Tuesday, January 21, 2020

Jilbab dan budaya.



Sebelum munculnya Islam pada abad 630-an, peradaban sudah ada di Semenanjung Arab. Di antara peradaban yang paling menonjol adalah Tsamud, yang muncul sekitar 3000 SM dan berlangsung sekitar 300 M. Kemudian, Dilmun, yang muncul sekitar akhir milenium keempat dan bertahan sekitar 600 M. Selain itu, sejak awal milenium pertama SM, Arab Selatan adalah rumah bagi sejumlah kerajaan, seperti kerajaan Saba, dan wilayah pesisir Arab Timur dikendalikan oleh Parthia Iran dan Sassani dari 300 SM.

Pria dan wanita Yahudi
Ketika Muhammad diangkat sebagia Rasul,  di Arab sudah ada agama yang established. Penduduk lokal Makkah dan Madinah agama mereka adalah politeistis ( penyembah berhala). Sementara bagi pendatang umumnya lebih modern. Agama mereka Kristen ortodok, Kristen Nestoria, Yudaisme, dan Zoroastrianisme. Kekristenan ada di Semenanjung Arab, dan didirikan pertama kali oleh pedagang Arab, yang mendengar Injil dari rasul Petrus di Yerusalem (Kisah Para Rasul 2:11), serta mereka yang diinjili oleh pelayanan Paulus di Arab (Galatia 1:17) dan oleh St Thomas. Sementara Kekristenan ortodok tersebar di daerah-daerah Arab Selatan, terutama dengan Najran menjadi pusat penting Kristen, Kristen Nestorian adalah agama yang dominan di Arab Timur sebelum munculnya Islam.

Komunita wanita arab
Jadi dapat dibayangkan. Suasana Arab ketika nabi diangkat sebagai Rasul memang kosmopolitan yang terdiri dari beragam agama, suku dan budaya. Pakaian pun berbeda. Wanita kristian dan Yahudi yang lebih modern menggunakan Jilbab dan burka. Adat juga berbeda. Di zaman Nabi, ada beberapa adat dan kebiasaan atau kebudayaan cara meminang wanita. Ada yang mengharuskan wanita berhubungan sex dengan 10 pria. Apabila wanita itu hamil, maka dia boleh memilih salah satu pria tersebut sebagai suaminya. Ada juga dengan DP atau perzinahan terlebih dahulu sebelum menikah. Ada juga yang melalui lamaran adat, dengan memberikan mahar. Dari beberapa kebiasaan itu, Nabi menerima sistem lamaran dan mahar sebagai Hukum nikah. 

Arab Kristen
Ritual tawaf ( ritual mengelilingi Kakbah) sudah ada sebelum islam diperkenalkan. Khusus wanita tidak boleh menggunakan pakaian ketika tawaf. Mereka harus telanjang alias bugil. Maksudnya agar suci dan bersih. Namun islam menolak itu. islam mengubahnya. Wanita harus menggunakan pakaian ihram (tertutup) , bersih dan suci namun tidak menggunakan pakaian dalam. Ketika zaman Nabi sudah ada beberapa model pakaian wanita Arab. Seperti contoh gambar. Tetapi ketika firman Allah turun, Rasul memilih pakaian seperti wanita Yahudi dan kristian yang berjilbab.  Tapi era sekarang tidak semua orang Kristen dan Yahudi meniru pakaian tradisi awal itu. Zaman berubah dan persepsi pakaianpun berubah. Mereka paham akan perubahan ini. Mereka tidak mempermasalahkan orang pakai jilbab atau tidak. Ini soal pilihan. Hak azasi manusia yang harus dihormati.

Artinya Islam tidak mengubah budaya yang ada selagi tidak bertentangan dengan Al Quran. Tetapi kalau bertentangan, Islam merevisinya dengan bijak tanpa menghilangkan kearifan lokal. Jadi Islam itu bisa bermacam-macam akibat keragaman budaya setempat. Bahkan adat, kebiasaan dan budaya bisa menjadi salah satu sumber penetapan hukum Islam. Itu sebabnya waktu kali pertama para wali memperkenalkan Islam di Nusantara, pakaian wanita nusantara tidak diubah. Karena peradaban nusantara jauh lebih maju dari Arab. Peradaban kita tidak mengenal freesex seperti di Arab. Tidak mengenal wanita telanjang bugil keliling pasar. 

