Sunday, January 19, 2020

Perjalanan Ke Laos

Pertama kali saya ke Laos 10  tahun lalu di dampingi oleh tiga orang team saya. Hanya satu orang wanita yang ikut kami. Ia mitra bisnis saya yang mengelola bisnis shadow banking. Dari Shenzhen terbang ke Kunming yang terkenal dengan sebutan kota musim semi abadi. Sampai di Bandara Internasional Changshui. Saya di jemput team. Kami menggunakan kendaraan Pajero menuju ke Jinghong . Perjalanan menuju Jinghong sama seperti perjalanan Jakarta Badung lewat puncak. Namun kualitas jalannya sekelas toll. Bahkan lebih baik dari toll di Indonesia. Tidak ada satupun yang berlubang. Dalam perjalanan saya sempat sholat Lohor dan Ashar jama di salah satu rumah penduduk. Pemilik rumah mengajak saya ke lantai atas di kamarnya. Saya sungkan masuk ke kamarnya. Namun pemilik rumah dengan ramah mengatakan bahwa sebaiknya kalau menyembah Tuhan di tempat yang bersih. Kamar tidur adalah tempat terbersih.

Sesampai di Jinghong atau dua jam sejak keberangkatan dari Kunming , team istirahat dulu makan siang. Namun saya tidak makan karena puasa. Perjalanan kemudian dilanjutkan. Perjalanan mengitari bukit dengan kanan kiri perkebunan teh Puer terbaik di dunia. Hampir semua rumah penduduk yang saya lihat nampak makmur. Setiap rumah pasti ada kendaraan Jip dan Truk angkut ukuran kecil. Semua kendaraan itu buatan China. Teman saya mengatakan kepada saya bahwa pemerintah China memberikan subsidi industri otomotif produk lokal dengan gila gilaan agar harga jual kendaraan bagi rakyat pedesaan bisa murah. 

Semua tanah Perkebunan teh di kelola oleh Rakyat melalui Koperasi. Sistem distribusi dan lelang harga ditentukan oleh rakyat sendiri. Pemerintah melakukan pembinaan tekhnologi dan marketing serta jamin likuiditas melalui sistem stokis..jadi tidak mungkin ada tengkulak atau rentenir di sini. Distribusi lahan sangat adil. Namun keluarga yang telah lebih dulu memulai perkebunan teh mendapatkan lahan lebih luas, dan warisan keluarga dihormati.

Selama dalam perjalanan tidak pernah satu kalipun saya temukan di kota kota kecil ada jaringan retail market yang dikuasai pengusaha besar. Seperti di kita Alfa Mart. Semua kegiatan bisnis retail dikelola oleh rakyat sendiri dengan beragam model namun tertata dengan baik. Menurut teman saya di PUER dari pabrik teh, Pergudangan, pembangkit listrik, PDAM, Pasar , bahkan Bandara di bangun oleh Koperasi. Itu semua usaha bersama rakyat dan pemerintah memberikan konsesi luas dengan prinsip program emansipasi rakyat yang dicanangkan Dengxioping bapak pembangunan China. Jadi pendapatan rakyat bukan hanya dari hasil pertanian tapi juga dari deviden atas sarana umum yang mereka bangun sendiri itu. Ya mereka bangun dan mereka pakai, mereka dapat hasil sesuai prestasi masing masing.

Perjalanan ke kota border china- laos, membutuhkan waktu kurang lebih 5 jam. Sampai di Magla jam 5.30 sore tapi belum nampak tanda tanda akan marghrib . Ini kota kecil di China yang seperti umumnya banyak kota kecil di China dimana, jam 8 malam sudah sepi orang di jalanan. Maklum negara kaum pekerja. Mereka harus tidur untuk melanjutkan bekerja keesokan harinya. Di Gate imigrasi, keliatan sekali perbedaan mencolok antara kantor imigrasi China dan Laos. Gedung Imigrasi China di border itu sangat megah. Sementara kantor Imigrasi Laos nampak  sangat sederhana. Seperti sekolah SD Inpres di era Soeharto.  Petugas Imigrasi China walau nampak kaku namun kerjanya cepat. Ketika masuk gate imigrasi Laos, saya bebas melenggang. Karena saya orang Indonesia yang tidak butuh Visa ke Laos yang anggota ASEAN.

