Monday, February 08, 2021

Larangan pemaksaan Jilbab di sekolah Negeri.

 




Para wanita termasuk Salma. Mereka berkerudung lebar dan bercadar mengelilingi arena eksekusi mati bagi mereka yang dianggap berkhianat oleh ISIS. Dengan wajah dingin para algojo memenggal kepala mereka. Setelah itu para wanita yang menyaksikan eksekusi mati itu mengeluarkan suara takbir. Mata mereka tidak terpejam. Empati sudah mati oleh dasar keimanan. Bahwa membunuh orang tak yang tak berbaiat kepada khilafah adalah jihad.


Salma bersuamikan pria Arab. Dia sendiri berasal dari Turki. Perbedaan bangsa itu bertaut karena keimanan. Salma tidak habis pikir disaat dia hamil, suaminya membawa wanita yang baru saja dinikahi. Dia harus tidur diluar. Suaminya menikmati malam kematin di kamarnya. Dia menangis. Dia lepaskan kerudung dan cadar. Sebagai ujud perlawanan atas ketidak adilan dan penindasan. " Aku patuh kepada suamiku karena dogma agama. Aku terjajah  oleh iman yang falsu" Teriaknya.  Suaminya keluar dari kamar. Melihat Salma tanpa kerudung. Suaminya menampar. Menyeretnya ke dapur


Salma sudah siap bertarung untuk kehormatannya. Dia gunakan kesempatan kecil menjangkau pisau diatas meja. Dia hujamkan pisau itu ketubuh suaminya. Darah berhamburan. Salma menatap dingin. Dia tatap madunya yang berteriak histeris. “ Saya tidak membunuh untuk saya tetapi untuk kamu juga dan lainnya. Untuk apa simbol pakaian dan cadar untuk kehormatan suami. Sementara kita sendiri kehilangan kehormatan oleh suami kita sendiri.


Salma sempat melarikan diri. Dia sampai di Turki. Kembali kepada keluarganya dalam sesal. Salma belajar dari hidupnya. Bahwa manusia itu satu hakikat, makhluk free will. Ia tak boleh dikekang oleh ”komunitarianisme” atas nama politik identitas. Yang tak henti  meniupkan ancaman neraka bagi wanita yang tak berjilbab. Dan ketika tak ada lagi free will. Perbedaan bukan lagi yang universal. Maka dengan gampang saling menutup pintu. Masing masing saling curiga. Berusaha membersihkan dari segala campuran asing atau luar, semakin lama semakin keras, semakin lama semakin mengurung. Akhirnya: fundamentalisme.


Fundamentalisme memang aneh dan keras dan menakutkan: ia mendasarkan diri pada perbedaan, tetapi pada gilirannya membunuh perbedaan. SKB yang ditandatangani Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim, Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian, dan Menteri Agama Yaqut Cholil Qouma  berkaitan melarang sekolah negeri mewajibkan atau melarang muridnya mengenakan seragam beratribut agama. Itu tak lebih upaya membangun freewill atas dasar kesadaran medobrak perbedaan. 


“ Ananda sayang, Gunakanlah pakaian muslimah bukan karena sebuah kewajiban tapi karena kalian memang punya freewill. Free will adalah fitrah manusia. Pemaksaan alasan agama adalah menentang Al Quran itu sendiri. Paham kan sayang..

No comments:

Berbagi

  Sore jam 5 saya pulang ke rumah. Perut keroncongan.  “ Maaf. Kamu sudah makan ? Tanya saya ke supir taksi. “ Tadi siang sudah pak.” “ Bisa...