Sunday, September 28, 2014

Sistem atau akhlak?

Ada SMS “When the world is ready to fall on your little shoulders, And when you're feeling lonely and small, You need somebody there ..” saya tersenyum. Wenni selalu begitu bila dia ingin bertemu dengan saya. Petikan lagu  you are only lonely adalah ciri khasnya untuk mengingatkan kepada saya bahwa dia tidak sendirian. Dia sahabat saya. Sehebat apapun rezim  itu, pada akhirnya mereka akan jatuh. Demikian katanya. Apa penyebabnya? Berdasarkan hasil survey yang dilakukan oleh Harvard's Center for Public Leadership bahwa krisis ekonomi di Amerika dan kemudian merambat ke Eropa serta dunia karena akibat dari krisis kepemimpinan. Seluruh lembaga trias politica yang tergabung dalam sistem demokrasi mengalami demoralisasi kepemimpinan. Albert Hirschman mengatakan dalam esainya, Against Parsimony: Three Easy Ways of Complicating Some Categories of Economic Discourse: ketika politik mengabaikan moralitas dan semangat bermasyarakat, public spirit, dan hanya mengandalkan gairah mengejar kepentingan diri atau golongan, sistem itu akan menggerogoti vitalitasnya sendiri. Sebab vitalitas itu berangkat dari sikap menghormati norma-norma moral tertentu, sikap yang katanya tak diakui dan dianggap penting oleh ideologi resmi kapitalisme. Kini memang terbukti: Pasar yang hanya mengakui bahwa rakus itu bagus seperti yang dikumandangkan oleh risalah macam The Virtue of Greed dan In Defense of Greed pada akhirnya terguncang oleh skandal Enron, Madoff, Lehman Brothers. Begitupula ketika Soeharto, SBY diujung kekuasaannya terungkap yang lama ditutupi dan akhirnya rupiah terpuruk dengan harga ikut pula melambung memenggal pendapatan para buruh, petani miskin.  

Kepercayaan runtuh, ketika para elite politik terbelah sikapnya paska Pilpres, yang membuat konstitusi semakin kacau. Menurut teman itu bahwa sekarang kita meributkan mengenai apakah UU Pilkada langsung lebih baik dibandingkan Pilkada Tidak Langsung (melalui DPRD). Setiap periode apabila ada masalah maka kita selalu menyalahkan UU. Padahal ini tidak ada hubungannya dengan UU. Ini berhubungan dengan akhlak. Apakah belum cukup bukti bahwa ini semua karena demoralisasi pemimpim, yang ditandai kesibukan duniawi sebatas ritual agama dan politik, yang apapun dimanfaatkan untuk memuaskan kerakusan. Apapun sistem baik asalkan semua pihak yang menjalankannya berakhlak baik. Inilah yang sering dilupakan oleh kita, dan anehnya para elite politik selalu menggunakan alasan sistem untuk mengaburkan kesalahan akibat demoralisasi politik. Imâm al-Ghazâlî dalam kitab Al-Arba´în fî Ushûl al-Dîn menjelaskan bahwa jiwa seseorang yang sudah terbiasa merasakan kenikmatan berbuat jahat maka dapat dipastikan akan sulit untuk bisa berbuat baik seperti kegemaran beribadah, cinta kepada Allah, cinta kepada makhluk. Apalagi karena harta dan kekuasaan membuat dia terus mendapatkan kemudahan melakukan perbuatan maksiat itu. Karenanya bila sudah diatas ambang batas, dan peringatan dari orang sholeh tak lagi didengar maka Allah yang berkuasa berbuat dengan sesukanya. Caranya ya dengan mencabut kenikmatan dunia. Bila harta yang memabukan maka harta itu akan dicabut Allah seperti Allah membenamkan Qarun kedalam perut bumi. Bila kekuasaan yang memabukan maka kekuasaan ini akan dijungkirkan seperti Firaun yang tenggelam didasar laut.

