Wednesday, January 15, 2020

Takut kaya



Ada cerita seorang pengusaha hebat dalam bisnis portfolio di Eropa. Dia kaya raya. Namun suatu saat dia menghadapi krisis spiritual. Karena istrinya divonis sakit kanker. Apapun dia lakukan untuk kesembuhan istrinya. Namun semakin lama sakit istrinya semakin parah. “ Tuhan, andaikan semua harta saya bisa membayar kesehatan istri saya, saya ikhlas. “ katanya dalam doa. Akhirnya ajal menjemput istrinya. Dia murung berhari hari. Entah mengapa dia memutuskan untuk mundur dari bisnis. Dia  jual semua porfolio nya. Uang itu dia belikan lahan di afrika. Sebagian dia simpan untuk biaya program kemanusiaan.

Dia memutuskan untuk mewakafkan hidupnya di jalan Tuhan. Diatas lahan lebih dari 1000 hektar yang dia beli, dibangun pusat komunitas bagi orang miskin. Dia menyediakan makan dan pendidikan bagi bagi anak anak terlantar.  Diapun mendirikan rumah sakit diatas lahan itu. Semua untuk kemanusiaan tanpa berbayar. Dia memang tidak lagi jadi ayam merak dipanggung kapitalis. Tetapi menjadi ayam kampung. Ternyata itu membuat dia bahagia dan merasa secara batin dekat dengan istrinya yang sudah meninggal. Dia menikmati kelengkapan hidup dengan penuh suka cita lewat kepedulian. 

Tahun 2008 terjadi krisis Global. Saham portfolio yang dia jual dulu seharga USD 500 juta. Ternyata nilainya menjadi USD 50 juta. Dia terharu. Rasa syukurnya kepada Tuhan semakin bertambah. Bahwa pilihannya dulu menjual sahamnya adalah tepat. Tuhan ingin agar dia memanfaatkan harta itu untuk kaum duafa.  Dia sudah tunaikan kehendak Tuhan itu. Dia tidak lagi berharap kekayaan kalau karena itu menjauhkan dia kepada nilai nilai kemanusiaan. Tahun 2010, team explorasi menemukan cadangan emas di atas lahannya. Pengusaha tambang  membeli lahannya seharga 1000 kali dari harga yang dia beli dulu. Bukan itu saja, perusahaan tambang juga memberi dia saham 20%.

Dia menolak. Tetapi pemerintah memaksanya untuk menjual lahan itu.“ Tuhan, mengapa ketika aku ingin lari dari kekayaan, engkau terus dekatkan aku dengan kekayaan?. Aku takut dengan kekayaan yang ada karena akan membuat aku semakin menjauh dari orang miskin” katanya dalam doa. Akhirnya dia terpaksa menerima. Dia berjanji dari deviden saham 20% akan dia gunakan untuk membiayai program kemanusiaan.

Dari hasil penjualan lahan itu, dia bangun lebih luas proyek komunitas orang miskin. Bukan hanya pusat pendidikan dan kesehatan serta asrama untuk anak anak yatim dan miskin, tetapi juga dia bangun pusat industri kecil bagi orang miskin. Dia menyediakan market place dan jaringan pemasaran lewat IT. Semua orang yang tadinya tidak punya hope karena kurang modal dan tidak punya akses pemasaran, kini dia tunaikan lewat program humanitarian capitalism. Dari kegiatan yang baru ini, terjadi perkembangan yang cepat. Yang bergabung bukan hanya orang miskin tetapi juga pengusaha menengah dan besar ikut bersinergi. 

Tahun 2013, datanglah pengusaha filantropi dari Eropa yang ingin membeli programnya. TIdak tanggung tanggung. Program nya dibeli dengan harga 100 kali dari investasi yang telah dia keluarkan. Dia menolak. Tetapi pemerintah memaksanya untuk menjual.  “Tuhan, mengapa ketika aku ingin lari dari kekayaan, engkau terus dekatkan aku dengan kekayaan?. Aku takut dengan kekayaan yang ada karena itu akan membuat aku semakin menjauh dari orang miskin” Katanya dalam doa. 

Kemudian tahun 2013 dia menggunakan semua uangnya untuk membeli saham Alibaba. Alasannya keberadaan Alibaba sangat membantu petani China punya akses modal dan pasar. Itu telah membuat jutaan petani mendapatkan kemakmuran. Dia berpikir, dengan membeli saham Alibaba, itu artniya dia telah ikut dalam program kemanusiaan. Diapun kembali ke Eropa dengan apartement kecil ukuran 45 M2. Tahun 2018 saham yang dia beli telah naik berlipat di bursa. Kekayaannya semaki bertambah. Dia bingung  “ Tuhan, mengapa ketika aku ingin lari dari kekayaan, engkau terus dekatkan aku dengan kekayaan?. Aku takut dengan kekayaan yang ada karena akan membuat aku semakin menjauh dari orang miskin” katanya dalam doa.

Dalam mimpi, dia mendapatkan jawaban “ Semua yang ada itu berawal dariKu dan berakhir kepadaKu. Kalau itu kamu yakini dan laksanakan, maka kamu tidak akan jauh dariKu, dan memang tidak akan bisa jauh dari harta.”
“ Mengapa ?

“ Untuk melaksanakan keadilanKu, berbagi kepada mereka yang tidak mampu. Bukan memberi mereka uang tetapi kesempatan dan program perubahan menjadi lebih baik. Kamu selalu ingin membantu orang miskin, itu artinya kamu selalu ada bersamaKu. Karena Aku selalu ada bersama orang miskin. Aku tidak berada ditempat orang memujiKu. Karena Aku tidak butuh pujian. Aku senang dan bangga bersama orang orang yang mau berbagi untuk cinta.”

No comments:

Ujian keimanan

  Banyak orang hebat, tetapi tidak hebat. Sama seperti Mie istant. Mie Ayam tapi bukan ayam. Rasa doang yang ayam. Itupun artificial atau bu...