Kalau kita liat asbabun nuzul dan konteks turunnya ayat tentang jilbab, jelas tidak berlaku umum bagi wanita. Surat Al-Ahzab ayat 59, kata Jilbab memang ada disebutkan namun dalam bentuk plural ( tidak spesifik modelnya). Imam As-Suyuthi dalam kitabnya Lubabun Nuqul fi Asbabin Nuzul menyebutkan bahwa penyebab turunnya ayat di atas adalah suatu ketika, istri Nabi keluar karena suatu keperluan buang hajat. Dahulu menggunakan kain penutup kepala belum begitu populer. Kemudian ternyata ada sekelompok orang nakal yang mengganggu mereka. Mereka yang digoda itu mengadu ke Rasulullah. Turunlah surat Al-Ahzab ayat 59, maka mereka disarankan untuk menutupi kepala hingga dada agar mudah dikenal, serta terhindar dari gangguan laki-laki yang nakal. Selain itu, anjuran jilbab itu hanya kepada wanita yang merdeka, bukan kepada hamba sahaya. Aturan ini berdeda dengan rukun islam yang semua harus patuh, tanpa kecuali.

Itu sebabnya sampai kini  tidak ada satu pendapat bulat dikalangan ulama tentang keharusan menggunakan jilbab.  Pendapat mereka terbelah tiga soal pakaian wanita muslimah. Pertama, seluruh anggota badan adalah aurat yang mesti ditutupi. Kedua, kecuali wajah dan kedua telapak tangan. Ketiga, cukup dengan pakaian terhormat. Silahkan pilih dari ketiga model pakaian itu. Mana yang nyaman, pakailah. Yang penting jangan membully orang karena pilihannya. 

***

Pada suatu waku saya berjalan bersama teman di Mall. Dia berbisik “ Wanita itu cantik tetapi kenapa dia tidak pakai Jilbab? Dengan pekaian dia seperti itu, dia sudah mengundang syahwat laki laki untuk menggodanya. “ Katanya mengarah kepada wanita yang jalan didepan kami. Saya hanya tersenyum. 
“ Kalau pakaian wanita penyebab datangnya syahwat kamu maka yang salah kamu, bukan wanitanya. Karena dalam islam pria dianjurkan untuk menahan pandangannya dan kemaluannya. “ Kata saya.
“ Gimana mau nahan pandangan. Lah pakaiannya seperti itu.?
“ Yang dimaksud menahan pandangan itu bukan mata tapi pikiran kamu, persepsi kamu yang diluruskan. Sex itu bukan soal phisik yang nampak di mata tapi di hati. Sama juga , kita tidak bisa menyalahkan orang berdagang makanan dibulan puasa karena kawatir mengganggu orang berpuasa. Karena puasa itu ritual antara manusia dengan Allah. Engga ada hubungannya dengan orang lain.
“ Tetapi bukankah wanita wajib menggunakan pakaian muslim dengan berjilbab? 
“ Kalau wajib tidak tetapi kalau disarankan ya. Itu soal pilihan”
“ Loh?
“ Jilbab itu adalah kebudayaan yang diterima oleh Islam. Tetapi bukan rukun islam. Ketika zaman Nabi ada beberapa model pakaian wanita. Nabi memilih model pakaian seperti wanita Yahudi, berjilbab. “
“ Ah kamu jangan sembarangan ngomong.”
“ Itu kan pendekatan sejarah. Agar kita paham asal usul idea pakai Jilbab bagi wanita”
“ Itu disyariahkan dalam  islam?
“ Nah soal syariah ini, tidak semua ulama sependapat soal Jilbab. Nah kita sebagai orang awam,  bukan ulama, sebaiknya kita engga usah ngotot membela pandangan salah satu ulama.   Lon wong ulama aja engga saling ngotot. Pilihlah mana yang membuat kita nyaman. Yang penting jangan pakai bikini di tengah pasar. Apapun pilihan orang, hormati. Karena tidak ada yang paling benar, dan tentu tidak ada yang paling salah. Hanya Allah yang tahu. “

Kemarin ada nitizen yang bertanya kepada saya,
“ Babo, ada siswi di Jawa Tengah takut masuk sekolah karena tidak tahan di bully oleh teman temannya.”
“ Apa pasal? 
“ Karena dia tidak menggunakan jilbab. Fenomena apa ini Babo?
“ Itu terjadi karena pakaian Jilbab, sudah masuk ke ranah politik. Ini berkat politik identitas yang bergaung kencang sejak awal reformasi. Prosesnya lambat namun pasti. Semakin meluas dan merasuk hampir ke semua lapisan masyarakat. Bila awalnya sifatnya Jilbab hanya anjuran bersifat pilihan, bahkan istri para kiyai kita tempo dulu tidak menggunakan Jilbab seperti model sekarang. Namun belakangan sudah menjadi pemaksaan lewat narasi agama bahwa wanita tidak berjilbab itu sama saja sedang melakukan maksiat. Itu sama dengan menyebut orang berbeda dengan sebutan kafir. “
“ Itu jelas salah, Ya babo”
“ Tapi politisasi agama, dalam bentuk politik identitas memang mempraktekan teori Machiavellianisme. Mau gimana lagi. Kita aja yang harus cerdas. “

No comments:

Bukan mental Pemenang.

  Tadi diskusi dengan teman aktifis Islam lewat telp. “ Islam sebagai kekuatan dikalahkan oleh kekuatan Sekular. Itu karena bantuan Barat. K...