Apakah perlu datangnya kehancuran kekuasaan atau hilangnya harta baru berubah menjadi baik? Sebaiknya berubahlah bila saatnya harus berubah. Bukankah manusia dibekali kecerdasan lahiriah dan spiritual untuk menjadi lebih baik. Jangan biarkan diri seperti hewan. Mulailah meNolkan diri. Semua orang bisa menjadi baik asalkan ada kemauan. Rasul bersabda " Perbaikilah akhlakmu" Jika akhlak itu tidak dapat dirubah sudah tentu nabi Muhamamd Saw tidak memerintahkan sebagaimana hadis tersebut. Konsep perbaikan akhlak itu adalah dengan membersihkan dan mensucikan kalbu dari segala hal yang tidak disukai oleh Allah Swt.dan merias diri dengan segala hal yang dicintai oleh Allah. Dengan jalan mujâhadah dan riyâdhah melaui fase-fase sebagai berikut. Fase pertama: membersihkan atau menjernihkan hati dari akhlak tercela yang mencakup sepuluh sifat tercela yang satu dengan yang lainnya saling berkaitan, yang meliputi; nafsu makan yang rakus, berbicara kotor, amarah, kedengkian, bakhil dan cinta dunia, ambisi dan gila harta, cinta dunia, takabur, takjub diri dan riya’. Fase kedua: merias atau mengisi hati dengan akhlak mulia yang mencakup sepuluh sifat mulia yang satu dengan yang lain juga saling berkaitan, yang meliputi; taubat, khauf, zuhud, sabar, syukur, ikhlas dan jujur, tawakal, cinta, ridla terhadap qadha’ , mengingat mati atau hakikat mati serta siksa kubur.

Imâm al-Ghazâlî berpendapat walaupun akhlak tercela manusia itu banyak jenisnya sebagaimana yang telah beliau uraikan dengan panjang lebar dalam kitab Al-Ihyâ’ . Namun, menurutnya sumber dari akhlak-tercela tercela itu timbul dari sepuluh sifat tercela di atas dan satu dengan yang lainnya saling berkaitan. Sehingga tidak cukup menghilangkan satu, dua atau tiga sifat saja. Melainkan harus secara bersamaan. Dengan menghilangkannya berarti menghilangkan induk dari sifat-sifat tercela termasuk berbicara kotor yang mempunyai cabang sebanyak 20 sifat tercela. Demikian juga setelah seseorang itu bersih dari sifat-sifat tercela tadi. Maka, Dia harus segera memasukkan akhlak-akhlak yang mulia. Sebagai hiasan dan wujud bahwa akhlaknya telah bersih dari akhlak yang tercela. Imâm al-Ghazâlî memberikan juga sepuluh sifat mulia yang menjadi dasar bagi penanaman sifat-sifat mulia yang lainnya. Dengan memiliki akhlak yang mulia, yaitu akhlak yang bersumber dari al-Qur’an dan hadis, maka manusia akan memperoleh kebahagiaan di dunia dan akhirat. Di tengah kepayahan yang menimpa bangsa ini diperlukan kearifan tersendiri untuk memandang masa depan. Setidaknya bagi mereka yang sudah terlalu kaya karena korupsi atau manipulasi tanpa tersentuh hokum untuk mengNolkan dirinya ; memulai sesuatu yang baru dan lebih bernilai. Agar masyarakat bangsa ini memandang masa depan bukan sebagai penantian waktu yang tak kunjung selesai. Kalau tidak , maka waktu yang makin absurd seperti diperlihatkan tokoh Estragon dan Vladimir dalam lakon Menunggu Godot (Waiting for Godot) Samuel Beckett. 

Jadi sudah saatnya siapapun kita ,khususnya para elite politik harus mulai mau menNOLkan dirinya dan kemudian melakukan revolusi mental melalui perbaikan Akhlak. Yakinlah bila ini menjadi upaya kolektif maka kebaikan, kebenaran dan keadilan akan menjadi bagian yang menghiasi kehidupan berbangsa dan bernegara, apapun sistemnya! Kalau tidak maka masa depan bangsa ini seperti lentingan Bob Dylan dalam lagu ballada Blowing in the Wind: How many times must a man turn his head/and pretend that he just doesn't see/How many ears must one have/before he can hear people cry/How many deaths will it take till he knows/that too many people have died.

No comments:

Berbagi

  Sore jam 5 saya pulang ke rumah. Perut keroncongan.  “ Maaf. Kamu sudah makan ? Tanya saya ke supir taksi. “ Tadi siang sudah pak.” “ Bisa...