Wednesday, October 23, 2019

Drama


Semua suka nonton Film. Soal film apa, itu tergantung dari wawasannya. Kalau orang awam lebih suka film yang jalan ceritanya mudah ditebak dan pahlawan selalu menang. Bagi orang yang terdidik, suka film tentang futuristik yang berhubungan dengan sains. Mereka suka juga film misteri yang membutuhkan kecerdasan memahami alur cerita. Namun pada umumnya orang engga begitu tertarik membayar ticket bioskop untuk film yang bertema pendidikan. Tapi kalau temannya percintaan atau action atau agama namun didalamnya terselip pendidikan, itu bisa diterima. Mengapa ? persepsi orang yang nonton film itu sama yaitu butuh hiburan.
Ya, kalau ada hiburan yang menawarkan kebohongan dan kepura puraan yang terancang dengan baik, maka itu adalah film tontonan. Film itu dibuat dengan perencanaan yang sangat detail. Dari penulisan skenario, penentuan artis atau aktor berserta piguran, scene pengambilan gambar, penentuan lokasi shooting, penentuan pakaian, tekhnik editing dan design graphis, animasi, dan terakhir siapa yang akan menjadi stutradara, yang bertanggung jawab mengorganisir semua itu. Nah Sutradara itu hadir karena keinginan dari producer. Dia adalah pemodal yang menentukan film apa yang akan dibuat dan laku dijual.
Dalam dunia politik juga sama. Antar Partai itu secara tidak langsung telah menyepakati skenario politik yang akan digelar dalam pemilu. Antara mereka sudah berbagi peran. Ada yang jadi pemeran utama. Ada yang jadi peran piguran. Setelah itu ditentukan juga scene pengambilan gambar. Gambar apa ? oh gambar radikalisme vs Komunis. Gambar agamais vs pancasilais. Gambar plularis vs realistis, gambar negatif vs gambar positip. Masing masing scene itu menentukan skenario politk menarik publik untuk ambil bagian dalam piguran yang tidak perlu dilatih, udah lebih pintar dari artis politik. Mereka siap masuk bui, siap mati, mati benaran, siap segala galanya. Hebat kan. Padahal bayarannya secuil dibadingkan dengan artis politik.
Pada saat scene pengambilan gambar itu dilakukan dan berlangsung lewat shooting dengan kamuflase pencitraan dan pidato bombamdis, jalan cerita masih bersifat acak. Karena shooting berlangsung seperti puzzel. Nah agar menjadi jalan cerita yang menarik dan enak ditonton, proses editing dalam politik dilakukan pada hari orang masuk ke bilik suara dan berlanjut kepada proses hasil perhitungan suara. Pemenang dan kalah ditentukan. Tapi karena proses editing belum begitu sempurna maka dilanjutkan dengan editing digital melalui sidang MK. Maka jadilah sebuah film politik yang begitu sempurna. Menarik ditonton dan membuat orang selesai nonton ada yang menangis dan ada geram, tentu ada yang senang.
Semakin beragam perasaan orang setelah nonton film, semakin hebat penulis skenario dan sutradaranya dan tentu lebih hebat lagi adalah producernya. Sementara artis politik pemeran utama menjadi idola khalayak, dan sutradara politik dapat bayaran dan producer atau partai politik mendapatkan laba tak terbilang. Walau dalam skenario politik antar partai bermusuhan, bahkan elite nya saling hujat , namun dalam dunia nyata mereka bersahabat dan saling berbagi pendapat agar pendapatan sama. Tidak ada sesungguhnya permusuhan seperti dipersepsikan para penonton. Lantas bagaimana sikap kita terhadap politik? ya seperti kita nonton film aja.Bahwa apa yang kita alami dalam proses pemilu adalah sebuah kisah fiksi yang skenarionya sudah dirancang oleh elite politik. Makanya orang yang cerdas tidak melihat film sebagai sebuah tontonan tetapi hikmah dibalik cerita.
Bahwa dalam pesta demokrasi adalah semua perbedaan dan perseteruan terkesan brutal sekalipun, itu hanya seni panggung untuk menghasil sebuah tontonan agar menarik dan orang berbondong bondong masuk ke bilik suara. Tidak seharusnya kita pun larut dalam emosi skenario setelah layar film ditutup. Toh kita hanya penonton, bukan pemain. Lah pemain saja kembali akur di luar panggung. Kenapa kita sok sok an lebih artis daripada artis. Kan bego jadinya. Lantas apa hikmahnya ? bahwa kita harus belajar memahami perbedaan dan tahu arti mencintai. Dengan itu, kita semakin cerdas menonton panggung politik. Dan karenanya demokrasi menjadi bernilai.

Nah, kalau ada issue politik, jangan buru buru panas atau euforia, mari jawab, That's just drama.

No comments:

Rakus itu buruk.

  Di Hong Kong, saya bersama teman teman dari Jepang menikmati malam sabtu pada suatu private KTV. Para pramuria nya adalah profesional  ber...