Saturday, June 29, 2019

Tidak Menyerah

Seorang wanita melamar kerja sebagai Salesman untuk alat pembersih ruangan besar dengan mesin otomatis. Untuk mendapatkan pekerjaan itu tidak butuh keahlian khusus. Kerena nya tidak perlu test segala. Toh gaji tidak ada. Pendapatan berdasarkan komisi. Apabila dalam tiga bulan mencapai target maka akan dapat tunjangan transfort. Namun bila sebulan tidak ada sedikitnya dua barang terjual, dia harus keluar. Sebagai orang kampung yang merantau ke kota, ini kali pertama dia berkerja. Itu dianggapnya sebagai berkah.

Sudah seminggu dia berkerja. Belum dapatkan satupun barang terjual. Padahal dia sudah bekerja keras. Menyusuri semua jalan dan mendatangi target pasar. Memang nasip belum beruntung. Uang tabungannya dari kampung sudah hampir habis. Dia tidak tahubagaimana bayar sewa apartemen akhir bulan. Kalau tidak Ada Deal bulan ini, perusahaan akan mencoretnya sebagai karyawan.

Ketika dia mendatangi salah satu target market potensial, dia mendengar sang boss sedang marah marah kepada Stafnya karena belum bisa memindahkan barang limbah pabrik dari gudang. Limbah itu berupa potongan hasil guntingan pakaian. Salah satu staf itu meminta dia segera pergi. Karena pasti boss nya menolak untuk terima tamu. Tapi entah mengapa dia tidak surut sebelum di usir oleh boss itu. Setelah melihat keadaan reda dikamar kerja boss itu, dia masuk.

“ ada apa kamu? Bentak sang boss.
“ saya mau tawarkan alat pembersih ruangan . Mungkin akan membantu membersihkan pabrik anda” diapun menyerahkan brosur kepada sang boss. Namun Sang boss melempar brosur itu ke tong sampah. “ Gini aja, saya akan beli kalau kamu bisa pindahkan limbah digudang pabrik saya. Bisa ?

Wanita itu terdiam. Namun dia melihat ada peluang dan harapan. Karena ada boss besar putus asa dan meminta dia memberikan solusi. Ini Deal bagus. 
“ beri saya waktu. Saya akan lakukan”
“ Ya udah, cepatlah. Sekarang pergi kamu! “ kata sang bisa dengan suara keras.
Dia keluar ruangan dengan bingung. Apa yang harus dia lakukan? Ketika keluar dari kantor itu, Satpam menegurnya. “ gimana? Udah ketemu dengan boss saya”
“ Udah. Dia marah. Tapi saya ada peluang”
“ Peluang? Apa?
“ Dia akan beli alat pembersih ruangan yang saya tawarkan kalau saya bisa mengangkut limbah pabrik”
Satpam itu memintanya mendekat, dengan berbisik “ ada yang minat dengan limbah itu. Tapi terdiri dari beberapa orang pengrajin keset kaki. Kalau mereka beli sendiri sendiri engga mampu. Kalau kamu bisa koordinir mereka, tentu bisa habis itu limbah di gudang. Dan bukan engga mungkin setiap limbah terkumpul akan terus mereka terima.”
“ Mengapa tidak di usulkan kepada boss?
“ Siapa yang berani. Dia maunya cepat dan praktis aja”
“ Ok tunjukan alamatnya, saya akan datangi pengrajin itu”

Setelah itu wanita itu mendatangi alamat pengrajin keset. Dia mendatangi satu persatu pengrajin. Semua mau terima. Dan hebatnya para pengrajin itu berani membeli dengan harga 2 yuan per Kg. Diapun mendatangi pengusaha angkutan. Dia butuh jasa angkutan namun dibayar dari hasil penjualan barang yang diangkut. Namun kebanyakan menolak. Dia tidak menyerah. Setelah mendatangi beberapa perusahaan angkutan, ada yang minat mengambil peluang yang dia tawarkan.

Akhirnya dia berhasil mengosongkan gudang limbah itu. Boss pabrik senang. Dia tidak dapat fee dari boss pabrik. Tapi Boss pabrik setuju membeli alat pembersih ruangan untuk pabriknya. Dari penjualan limbah itu diapun tidak dapat untung. Niatnya bagaimana mendapatkan Deal menjual barang pembersih ruangan. Namun Deal itu dibawah target perusahaan tempat dia kerja . Dia tetap diberhentikan. Komisi engga Cukup bayar sewa apartement.

Akhir bulan pengrajin memintanya kembali mengirim limbah.Dia datangi boss pabrik itu kembali. Dia katakan dengan jujur bahwa dia tidak lagi bekerja. Dia hanya ingin membantu pengrajin. Boss itu dengan senang hati memberinya limbah. Dari kerjaan itu dia dapat fee dari pabrik ldan dapat keuntungan dari penjualan limbah kepada pengrajin. Karena pengrajin bersedia memberi kelebihan harga dari sebelumnya asalkan ada kepastian supply bahan baku.
Kini wanita itu, sudah jadi pengusaha sukses di Shenzhen. Punya pabrik material microchip dan logistik.


Moral cerita: sekecil apapun peluang, sesulit apapun peluang, jangan pernah menyerah. Apapun deal, jangan buru buru disikapi negatif dan jangan buru buru mengharapkan keuntungan dengan cepat. Focus lah merebut hati stakeholder dan menangkan itu, maka sukses akan datang dengan sendirinya

No comments:

Bukan mental Pemenang.

  Tadi diskusi dengan teman aktifis Islam lewat telp. “ Islam sebagai kekuatan dikalahkan oleh kekuatan Sekular. Itu karena bantuan Barat. K...