani takdirnya masing masing. Baik dan buruk , susah dan senang, sakit dan sehat selalu bersanding. Semua orang akan merasakan kedua hal itu, tanpa peduli siapa dia. Biasa saja.Kata Samal dengan tersenyum


“ Terimakasih udah undang saya makan malam yang mewah ini. Entah kapan lagi saya bisa nikmati. Saya akan kerja keras dan tentu cerdas seperti anda. “ Katanya melangkah keluar dari Selfie Restaurant. Malam semakin larut. Diluar tentu cuaca dingin menggit.

No comments:

Dosa kolektif.

  Kalaulah kerajaan di Nusantara ini tidak membuka pintu kepada Inggris, perancis, pertugal, belanda  untuk datang berniaga, mungkin tidak a...