Dari border kami lanjutkan perjalanan ke Laos menuju suatu desa yang akan kami gunakan perkebunan Pisang. Namun yang miris adalah ketika masuk wilayah Laos. Kehidupan komunis konservatif nampak jelas. Laos adalah lima negara di dunia yang menganut paham komunisme. Desa dan kota tidak teratur. Tidak ada pembangunan nyata. Kemiskinan massive. Tidak ada aturan lalulintas. Salah satu team yang mendampingi saya mengatakan " Komunisme di Laos mungkin agak lebih baik dari komunisme di Korut. Tapi bagaimanapun selagi mereka masih anggap komunisme sebagai idiologi totaliter sepeti negara agama maka selama itu tidak akan ada transfaransi dan selama itu kekuasaan hanya diisi oleh gerombolan bandit yang membungkus dirinya dengan dogma atau dokrin populis dan utopia. Tidak akan ada pembangunan peradaban. 

Dan China sudah melewati proses belajar dari semua itu. Kami memahami komunisme hanya sebatas metodelogi membangun bukan menarapkan ajaran komunis dengan prinsip materialismenya. Kami tidak mungkin jadi bangsa materialistis karena budaya kami sudah mengenal Tuhan sejak ribuan tahun lalu. Spiritual kami adalan gotong royong menyelesaikan masalah keseharian. Bila berlebih ya berbagi dan bila kurang, ya sama sama di selesaikan dalam suasana kekeluargaan. By design Partai menerapkan system itu dalam mengelola populasi diatas 1 miliar.” 

Usai meninjau lokasi tanah untuk kebun pisang, kami melanjutkan perjalanan ke Luang Prabang.  Perjalanan membutuhkan waktu kurang lebih 3,5 jam. Atau sama dengan Jakarta Cirebon.  Luang Prabang, ibukota budaya Laos. Ini adalah "kota" kecil, yang diklasifikasikan sebagai situs warisan dunia UNESCO, di bagian utara negara Laos. Luang Prabang, agama Buddha sangat penting. Kota ini punya  banyak candi suci. Beberapa di antaranya sangat penting bagi para penganut agama Buddha, dan setiap hari kita bisa melihat ribuan biksu berjalan di kota secara teratur.  Kota ini akan membuat Anda melupakan kehidupan serba modern dalam suasana agama buddha dan tradisi lokal. Menurut sejarah di abad ke-14, Luang Prabang adalah ibu kota kerajaan Lan Xang. Letaknya sangat strategis,  di antara sungai Mekong dan pegunungan di sekitarnya. Sampai dengan abad ke 18, di bawah kolonial Prancis. Sampai kini pengaruh Prancis masih terlihat. Banyak penduduk setempat yang bisa bahasa Prancis. 

Kami tinggal di hotel Avani.  Kamar menghadap kolam renang dan taman yang indah. Bangunan hotel ini punya nilai sejarah. Tadinya di era kolonial prancis, hotel ini tempat para perwira Prancis memanjakan diri. Kemudian Hotel ini direnovasi dengan gaya yang lebih kontemporer, namun tetap mempertahankan gaya kolonial dan sejarah bangunan. Rasanya seperti waktu telah berhenti di tempat yang menakjubkan ini. Lokasi hotel ini ideal, kita bisa pergi ke mana saja dengan berjalan kaki. Terletak di lingkungan bersejarah Luang Prabang dan di jantung kegiatan komersial dan tidak jauh dari pasar lokal.  Di hotel ini saya menjamu pejabat Laos yang membantu kami mendapatkan konsesi kebun pisang. Kami makan malam di restoran hotel yang  interiornya bergaya Prancis. Sangat dekoratif.

Usai meeting keesokannya kami kembali ke China dengan kendaraan. Namun perjalanan darat hanya sampai Puer. Dari Puer kami naik pesawat ke Kunming. Sampai di Kumning. Kami pergi ke tempat Spa. Teman saya bertanya kepada saya. " Apa yang kamu  rasakan selama kunjungan ke Laos, dan khususnya ke Luang Prabang? negeri itu walau rakyatnya jauh dari kehidupan modern, dan umumnya miskin namun mereka nampak bahagia. Kaya akan nilai nilai spiritual.  Sepertinya mereka tidak butuh apa apa lagi dalam hidup ini. Karena alam menyediakan segala galanya. Mereka menyatu dengan alam, menjaganya, dan hidup dalam bersehaja. Partai Komunis Laos juga tidak ambil pusing dengan kehidupan dan budaya mereka. Toh para biksu itu tidak ingin berkuasa dan mendirikan negara budha. Mereka hanya ingin hidup damai. Mereka tempat kembali bagi semua orang yang ingin damai. Kata saya. Teman saya tersenyum. Untung kamu hanya berkunjung singkat. Engga lama. Kalau lama , tentu akan lain ceritanya.

No comments:

Bukan mental Pemenang.

  Tadi diskusi dengan teman aktifis Islam lewat telp. “ Islam sebagai kekuatan dikalahkan oleh kekuatan Sekular. Itu karena bantuan Barat. K...