Friday, September 10, 2021

Mindset positif.

 





Waktu masih kecil setiap usai berkelahi dengan orang, papa saya marah dan kawatir. Karena saya babak belur. Kadang terluka. Padahal dia tahu saya bukan anak yang nakal dan mengundang berkelahi. Yang dia tahu saya tidak ada rasa takut dan tidak tega terhadap orang lain.  


“ Kalau kamu diganggu orang, cepatlah menghindar. Bila perlu berlari dari mereka” Kata Papa saya.  

“ Kalau saya lari nanti dia tersinggung. “ Kata saya.

“ Ya udah. Kalau dia pukul kamu, larilah segera.”

“ Bagaimana mau lari. Dia pegangi dan terus pukul”

“ Balas!. Lawan! Kamu itu laki laki. Jadilah petarung. “

“ Nanti dia sakit kalau aku balas. “

“ Jadi kamu sendiri engga sakit dipukul ?

“ Ya karena aku sakit, aku engga mau dia juga sakit.”


Anda  bisa bayangkan bagaimana suasana batin papa saya mendengar itu. Marah dan kawatir sekaligus menyatu. Akhirnya, masuk SMP, papa saya masukan saya latihan karate. Saya senang latihan karate. Kebetulan simpainya sangat bijak. “ Saya tidak malatih kalian memukul untuk  menghabisi lawan. Tetapi menghentikan niat buruknya terhadap kalian. “ Katanya. Saya terinspirasi latihan bela diri bukan karena ingin jagoan, tetapi ingin agar orang tidak mudah berniat buruk terhadap saya. Benarlah sejak itu jarang sekali orang mengganggu saya. Dan kalau diganggu saya cepat melumpuhkannya tanpa membuat dia dan saya babak belur.


Setelah dewasa, saya merantau ke Jakarta. Papa saya masih mengkawatirkan akan sikap saya yang menurutnya “lemah”. Saya tanya kepada ibu saya “ Apakah aku salah kalau tidak bisa berbohong, mengalah, memaafkan, mudah percaya kepada orang lain?


“ Tidak salah. Jaga terus itu. Apapun yang terjadi, pertahankan itu. Sabar ajalah” Kata ibu saya menasehati saya. “ Tapi itu sifat lemah. Bagaimana laki laki bisa bertahan hidup  kalau dia lemah. “Kata papa saya.


Saya menikah dengan ponakan papa saya. Hubungan keluarga papa saya dengan mertua perempuan adalah sepupu garis ibu. Itupun dengan alasan agar istri saya bisa menjaga saya dari sifat “ lemah ” itu. Awalnya saya sulit untuk bisa nyaman. Karena apapun sikap saya selalu disalahkan istri.  Saya pulang malam habis ajak client ke karaoke. istri tanya. “ darimana ? 

“ Dari karaoke temanin clients minum.”

“ Ada perempuannya “

“ Ada.”

“ Kamu sentuh dia ?

“ Engga. Dia sentuh saya.”Kata saya. Istri marah besar. Papa saya nasehat ini, kamu harus bisa berbohong dihadapan istri. Menjaga perasaannya itu juga kebaikan. Mertua saya juga nasehati yang sama. Tetapi saya bingung. Masalahnya apa?  saya hanya temanin clients minum dan itu cara saya mem bujuk clients. Sejak itu kalau saya pulang malam, istri engga pernah tanya lagi darimana saya. Karena setiap dia tanya, saya jawab apa adanya. Dia marah. Dan saya tidak pernah membalas marah itu. Saya terima saja. Karena tidak tega marah kepada istri.


Dalam bisnis tiga kali saya bangkrut karena disingkirkan mitra saya dengan cara paksa. “ Bagi saya orang selalu ada alasan mengapa sampai singkirkan saya.  Belum tentu dia salah. Bisa saja memang saya yang salah. “ Kata saya. Karena itu istri saya marah  besar. “ Aneh selalu merasa salah dan merasa patut minta maaf. Papa tidak pernah ragu memberi kalau teman minta tolong. Tidak pernah kapok dibohongi orang. Mudah memaafkan semua itu, seperti tidak pernah terjadi apapun. Dan tidak melawan ketika orang menzolimi, bahkan dihujat didepan papa, papa diam saja. Itu bego namanya.” Kata istri.


Tahun 2004 saya hijrah ke China untuk bisnis. Itupun karena 15 tahun bisnis saya tidak pernah berhasil dalam arti sebenarnya. Selalu jatuh bangun. Di China, sifat yang dianggap lemah itu justru memudahkan saya cari uang. Mudah dapat kepercayaan. Mudah dapatkan mitra yang saling menjaga. Awal merintis, saya ajak pabrikan di china pameran dagang di Eropa dan mereka mau saja produksinya dilabelin merek perusahaan saya. Dan setiap ada order, saya bisa lakukan dengan mudah cross settlement lewat LC transferable. Tidak pernah mereka  potong langsung saya atau deal langsung dengan pelanggan saya.  Saya jujur dan mereka lebih jujur.  Dan terus berkembang di tenga  lingkungan seperti itu.


Menjadi baik itu tidak mudah. Karena tanpa dukungan lingkungan yang baik,  sulit anda jadi orang baik. Kita makhluk sosial, yang tidak bisa menghindar dari lingkungan pergaulan kita. Kalau lingkungan kita doyan bisnis rente, korup,  culas, mau enak sendiri,   sombong , doyan berghibah, tidak menghormati komitmen berkeluarga, ya lambat laun kita juga akan terpengaruh. Ya,  Jangan salah gaul dan bersabarlah dengan mindset positip. Karena itulah kekuatan sejati anda.

No comments:

Dosa kolektif.

  Kalaulah kerajaan di Nusantara ini tidak membuka pintu kepada Inggris, perancis, pertugal, belanda  untuk datang berniaga, mungkin tidak a...