Monday, July 16, 2018

Pengeluh ...



Orang yang suka mengeluh seraya menyalahkan orang lain sebetulnya karana tidak ada kestabilan emosional dengan pikirannya. Dia merasa dengan mengeluh masalahnya sudah selesai dengan adanya empati dari orang lain. Padahal kalau orang nampak empati bukan karena orang percaya dengan keluhannya tetapi karena orang bisa menyembunyikan keraguannya. Mengapa ? Bertanya kepada orang mengeluh tidak akan dapat kebenaran yang rasional. Karena dia sedang dalam suasana hati secara emosional sangat renta. Akal dan hatinya tertutup kebenaran. Dia hanya butuh orang mendengar dan puas karena itu. Sampai kapanpun dia tidak akan berubah karena empati orang. Tidak pernah.

Di Hongkong kalau kumpul dengan teman teman di Cafe maka yang dibicarakan hanya sekitar fenomena tekhnologi dan alam. Kadang membicarakan bola. Ada juga membicarakan mengenai pengalaman bawa yach. Piknik kesustu tempat yang eksotik. Dan itu tentu berkaitan dengan pengalaman luar biasa. Saya perhatikan orang yang ada disebelah atau belakang meja saya, pembicaraan engga jauh dari sana. Di Singapore juga sama. Ketemu dengan eksekutif dan expat, pembicaraan engga jauh dari sekitar itu. Kalau mereka membicarakan politik hanya hal yang sifatnya fenomenal seperti soal ulah Trump. Tapi bukan masalah kebijakan politik tapi lebih kepada apa yang yang dikatakan Trump. Dan hebatnya mereka cerdas menghidupkan suasana jadi santai. Tidak ada yang serius yang mau diperdebatkan. Soal kebijakan presiden china, mereka ogah bahasnya. Bagi mereka politik china tidak ada yang enak dibicarakan. Karena semua pidato pejabat negara selalu baca text dengan nada datar seperti pembawa acara malam TV.

Saya mencoba memahami mengapa kepedulian politik dan sosial mereka rendah sekali? Ternyata penyebabnya sederhana. Apa itu ? Suasana hidup yang berkompetisi. Dan ritme kerja yang membutuhkan disiplin tinggi. Keadaan ini membuat mereka engga punya waktu membahas lain selain masalah mereka sendiri. Bahkan mengeluh pun mereka kehilangan alasan. Kalau ada orang bercerai, bangkrut, engga bisa bayar apartemen atau ada orang yang dapat promosi jabatan, tidak pernah disikapi berlebihan. Hanya sekedar ucapan selamat dan ikut prihatin. Setelah itu antar teman masalah itu tidak pernah dibahas. Mereka malas membahas masalah pribadi orang lain. Tapi di Indonesia , juga sama. Ada mitra saya yang juga direktur saya, jangankan bicara politik atau ekonomi , gambar presiden di salah satu ruang kantor masih gambar sby yang dipajang padahal presiden sudah berganti Jokowi. Saya tanya mengapa tidak diganti ? Jawabnya sederhana, biarin aja. Engga ngaruh lah. Kalau diajak diskusi soal politik atau issue yang lagi hangat, nampak dia tidak tertarik membahasnya. Kalau diteruskan bicara pasti ngantuk.

Walau dia sering piknik ke manca negara. Membaca banyak berita dari media digital berbayar, dan aktif dalam pergaulan sosial kalangan intelektual , namun tak merubah sikapnya untuk tidak peduli dengan lingkungannya. Apalagi membahas soal suka atau tidak suka terhadap tokoh politik atau partai politik. Kalaupun sampai dia ingin tahu , itu karena mengganggu kenyamanannya. Dan kalau bertanya , lebih focus ingin tahu jawaban rasional bukan suka tidak suka. Jarang sekali mereka terdengar mengeluh. Orang yang kurang peduli terhadap keadaan diluar dirinya penyebabnya karena : pertama, di otaknya sudah penuh dengan masalahnya sendiri sehingga dia tidak punya ruang untuk memikirkan yang lain. Ini umumnya para profesional yang secara materi sudah mapan dan secara batin aman. Kedua , dia sudah secure dengan hidupnya. Bukan karena materi berlebih tapi secara batin dia udah sangat kaya. Jadi engga ada yang dia kawatirkan. Ketiga, dia engga pede membahas sesuatu yang tidak betul betul dia pahami. Makanya dia memilih diam dan engga mau tahu lebih jauh. Ketika krisis global, kelompok middle class di Indonesia berubah menjadi mat nyinyir di sosmed khususnya terhadap Jokowi. Itu lebih karena perasan insecure dan takut perubahan terus terjadi. Tapi banyak juga yang tetap berpikir positip karena secara batin dia sudah kaya dan secara materi dia aman.

Hidup ini perlu keseimbangan emosional dan pikiran. Pikiran berkembang karena banyak belajar dari hal yang sudah terjadi lewat pengalaman orang lain atau bisa juga lewat buku atau bangku sekolah. Tetapi emosi berkembang kearah positip tidak bisa dipelajari lewat buku atau pengalaman orang lain tetapi lewat pengalaman hidup sendiri. Masalahnya tidak banyak orang memahami peristiwa yang dialaminya adalah kaya akan hikmah untuk latihannya mengembangkan kepribadiannya lewat pengendalian emosional. Umumnya persepsi orang sudah terbentuk lebih dulu atas peristiwa yang dialaminya.Bahwa dia benar dan dia tidak pantas mendapatkan ketidak adilan atas masalah yang menimpanya. Akibatnya dia tidak mendapatkan hikmah atas kenyataan yang menimpanya. Tentu dia tidak akan berubah lebih baik karana waktu. Dia justru dimakan oleh masalah.

Makanya banyak orang bertambah usia nampak tidak pernah dewasa. Tinggi ilmu tidak membuat dia bijak. Kebayang kan seorang profesor, jenderal, usia menua tetapi dengan tanpa malu mengungkapkan letupan emosinya dalam bentuk keluhan di media massa seperti anak alay. Yang tanpa data valid mencela kebijakan pemerintah. Juga tanpa ada solusinya. Jadi itu bukan lagi kritik mencerdaskan tetapi sudah keluhan anak alay. Yang anehnya dipercaya oleh orang yang punya mental sama dengan dia. Doyan ngeluh karena merasa hidup tidak adil terhadap dirinya. Kumpulan pengeluh adalah kumpulan orang yang tidak bisa berdamai dengan kenyataan. Sampai mati dia tidak akan pernah dewasa. Dan kalau rezekinya sempit bukan karena Tuhan tidak adil tetapi karana dirinya sendiri mempersempit hidupnya.

Hidup ini apapun yang terjadi itulah kebenaran. Yang belum terjadi hanyalah asumsi. Apapun yang terjadi bukanlah antara kita dengan orang lain atau dengan pemerintah atau dengan keluarga tetapi itu antara kita dengan Tuhan. Untuk apa? Agar kita mendapatkan hikmah dari kenyataan yang ada dan belajar dari itu untuk berkembang lebih baik karena waktu, untuk menuju sebaik baiknya kesudahan. Mengeluh bukan cara menemukan solusi. Pengeluh selalu jadi pecundang!

No comments:

Bencana itu karena Tuhan murka?

  Tahun 2008 atau tepatnya 14 Mei saya mendengar kabar dari berita TV terjadi gempa di Sichuan China. Saya teringat dengan sahabat saya yang...