Friday, September 03, 2021

Persepsi dan konsepsi agama

 





Saya menaruh hormat dengan teman. Apa pasal?.  Dia orang baik. Sebagai pengusaha, semua karyawan mencintai dia. Semua nama karyawan dia hapal.  Dia suami yang baik. Tidak selingkuh. Sebagai sahabat dia sangat peduli dengan teman. Suka menolong. Tidak pernah punya masalah dengan siapapun. Tidak pernah terdengar kata katanya yang menyinggung. Lebih banyak senyum kalau berbeda pendapat. Rajin bayar pajak dan jujur. Suka berderma. Walau dia pengusaha, namun sangat egaliter.   Krismon 1999,  dia bangkrut. Semua sahabat menjauh dari dia. Istri minta cerai. Anak pergi ikut mamanya. Dia tidak mengeluh. Setelah dia bangkit lagi, dia terima kembali istri dan anak anaknya. Tapi dia tidak punya agama. Saya katakan tidak ada agama, karena dia tidak pernah melaksanakan ritual agama.  Mungkin bisa juga dia tidak mengerti agama. Entahlah. Tapi apakah saya harus mengajarkannya tentang agama? Kalau tidak mau, apakah rasa hormat saya berkurang? tidak. Dia tetaplah inspirasi saya. 


Saya bersyukur karena terlahir dari ibu seorang ulama dan pengajar. Apakah perlu agama untuk memahami persepsi tentang Tuhan? Tanya saya kepada ibu saya. Dalam diri manusia sebenarnya sudah ada Blue print ilahiah (  Al-A'raf ayat 172). Konsepsi islam adalah rahmatan lilalamin. Jadi antara persepsi dan konsepsi sejalan. Kata ibu saya. Persepsi tentang Tuhan adalah cinta dan kasih sayang. Itu diaktualkan dengan sempurna oleh kedua orang tua kita. Dan kemudian kelak kita juga aktualkan kepada anak anak kita. Tanpa cinta tidak mungkin kehidupan dimaknai. Tidak mungkin peradaban tercipta.  Namun untuk mengingatkan manusia, perlu konsepsi atas persepsi tentang Tuhan itu. Maka lahirlah agama.  


Jadi kalau mau dianalogikan sederhana. Persepsi itu adalah air, sementara konsepsi adalah cangkir.  Apapun model cangkir, toh isinya tetaplah air. Kualitas air tidak ditentukan oleh model cangkir.  Apapun agama, persepsi tentang Tuhan sama. Bahkan orang yang tidak beragamapun persepsinya sama. Apa itu ? Cinta? Nabi Muhammad dilempar batu oleh kaumnya tetapi beliau memilih mendoakan mereka agar Tuhan bukakan hidayah. Isha ( yesus )  digiring dalam keadaan tersalip, dia memilih berdoa agar Tuhan mengampuni umatnya. Itulah bertemunya persepsi dengan konsepsi.


Mengapa akhirnya belakangan agama berbeda, sekte berbeda, namun berbeda pula sikap? Itu karena persepsi tentang Tuhan berbeda dengan agama sebagai konsepsi. Akibatnya agama sebagai konsepsi  bagi pendosa itu menakutkan. Lebih banyak berisi tentang Tuhan penghukum, pemberi kutukan, bengis. Definisi dosa disematkan dalam konsepsi.  Daftar dosa dicoding. Sementara, orang Sholeh masuk sorga. Amalan dan nikmat sorga dicoding. agama jadi bursa saham.


Apa yang terjadi ? Agama melahirkan komunitas feodalisme, patron dan kekuasaan. Karena itu agama juga adalah simbol masjid yang megah. Gereja yang mentereng.  Pagoda yang mewah. Candi yang gigantik. Sementara kebencian kepada yang berbeda dan amarah yang tak sudah kepada yang dianggap kafir dan sesat terus dikumandangkan atas nama agama. Itu bukan lagi agama sebagai konsepsi. Mengapa ? Andaikan seperti itu agama sebagai konsepsi, mengapa Nabi Muhammad  tidak berdoa kepada Tuhan agar umat yang melemparnya dengan batu dihukum Tuhan dengan bencana?. Mengapa nabi isha ( yesus )  tidak berdoa kepada Tuhan agar mereka yang menyalipnya dikenakan bencana ? Mengapa? Persepsi Nabi tentang Tuhan adalah cinta dan kasih sayang. Tidak mungkin dia  provokasi Tuhan agar menghukum manusia hanya karena tidak suka dengan dia.  

Ya saya bersyukur saya belajar memahami persepsi tentang Tuhan dari ibu saya yang bening seperti kristal. Sehingga tahu arti mencintai. Tentu tahu persepsi tentang Tuhan yang sebenarnya. Apapun provokasi dalam pergaulan di luar rumah, tidak pernah mengubah persepsi saya tentang Tuhan. Beragamapun jadi damai. Tanpa ada sikap paranoid terhadap mereka yang berbeda, bahkan  kepada mereka tak beragama sekalipun. Kalau bertemu orang baik, sudah cukup bagi saya. Tidak perlu saya tanya apa agamanya.  Saya utamakan air daripada cangkir.

No comments:

Dosa kolektif.

  Kalaulah kerajaan di Nusantara ini tidak membuka pintu kepada Inggris, perancis, pertugal, belanda  untuk datang berniaga, mungkin tidak a...