Friday, October 18, 2019

Strata sosial dan sikap mental


Suatu saat saya berkumpul dengan teman teman lama sewaktu kami muda dulu. Sekarang situasinya berbeda dengan puluhan tahun lalu. Diatara kami berada di strata berbeda. Jadi bisa bayangkan gimana suasana kalau kumpul. Lebih didominasi oleh mereka yang berada di strata umum. Karena mereka paling banyak diantara teman teman saya itu. Sementara kami yang berada di strata menengah dan atas, lebih banyak diam dan tersenyum. Karena apapun argumen kami pasti tidak akan bisa diterima mereka. Tapi bagaimanapun mereka semua adalah sahabat. Kami harus saling bijak menyikapi perbedaan berpikir.
Semua tentu tahu kan apa itu piramid. Itu bangunan yang lebar di bagian bawah dan mengerucut sampai keatas. Nah, strata sosial juga seperti itu bentuknya. Bagian bawah paling banyak komunitasnya, semakin keatas semakin sedikit komunitasnya. Saya akan bahas masing masing strata tersebut berdasarkan pengamatan praktis saya.
Strata terbawah yang paling banyak komunitasnya adalah komunitas yang mengandalkan ketekunan atau rajin untuk bisa survival. Cara berpikir mereka sederhana. Ada pasar, mereka jualan. Ada tanah, mereka bertani. Ada laut mereka menangkap ikan. Ada tambang, mereka gali. Ada lowongan kerja, mereka kerja. Mindset mereka hanya sederhana yaitu rajin dan hemat pangkal kaya. Kalau kaya, mereka akan beli rumah mewah, kendaraan mewah dan kalau bisa kawin lagi. Mereka tidak berpikir tentang masa depan yang rumit. Kalau pinjam ke bank itu hanya sekedar mengubah asset menjadi uang tanpa harus menjual. Tidak memahami financial engineering dan value engineering.
Strata menengah, yang komunitasnya engga begitu banyak. Di strata ini , ketekunan bukan hanya satu satunya untuk bisa survival, tetapi juga harus disertakan antusias atau passion. Mengapa ? karena dia survive mengandalkan skill dan pengetahuan yang applicable untuk lahirnya ide; bagaimana menciptakan barang, menyediakan jasa, menyediakan tekhnologi , menjalin stake holder dan membangun organisasi. Di strata ini asset tidak lagi dinilai dari harga tapi dari value. Itu sebabnya mereka selalu berpikir tentang masa depan dalam setiap tindakannya. Gaya hidup mereka berusaha mencapai aktualisasi diri. Pengakuan dari masyarakat.
Nah di Strata Atas atau puncak, adalah komunitas yang paling sedikit jumlahnya. Bagi mereka kerja keras dan passion bukan lagi standar untuk survival, tetapi standar nya adalah cinta. Dari situ mereka mengembangkan semangat kemanusiaan dalam memanfaatkan keberadaan strata di level bawah dan menengah. Pendekatanya adalah melalui penguasaan sumber daya keuangan ( financial resource ). Mereka tidak punya barang, tidak punya skill , tidak punya tekhnologi, tidak punya pendidikan tinggi, tidak punya posisi formal di manapun, tetapi semua itu bisa eksis karena tergantung kepada eksitensi mereka.
Mereka hanya 2 % dari populasi dunia, tapi 90% sumber daya keuangan dunia mereka kuasai. Gaya hidup mereka tidak membutuhkan aktualisasi diri. Tidak masuk daftar orang kaya. Karena bagi mereka If you can actually count your money, then you're not a rich man , kalau anda atau orang lain bisa hitung uang anda, maka anda bukan orang kaya. Sangat humble , tapi high profit dan secure. Lantas apa yang mereka cari dalam hidup ini? “ At the end of the day, it's not what I learned but what I taught, not what I got but what I gave, not what I did but what I helped another achieve that will make a difference in someone's life…and mine”

Ya perbedaan strata bukan karena kaya atau pintar tapi soal sikap mental. Perbedaan nasip lebih karena perbedaan sikap mental itu sendiri. So change your attitude..

No comments:

Propaganda lewat Film.

  Selama lebih dari 10 tahun di China, Saya suka nonton drama TV. Padahal di Indonesia hal yang jarang sekali saya tonton adalah Drama TV. M...