Monday, February 08, 2021

Menikah dan menentukan pilihan karena Tuhan

 




Saya punya sahabat namanya Steven. Dia kaya raya sebagai putra dari pengusaha Casino. Sampai dengan usia 40 dia belum juga menikah. Padahal dia ganteng. Tubuh atletis.  Pria sejati. Wanita cantik tak terbilang disekitar dia. Dari artis film sampai super model bermimpi ingin jadi istrinya. Tetapi itu tidak menjadikanya pria beristri. Wajahnya sangat femiliar bagi orang Hong Kong. Karena dia donatur tetap dalam acara balap formula 1. Namun orang Hong Kong tidak begitu lebay dengan orang tenar. Mereka engga tertarik untuk mengganggu privasi orang lain, seperti minta Sefly. Makanya dia bisa menikmati privasinya


Apakah dia sengaja membujang? Saya tidak yakin begitu besar kekuatannya dibandingkan Tuhan. Sehingga bisa menolak jodoh. Yang pasti Tuhan punya cara tersendiri untuk mengirim jodoh kepadanya.  Saya ingin cerita sedikit bagaimana akhirnya Steve, dapat jodoh.  Pada suatu saat di musim dingin tahun 2011. Saya dan Steve membuang waktu di sebuah cafe. Ini bukan caffe berkelas. Cafe biasa saja. Kami suka ditempat ini karena tidak jauh dari kantor kami.  


“ Walau saya pernah kalah bertaruh dengan kamu soal tidak semua wanita bisa dibeli. Namun saya tetap tidak yakin. Bahwa wanita suka harta dan kalau mereka akhirnya mau dengan saya karena uang saya. Makanya sampai saya anggap wanita itu komoditas. Terserah kamu anggap saya apa “ Katanya tersenyum. Saya tidak mau berdebat. Itu sudah sikap hidupnya. Saya tidak mungkin bisa mengubahnya. Yang jelas dia sahabat  saya dan dalam doa namanya saya sebut.


Tak berapa lama, ada wanita masuk ke cafe dan menghampir table kami. “ B, kenalkan ini pacar saya.” kata Steve. Saya terkejut. Apakah dia sedang becanda. Wanita itu saya yakin lebih tua dari Steven. Tidak  secantik wanita yang ada disekitarnya. Kulitnya tidak putih. Khas orang Bali. Saya mengangguk. Seraya menyalaminya. Saya diam saja. Ada apa ini.?


“ B. kamu sahabat saya. Selama ini kamu tak lelah mengingatkan saya untuk berubah. Dan inilah pilihan saya. Saya sudah melamarnya. Pestanya dua bulan lagi di LA. Orang tua saya ingin perstanya di Amerika. “ katanya. Saya tersenyum senang. Saya rangkul dia tanda saya bahagia dengan pilihannya.


“ Saya bertemu dia di Bali. Dia tidak kenal saya. Tidak tahu siapa saya. Dia bekerja sebagai room service di Hotel. Dia lihat saya diusir dari hotel karena deposit saya tidak mencukupi.  Dia menolong saya selama 10 hari di tempat tinggalnya yang sederhana. Keluarganya juga sangat ramah. Selama 10 hari dia sediakan tempat tinggal dan makan. Setelah itu saya pergi meninggalkan dia diam diam tanpa terimakasih. Tiga bulan kemudian saya datang lagi menemui nya. Dia tetap ramah kepada saya…Tapi…”


“ Tapi apa ?


“ Dia bilang, “ saya mengkawatirkan kamu. Saya kawatir ada apa apa dengan kamu. Tapi saya tidak tahu harus berbuat apa. Tidak tahu dimana alamat kamu. Setiap hari saya berdoa moga kamu baik baik saja.” 


“ Oh..”


“ Saya mengenalnya dan akhirnya memutuskan untuk menikahinya karena alasa sederhana. Tetapi yang sederhana itulah membuat saya berubah sikap secara ekstrim.


“ Apa alasan sederhana itu ?


“ Dia mengkawatirkan saya karena Tuhan dan dia tidak berharap apapun kecuali cinta Tuhan. Mencintai Tuhan, adalah juga mencintai manusia. Tanpa mengenal ras, kedudukan atau harta. “ Kata Steve.


“ Jadi kamu memang sengaja melakonkan diri sebagai orang miskin untuk mendapatkan kejujuran orang bersikap terhadap kamu? Kenapa ?


“ Kamu engga sadar ya. Selama ini setiap kata kata kamu, itu menjadi tantangan bagi saya untuk membuktikan.” 


“Emang apa sih nasehat saya itu.? Kata saya.


“ Kamu pernah bilang, kesombongan terbesar adalah menentukan jodoh seperti apa yang kita mau. Sikap sombong itu karena miskin spiritual. Pernikahan diatas kondisi yang kita suka tak ubahnya dengan pernikahan kapitalis. Tidak mungkin mendapatkan kebahagiaan.  Dan kamu benar. Saya akhirnya menikah bukan karena kondisi seperti yang saya mau. Tapi karena Tuhan melunakan hati saya untuk mencintai perempuan yang mencintai saya karena Tuhan.” 


Setelah menikah Steve berubah lebih bijak. Dia lebih focus mengembangkan bisnis diluar casino. Orang tuanya sangat memuja istrinya. Karena penuh perhatian dan cinta kepada mertua…


Kalau saya di undang makan malam di rumah Steven yang mewah, istrinya masak gado gado. Enak sekali. “ Steven, cerita kalau Pak B suka gado gado. Saya belajar masak gado gado “ kata istrinya tersenyum ke arah steven.


Kalau ingin dapatkan makanan enak, pergilah ke Italia. Kalau ingin dapatkan kedamaian, pergilah ke Tibet. Tapi kalau ingin dapatkan cinta, pergilah ke Bali. Steven dapatkan cinta, dia dapat makanan enak  dan kedamaian sekaligus..

No comments:

Ujian keimanan

  Banyak orang hebat, tetapi tidak hebat. Sama seperti Mie istant. Mie Ayam tapi bukan ayam. Rasa doang yang ayam. Itupun artificial atau bu...